Promosi Jalur “Offroad” Tambora Terganjal Sinyal

Yadin Black, salah seorang trabasser saat berburu sinyal di jalur pendakian Tambora. (Suara NTB/ars)

Bima (suarantb.com) – Gunung Tambora dengan segala potensinya layak menyandang status geopark dunia. Kaldera pada ketinggian 2.340 Mdpl jadi favorit bagi wisatawan melalui tiga jalur yang dibuka. Tapi keinginan warga untuk ambil bagian mengelola dan mempromosikan, terganjal sinyal.

Pengakuan warga, khususnya kelompok pemuda yang peduli dengan wisata Gunung Tambora di Kecamatan Sanggar Kabupaten Bima, blank spot masih dirasakan. Kehilangan signal telepon seluler jadi pelengkap masalah terbatasnya akses komunikasi dan upaya promosi. Setidaknya itu dirasakan warga Desa Piong dan Desa Oi Saro yang terletak di kaki Gunung Tambora.

Keluhan itu dilontarkan komunitas pecinta alam, Porter, guide dan para Trekking Organizer (TO) di sana.
“Susah mau posting apa apa. Pemandangan bagus, jalur trekking, ndak bisa upload. Di sini masih susah sekali sinyal,” keluh Erfan Wahyudin kepada Suara NTB ditemui di Desa Oi Saro.

Pemilik komunitas wisata desa Moti La Halo ini punya keinginan besar mempromosikan Gunung Tambora, khususnya jalur offroad di pintu masuk Piong menuju kawah. “Mau bikin website harus kuat sinyal internet. Tapi itu masalahnya. Sinyal untuk SMS dan telepon saja masih susah, apalagi untuk internetan,” sebutnya.

Situasi ini mengakibatkan promosi jalur pendakian jadi kurang maksimal. Jika ingin lancar komunikasi dan berselancar di media sosial, mereka harus ke kampung sebelah. “Kebetulan yang ada sinyal itu di Desa Piong khusus di sebelah Timur sana yang posisinya agak tinggi,” ungkapnya. Yang didambakannya bisa mengakses internet langsung dari rumah seperti kemudahan warga kota.
Seorang Warga Negara Asing (WNA) Mr. Eric yang sudah menetap puluhan tahun di Bima, juga mengeluhkan hal sama. Ia giat mempromosikan Tambora melalui dunia maya. Tapi dorongan kuat soal kepeduliannya belum didukung akses internet memadai.

Pendakian Gunung Tambora dengan keanekaragaman vegetasi dan hamparan savana, jadi bonus bagi pendakian di Pancasila dan Doro Ncanga Kabupaten Dompu. Di kabupaten Bima jalur pendakian Kawinda Toi dan Piong. Masing masing jalur punya tantangan dan keistimewaan tersendiri.

Jalur Piong dikhususkan untuk pendakian menggunakan kendaraan offroad, melewati lima pos sebelum sampai puncak. Inilah potensi besar itu, tapi belum diimbangi dengan ramainya kunjungan. Hanya hari hari tertentu kendaraan offroad masuk melalui jalur taman nasional.

Sebagaimana pengalaman Suara NTB Kamis, 6 Juni 2019. Menanjak ke jalur pendakian sejak gapura masuk, terlihat lengang. Sejak pos I hingga pos II, tak satupun menemukan trabasser, baik yang menggunakan trail maupun kendaraan offroad double gardan 4×4. Hingga pos III dan pos empat menuju pos V, suasana masih lengang. Bisa jadi karena masih suasana lebaran sehingga para pendaki belum mengagendakan.
Tapi potret berbeda di jalur lain. Para pendaki lain susul menyusul melintas melalui jalur aspal menuju pintu masuk Pancasila dan Kawinda Toi di bagian Barat.

Salah seorang pendaki jalur offroad Yadin Black merasakan kurangnya upaya promosi yang memantik kunjungan wisata melalui jalur Piong. Ia yang mencoba ambil bagian dalam promosi melalui akun media sosialnya, juga merasakan kesulitan. Saat di pintu masuk sampai pos I, sinyal masih ada. Bahkan ia sempat berkirim kabar ke keluarganya di Mataram. Tapi signal timbul tenggelam. Yadin menahan keinginannya hingga mendapat akses internet bagus. “Mau kirim atau upload foto lelet. Kalau sekedar chat di pesan instan masih bisa,” ungkapnya.

Sampai di pos III, smartphone miliknya menangkap sinyal 4G meski tidak maksimal. Tapi setidaknya ia bisa mengirim foto. Sampai di Pos IV, sinyal benar benar blank.

Menurut Sekdes Oi Saro Kecamatan Sanggar, Hamdin Pion kondisi itu sudah berlangsung bertahun tahun di desanya. Kesulitan sinyal ponsel dan internet sudah akrab dengan kehidupan warga, padahal pengguna smartphone di kampungnya cukup dominan.

Soal potensi Sumber Daya Alam (SDM) yang ingin dipromosikan, tidak hanya soal Tambora, tapi potensi lain seperti Goa Kelelawar hingga wisata desa. “Ada rencana kami juga membuat website yang dikelola oleh desa. Tapi kami sedang upayakan melobi pemda agar ada tower khusus untuk provider di desa,” kata Hamdin. Surat sudah dilayangkan ke Dishubkominfotik Kabupaten Bima, namun belum ada respon apalagi proses survey dari operator telekomunikasi. “Usulan juga sudah kami sampaikan melalui Musrenbang Kecamatan. Mudah mudahan segera ada respon,” harap alumni FKIP Universitas Muhammadiyah Mataram ini. (ars)