Perjuangan Bidan Nurmila di Bajo Pulau, Tujuh Tahun Mengabdi Hanya Digaji Rp150 Ribu Sebulan

Nurmila

Bima (Suara NTB) – Menyebut gaji Rp150 ribu sebulan, bagi banyak orang mungkin terkesan lucu, atau memperihatinkan. Apa yang bisa di dibeli dengan pendapatan sekecil itu? Tapi tidak bagi Nurmila, Bidan di Desa Bajo Pulau, Kecamatan Sape Kabupaten Bima.

Mendapat gaji Rp150 ribu sebulan, dengan status sebagai bidan desa adalah biasa. Meskipun sebagai manusia, tentu secara materi ia juga berharap bisa mendapatkan lebih dari itu. Apa hendak dikata, keadaan mengharuskan demikian. Gajinya pun harus dialokasikan dari anggaran dana desa.

Tujuh tahun sudah Nurmila mengabdi di Bajo Pulau, sebuah pulau di ujung timur NTB. Pulau ini termasuk kategori pulau tertinggal, dan terluar. Dengan pendapatan yang sangat jauh dari standar layak Upah Minimum Provinsi (UMP) NTB 2019 sebesar Rp2. 012. 610, Nurmila tetap bertahan menjadi bidan di Bajo Pulau.

Nurmila, lulusan Akademi Kebidanan Bhakti Kencana Mataram ini masih bertahan. Padahal, dalam ketentuan Undang-Undang Ketenagakerjaan, standar pengupahan harus menggunakan UMP, atau UMK yang berlaku.

Nurmila nampak cukup sibuk, ketika Bank Indonesia dan TNI AL melaksanakan kegiatan Ekspedisi Laskar Nusa 2019 di Desa Bajo Pulau, Rabu,  13 Maret 2019. Ia turut membantu kegiatan kesehatan gratis yang dilaksanakan di desa ini.

Mengharapkan gaji Rp150 ribu sebulan, tentu tidak mungkin. Sebab kebutuhan hidupnya, bersama kelurga kecilnya masih jauh diatas itu. Namun Nurmila bertahan. Alasannya, permintaan masyarakat setempat agar ia tak keluar meninggalkan Bajo Pulau mencari pekerjaan dengan pendapatan yang lebih layak menurutnya sangat tak mungkin ditolak. Karena itu, ia membuang jauh-jauh orientasi financial dari pengabdiannya  ini.

Untuk menyiasati kecilnya pendapatan bulanan, ia mencoba “menjual” jasa, misalnya dengan pemasangan alat kontrasepsi bagi perempuan yang sudah menikah di Bajo Pulau. Nurmila memiliki seorang anak, suaminya berprofesi sebagai videographer, sekaligus fotografer untuk kegiatan-kegiatan resepsi pernikahan dan acara-acara yang diselenggarakan masyarakat setempat.

Tiga kali ia mendaftar menjadi honorer daerah, namun sayang , namanya tak masuk perioritas. Sekali mendaftar menjadi CPNS, ia juga belum beruntung. Nurmila memutuskan untuk bertahan menjadi bidan sukarela di desanya.

Perjuangannya membantu masyarakat setempat untuk melahirkan bukanlah perkara mudah. Bahkan, ia harus menerima kenyataan pahit. Anak pertamanya meninggal dunia 16 jam setelah lahir. Akibat terlalu memporsir waktu untuk membantu warga yang membutuhkan bantuannya. Bahkan, beberapa saat sebelum melahirkanpun, ia masih tetap memberikan pelayanan.

“Anak saya yang pertama meninggal setelah lahir. Sudah pecah ketuban duluan. Akibatnya keracunan. Pecah ketuban duluan karena mungkin terlalu menguras tenaga dan waktu. Tapi mau bagaimana lagi, kita bantu orang untuk perjuangan hidup dan mati,” kata Nurmila.

Anaknya yang kedua juga hampir mengalami nasip yang sama seperti anak pertamanya. Pecah ketuban terlebih dahulu sebelum lahir. Untungnya ancaman risiko itu dapat ditangani. Desa Bajo Pulau, termasuk adalah desa tertinggal. Salah satu kendalanya adalah terbatasnya pasokan listrik.

Disana, listrik hanya menyala sore hari sampai pagi hari. Selebihnya, kembang kempis. Dalam membantu masyarakat, tak jarang juga ia mengalami kendala non teknis. Misalnya, lampu padam yang mengakibatkan ia harus menyelesaikan proses melahirkannya di tengah kegelapan.

“Hanya pakai lampu penerangan dari hape senter yang lama. Seringkali begitu. Makanya kalau lampu hidup, yang pertama kita perhatikan cas hape dan power bang,” demikian Nurmila.

Harapannya, pemerintah juga memperhatikan kebutuhan mendasar di Bajo Pulau. Agar tak seterusnya menjadi daerah tertinggal. (bul)