Jumlah Tes PCR di NTB Belum Penuhi Standar WHO

Hj. Sitti Rohmi Djalilah (Suara NTB/nas), Wiku Adisasmito (Suara NTB/ist)

Mataram (Suara NTB) – Satgas Covid-19 Nasional menyebutkan baru 16 provinsi yang mencapai target yang ditetapkan World Health Organization (WHO) mengenai jumlah tes Polymerase Chain Reaction (PCR) satu persen dari jumlah penduduk. Dari 16 provinsi tersebut, NTB termasuk daerah yang belum memenuhi jumlah tes PCR sesuai  standar yang ditetapkan WHO.

Wakil Gubernur (Wagub) NTB, Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalilah, M.Pd., mengakui bahwa jumlah tes PCR atau pemeriksaan sampel masih rendah. Menurut Wagub, banyak faktor yang menjadi penyebab masih rendahnya jumlah tes PCR di NTB.

‘’Kita akui memang jumlah sampel diperiksa memang masih rendah di NTB ini. Penyebabnya adalah banyak hal,’’ kata Wagub dikonfirmasi usai menghadiri rapat paripurna di DPRD NTB, Jumat, 4 Desember 2020.

Dari sisi masyarakat, banyak yang masih tidak mau diperiksa ketika pernah melakukan kontak erat dengan pasien terkonfirmasi positif Covid-19. Jika ada yang memiliki gejala batuk dan pilek, kadang tidak mau dirapid test. Daripada dilakukan pemeriksaan, mereka lebih memilih isolasi mandiri di rumah.

Kemudian dari sisi aturan, kata Wakil Ketua Satgas Covid-19 ini, berdasarkan pedoman pencegahan dan pengendalian Covid-19 revisi kelima. Orang yang kontak erat dengan pasien Covid-19 positif hanya perlu menjalankan isolasi mandiri 14 hari, tak perlu melakukan tes PCR. Jika selama 14 hari tak ada gejala, maka isolasi bisa disudahi.

‘’Hal-hal seperti itu membuat agak kesulitan kita untuk setiap orang yang tak bergejala itu diswab, sulit sekarang,’’ katanya.

Sehingga, hal yang penting dilakukan sekarang ada mematuhi protokol kesehatan, dengan tetap menggunakan masker, jaga jarak dan cuci tangan. Menurut Wagub, mematuhi protokol kesehatan merupakan satu-satunya cara yang bisa diandalkan sekarang.

‘’Karena memang ada beberapa info juga, orang dirapid positif nggak mau diswab. Lebih baik pulang isolasi mandiri di rumah,’’ tuturnya.

Hal inilah, kata Wagub yang menjadi kendala sekarang. Karena susah juga memaksa orang untuk melakukan tes swab.

‘’Kita mau memaksa,  turunin polisi kewalahan juga. Jadi, pokoknya sekarang kita memahami tentang Covid bahwa ini virus, ndak bisa dilihat, lindungi diri sendiri dan orang terdekat kita semua dengan kepatuhan terhadap protokol kesehatan,’’ ujarnya mengingatkan.

Data Dinas Kesehatan NTB, jumlah sampel Covid-19 yang diperiksa sampai 2 Desember 2020 sebanyak 42.206 sampel. Dengan hasil pemeriksaan, 4.804 positif, 2.435 positif ulangan dan 34.967 negatif Covid-19.

Sebanyak 42.206 sampel yang telah diperiksa tersebar di 10 kabupaten/kota. Dengan rincian, Kota Mataram 12.545 sampel, Lombok Barat 5.942 sampel, Lombok Tengah 2.778 sampel, Lombok Utara 1.093 sampel, Lombok Timur 3.997 sampel, Sumbawa Barat 1.081 sampel, Sumbawa 5.107 sampel, Dompu 2.550 sampel, Bima 3.650 sampel dan Kota Bima 1.994 sampel. Di luar 10 kabupaten/kota tersebut ada juga pemeriksaan sebanyak 1.469 sampel.

Dalam keterangan tertulis yang diterima, Jumat, 4 Desember 2020, Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Prof. Wiku Adisasmito mengatakan dalam satu bulan terakhir, terdapat 16 provinsi yang mencapai target WHO terkait jumlah tes PCR. Bahkan dari 16 provinsi tersebut, ada 3 provinsi yang konsisten mencapai standar WHO dalam 5 minggu terakhir yaitu DKI Jakarta, Kalimantan Timur dan Papua. Untuk provinsi lainnya adalah Riau, Papua Barat, Sumatera Barat, Sulawesi Utara, DI Yogyakarta, Bali, Jawa Tengah, Kalimantan Selatan, Banten, Kalimantan Tengah, Sulawesi Selatan, Gorontalo dan Sulawesi Barat.

Capaian 16 provinsi tersebut diharapkan dapat diikuti oleh provinsi-provinsi lainnya. Ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mengoptimalkan tracing (pelacakan). Jika salah satu kasus positif telah dideteksi, maka segeralah mendata kontak erat kasus tersebut dan lakukan testing lanjutan. Karena tracing yang berjalan dengan baik juga dapat berkontribusi terhadap peningkatan jumlah testing.

Merujuk pada penelitian dari Abbot et Al (2020), bahwa testing dan tracing yang efektif mampu mengendalikan situasi pandemi Covid-19 dalam kurun waktu 3 bulan. Hal ini juga sesuai temuan Kretzscamer et Al (2020) bahwa mengoptimalkan cakupan testing dan tracing serta meminimalkan penundaan tracing dapat mencegah hampir 80 persen transmisi (penularan).

Pada prinsipnya testing dan tracing adalah dua upaya yang tidak dapat dipisahkan, harus dilakukan secara linear dengan treatment (perawatan) lanjutan jika diperlukan. ‘’Oleh karena itu masifkan 3T (testing, tracing, dan treatment ) untuk dapat menekan angka kasus dan kematian serta meningkatkan kesembuhan nasional,’’ pesannya.

Ia menyebutkan, jumlah testing (pemeriksaan) Covid-19 secara nasional hingga akhir November 2020 sudah mendekati target yang ditetapkan World Health Organization (WHO). Kapasitas testing Indonesia per akhir November sudah mencapai 90,64 persen. Jika disesuaikan populasi Indonesia 267 juta jiwa, maka diperlukan pemeriksaan PCR Covid-19 kepada 267 ribu orang per minggu. (nas)