Bangunan Kumuh, RSUD Bima Sangat Memprihatinkan

Bima (Suara NTB) – Sejak beroperasi secara resmi tahun 2011 silam. Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Bima hingga saat ini kondisinya sangat memprihatinkan. Belum berjalan optimal dalam memberikan pelayanan seperti rumah sakit kebanyakan.

Bahkan beberapa bangunan kumuh dan berserakan sampah seperti tidak terawat. Selain itu, RSUD yang berada di jalan lintas Sumbawa-Bima atau tepatnya di Desa Sondosia Kecamatan Bolo itu ternyata masih kekurangan peralatan medis.

Hal tersebut terungkap saat salaseorang keluarga pasien bernama Firdaus, mengeluhkan pelayanan RSUD setempat. Anaknya yang menderita mancret dan muntah dirawat di ruang IGD diarahkan untuk mengecek ke Laboratorium Puskemas Bolo.

“Saya kaget ketika dokter selesai memeriksa anak saya, agar mengecek ke Laboratorium Puksemas Bolo yang jaraknya sekitar 15 kilometer dari RSUD,” katanya kepada Suara NTB, Selasa (30/1).

Pada saat itu, warga Desa Rada Kecamatan Bolo ini tidak tinggal diam. Ia mengaku sempat mempertanyakan mengapa harus ke Puskesmas Bolo yang skalanya lebih kecil daripada RSUD untuk mengecek kondisi anaknya

“Dokter menjawab alat medis di laboratorium tidak ada sehingga disarankan ke Puskesmas Bolo,” ujarnya.
Meski begitu, Firdaus sangat kecewa dan menyayangkan hal tersebut. Pasalnya dengan sekelas RSUD yang Nampak megah dari luar. Namun didalamnya sangat minim alat medis yang memadai.
“Selain alat medis yang kurang. Kondisi di dalamnya sangat kumuh. Seperti tidak bukan rumah sakit untuk merawat orang sakit,” ujarnya.

Direktur RSUD Kabupaten Bima, Dr. Adi Winarko tidak menampik keluhan keluarga pasien tersebut terkait kondisi RSUD dan alat medis yang belum memadai di Laborarium. Khusus alat medis Kata dia, diakui belum lengkap sehingga diajukan ke Puksesmas.“Kita belum memiliki mikroskrop untuk memeriksa pasien,” katanya.

  Banjir Landa Enam Desa di Sape

Menurutnya, alat tersebut baru diusulkan dalam rencana penggunaan anggaran tahun 2018 ini. Menurutnya pengadaan peralatan medis tersebut rencananya menggunakan dana DAK dan sudah masuk E-Planning Kemenkes.

“Mudah-mudahan kekurangan alat medis di tahun ini bisa teratasi. Tapi yang jelas kami belum tahu pasti kapan baru direalisasi, tergantung pemerintah pusat,” katanya.

Winarkomenambahkan alat medis tersebut, baru diadakan sekarang karena tergolong sangat mahal. Sementara anggaran yang dikelola oleh RSUD setempat setiap tahunnya hanya berkisar Rp 600 juta.
“Dana ini cukup untuk membeli dan pengadaan alat medis yang terjangkau serta anggaran operasional setiap tahun,” pungkasnya. (uki)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here