Jumlah Pasien Covid-19 Meningkat, Rumah Sakit Darurat Belum Dibutuhkan

Nyoman Swandiasa. (Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – Jumlah pasien positif Covid-19 di Kota Mataram mengalami peningkatan. Perawatan serta karantina mandiri difokuskan di fasilitas kesehatan dan rumah pasien. Penanganan pasien di rumah sakit darurat maupun pusat karantina belum dibutuhkan.

Data tim gugus tugas Covid-19 Kota Mataram, pasien yang menjalani perawatan atau karantina 182 pasien. Pasien sembuh 1.346 orang. Juru Bicara Tim Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Drs. I Nyoman Suwandiasa mengatakan, pasien Covid-19 yang menjalani perawatan di rumah sakit kurang dari 20 orang. Sedangkan, rumah sakit menyiapkan 50 tempat tidur. Sebagian pasien positif Covid-19 tanpa gejala menjalani isolasi mandiri di rumah. Rumah yang dijadikan isolasi mandiri pun harus memenuhi syarat. Minimal memiliki tempat istirahat bagi pasien yang terpapar virus corona. “Sejauh ini, masih belum dipikirkan untuk itu. Karena di rumah sakit sendiri kurang dari 20 orang dirawat,” kata Nyoman.

Iklan

Pasien Covid-19 yang menjalani isolasi mandiri ini diawasi oleh tenaga kesehatan dari fasilitas kesehatan terdekat. Artinya, pengecekan kesehatan serta aktivitas lainnya dikontrol.

Meskipun terjadi peningkatan kasus, tetapi tim gugus tugas belum ada rencana mengaktifkan kembali pusat karantina dan rumah sakit darurat. “Saya kira belum karena pasien dirawat tersebar di rumah sakit,” ucapnya.

Direktur RSUD dr. H. Lalu Herman Mahaputra mengatakan, penambahan jumlah pasien positif Covid-19 tidak ada masalah. Saat ini, pihaknya hanya merawat 15 pasien dengan jumlah 50 tempat tidur yang disediakan. Penambahan kasus ini tidak semua dengan gejala. Pasien banyak melakukan perjalanan kemudian dirapid antigen sehingga positif, terutama klaster perkantoran. “Kita ingin peningkatan kasus ini sampai mana titiknya nanti,” katanya.

Melonjaknya kasus ini akan dilacak sehingga menemukan kasus setinggi mungkin. Menurutnya, tidak perlu takut terjadinya penambahan selama kondisi pasien stabil. Jack, sapaan akrabnya melihat rata-rata pasien yang menjalani isolasi mandiri setelah diswab hasilnya negatif. Isolasi mandiri harus benar – benar diperhatikan dengan baik karena menjadi potensi perawatan di rumah sakit. Oleh karena itu, tenaga kesehatan di rumah diturunkan mengawasi karena ini menjadi akselarasi penyembuhan. “Kalau ini tidak diperhatikan akan kerepotan rumah sakit,” ucapnya.

Pengaktifan kembali pusat karantina maupun rumah sakit darurat akan diputuskan oleh tim gugus tugas. Pihaknya terlebihi dahulu akan memonitor. Jika dianggap perlu maka akan disampaikan melalui tim gugus tugas penanganan covid-19. “Kalau itu nanti Pak Wali yang putuskan selaku ketua tim gugus tugas,” demikian kata dia. (cem)

Advertisementfiling laporan pajak Jasa Pembuatan Website Profesional