Jumlah Pendaki Rinjani akan Dibatasi

Mataram (suarantb.com) – Pihak Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) berniat batasi jumlah pengunjung ke Rinjani. Rencana ini berdasarkan padatnya wisatawan yang mendaki ke puncak tertinggi ketiga di Indonesia tersebut. Demikian penjelasan Kasubag Tata Usaha TNGR, Mustafa Imran Lubis dalam acara konferensi pers di Media Center Pemprov NTB, Selasa, 4 Oktober 2016.

Diakui Imran, pada perayaan 17 Agustus lalu jumlah pengunjung Rinjani menyemut. “Saat tujuh belasan kemarin, Rinjani ramainya sudah seperti pasar. Mau naik ke puncaknya saja kita harus berbaris antre panjang,” jelasnya.

Iklan

Pembatasan jumlah pengunjung ini bukan tanpa alasan. Jika pengunjung yang datang melebihi kapasitas, bisa timbul berbagai masalah yang mengancam Rinjani. Masalah sampah dan penuhnya pengunjung juga mengganggu kenyamanan saat menikmati keindahan Rinjani.

“Kalau terlalu ramai, kita kan tidak bisa menikmati keindahan alam Rinjani dengan tenang dan aman. Selain itu, semakin sedikit pengunjung, makin sedikit sampah yang ditimbulkan,” ucapnya.

Rinjani2
Tercatat dari April-September 2016 sebanyak 87.645 wisatawan berkunjung ke Rinjani, yang terdiri atas 29.458 wisatawan asing dan 58.179 wisatawan lokal. Jumlah ini terbilang cukup banyak untuk rentang waktu hanya enam bulan. Dengan PNBP per 30 September 2016 mencapai Rp 4,8 miliar, meningkat dibanding tahun 2015 yang mencapai Rp 4,4 miliar.

Salah satu langkah yang akan ditempuh TNGR untuk membatasi jumlah pengunjung adalah dengan menerapkan sistem pemesanan daring (online booking) untuk pendaki. Dengan cara ini, hanya pengunjung yang sudah mendaftar yang bisa masuk. Dan jumlahnya pun sudah ditentukan berdasarkan kuota yang ditetapkan TNGR. “Jadi nanti kalau kuota sudah penuh, mereka tidak bisa mendaftar lagi,” tambahnya.

Daya tarik Rinjani dengan Segara Anaknya sangat besar. Kendati saat ini dalam situasi awas karena erupsi Gunung Barujari tidak menyurutkan minat wisatawan untuk mendaki. “Malah saat sekarang ini, wisatawan khususnya wisatawan asing berani bayar mahal untuk bisa mendekat ke Rinjani. Tapi tetap kita larang, demi keselamatan mereka sendiri juga,” jelasnya.

Selain pembatasan pengunjung, pihak TNGR juga berniat menambah pembangunan menara pemantau Rinjani dan pengadaan program manajemen keamanan pendakian (safety trekking management). Program ini akan dilaksanakan bekerja sama dengan Balai Wilayah Sungai (BWS) 1 untuk menjelaskan bagaimana teknik pendakian yang aman.

Sedangkan rencana pembangunan tiga menara tambahan ditujukan untuk memantau aktivitas pengunjung Rinjani secara langsung atau real time melalui jaringan internet. “Tambahan tiga tower ini nanti akan bisa menjangkau 70 persen wilayah Rinjani melalui kamera pengawas,” tambahnya. (ros)