Tak Ada Jembatan, Petani di Bima Bertaruh Nyawa Seberangi Sungai

Sejumlah petani Desa Boke, Kecamatan Sape, Kabupaten Bima memikul kebutuhan lahan pertanian saat menyeberangi sungai karena tidak ada jembatan penghubung, Minggu, 30. Desember 2018. (Suara NTB/Ist)

Bima (Suara NTB) – Musim hujan biasanya adalah berkah bagi petani. Namun, hal ini belum tentu dialami petani di Desa Boke Kecamatan Sape. Mereka justru seringkali harus bertaruh nyawa di musim hujan. Menyeberangi derasnya arus sungai menuju lahan pertanian. Sebab, tidak ada jembatan penghubung ke lahan mereka.

Para petani di desa ini sudah terbiasa dengan kondisi ini sejak satu tahun terakhir. Tepatnya saat jembatan di belakang desa tersebut mengalami kerusakan akibat diterjang banjir. “Padahal jembatan ini digunakan oleh petani untuk ke sawah dan kebun. Tapi hingga saat ini belum juga diperbaiki,” kata warga setempat, Irfan, Minggu (30/12).

Irfan mengaku prihatin atas kondisi tersebut. Karena menurutnya jembatan tersebut merupakan akses penghubung alternatif memudahkan petani yang memiliki lahan atau

area pertanian di belakang Desa. “Hanya saja ketika musim penghujan tiba, seolah menjadi ancaman karena petani harus melintas sungai yang deras menuju ke lahan miliknya,” katanya.

Atas persoalan tersebut, Ia mengaku masyarakat sudah mengeluhkan dan mendesak pembangunan jembatan tersebut. Hanya saja sampai saat ini belum ada respon dari Pemerintah terkait. “Sudah kita keluhkan dan mendesak agar jembatan ini dibangun. Tapi belum juga ada respon,” katanya.

Ia berharap Pemerintah segera membangun jembatan alternatif agar memudahkan akses lintas para petani. Apalagi saat tiba masa panen nanti yang beban dan medan yang ditempuh cukup berat dan sulit. “Tidak mungkin memikul beban hasil pertanian yang mencapai ratusan kilo, karena jaraknya cukup jauh dari Desa. Satu-satunya adalah membangun jembatan,” pungkasnya. (uki)