Jumlah PKL di Mataram Meningkat

Mataram (Suara NTB) – Sepanjang 2017 ini jumlah PKL di Kota Mataram meningkat pesat. Salah satu penyebabnya ialah dibukanya penyeberangan langsung Lembar-Surabaya sejak beberapa waktu lalu. Menurut Ketua APKLI NTB, H. Masbukhin kepada Suara NTB, peningkatan jumlah PKL ini mencapai sekitar 30 persen atau sekitar 200 orang.

“Kemarin saya hitung waktu awal-awal itu bisa sampai 30 persen. Tapi ada yang saya berikan (izin), ada yang tidak saya berikan. Saya seleksi lagi dan ada yang saya arahkan ke luar (Mataram), saya arahkan ke Lombok Barat,” jelasnya.

Iklan

Masbukhin mengatakan sampai saat ini masih banyak PKL yang datang meminta izin atau mendaftar kepadanya untuk berjualan dan membuka lapak di Mataram. Di awal pembukaan penyeberangan langsung itu, ia mengatakan PKL datang dari Pulau Jawa secara bergerombol atau jumlahnya cukup banyak. Mereka kebanyakan membuka usaha kuliner atau warung lalapan.

“Awal buka (penyeberangan langsung) itu gerombolan mereka datang. Ayam penyet ini yang paling banyak,” ujarnya.

Saat ini jumlah pendaftar yang masuk ke APKLI NTB sebanyak 50 PKL. Rata-rata PKL ini memiliki modal usaha awal sebesar Rp 25 juta sampai Rp 50 juta. Menurut Masbukhin, para pedagang ini memiliki jaringan. Kebanyakan mereka memiliki hubungan keluarga dan sama-sama membuka usaha di bidang yang sama.

“Ada saja yang masukkan daftar karena kakaknya belum datang dari Jawa. Adiknya di sini yang sudah mulai jualan. Mereka punya link di sini,” paparnya.

Jika jumlah PKL dibandingkan antara pendatang dengan warga lokal, ia menyebutkan perbandingannya cukup jauh atau persentase PKL yang berasal dari luar Mataram jumlahnya lebih banyak dibandingkan warga Mataram sendiri.

“Jauh (persentasenya). Jadi warga lokal yang jualan itu belum sampai 30 persen. Sedikit sekali warga lokal. Justru itu yang sangat saya sayangkan,” ujarnya.

Seharusnya warga lokal memiliki semangat yang sama membuka usaha seperti warga pendatang ini. Kesukseskan para pendatang berusaha di Mataram harus menjadi penyemangat bagi warga lokal. Minimnya PKL dari warga lokal menurutnya bukan karena keterbatasan modal. Untuk menciptakan semangat berwirausaha ini perlu edukasi.

“Lebih berani untuk membuka usaha ini kan butuh mental. Tidak berani berspekulasi juga dan tidak ada pembinaan,” jelasnya. (ynt)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here