Jukir Liar Marak di Kota Bima, Pungut Parkir Hingga Rp10 Ribu

0
Aktivitas Jukir liar yang memungut biaya parkir secara ilegal di halaman parkiran Aula Paruga Convention Hall Kota Bima.(Suara NTB/Uki)

Kota Bima (Suara NTB) – Jukir parkir (jukir) liar yang memungut biaya parkir masih marak di wilayah Kota Bima. Bahkan Jukir ilegal yang tak mengenakan seragam itu, memungut biaya parkir antara Rp5 ribu sampai dengan Rp10 ribu persatu kendaraan tanpa diberikan karcis.

Beberapa titik yang masih marak Jukir liar tersebut seperti di Aula Paruga Convention Hall dan Gedung Seni Budaya (GSB) Kota Bima. Dua tempat ini, kerap dimanfaatkan Jukir liar untuk memungut parkir kepada warga yang menghadiri kegiatan sosial kemasyarakatan seperti acara pernikahan.

IKLAN

Tarif biaya parkir yang dipungut berdasarkan jenis kendaraan. Sepeda motor dipatok atau dikenakan tarif parkir antara Rp2 ribu sampai dengan Rp5 ribu. Sedangkan kendaraan roda empat (mobil) dikenakan tarif Rp5 ribu sampai dengan Rp10 ribu.

Tidak hanya di dua tempat tersebut, berdasarkan pantauan Suara NTB, jukir liar yang memungut biaya parkir tidak sesuai dengan ketentuan tersebut, juga terjadi di lapangan Serasuba serta sepanjang pantai Amahami Kota Bima.

Menanggapi hal itu, Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Bima, Drs. M. Farid M.Si, mengakui ada beberapa area atau titik di wilayah di Kota Bima yang kerap dijadikan praktek pungutan liar (pungli) oleh oknum-oknum warga berkedok parkir. “Ada beberapa titik di Kota Bima yang memang dijadikan lahan untuk menarik atau memungut biaya parkir secara ilegal,” katanya.

Ia menyebutkan maraknya jukir liar tidak hanya di Aula Paruga Convention Hall,  GSB, Serasuba dan sepanjang pantai Amahami Kota Bima. Namun hal serupa juga terjadi di Pasar Amahami dan Terminal Dara. “Begitupun di RSUD Bima. Praktek jukir liar yang memungut biaya parkir ilegal marak terjadi. Bahkan hal ini terjadi sudah bertahun-tahun lamanya,” katanya.

Lebih lanjut Farid mengatakan, pihaknya pernah berupaya melakukan penertiban berkali-kali. Kemudian melakukan pembinaan hingga penindakan. Hanya saja upaya tersebut tidak membuahkan hasil. “Sudah sering kita tertibkan, bina dan tindak. Tapi tetap diabaikan begitu saja. Bahkan, Jukir liar ini terus menjamur, termasuk di 71 titik parkir yang kita kelola selama ini,” katanya.

Untuk menghindari pungli Jukir liar, Ia menghimbau sekaligus berharap kepada warga Kota Bima agar tidak perlu membayar biaya parkir apabila jukirnya tidak mengenakan seragam resmi dan memberikan karcis parkir. “Tidak perlu membayar, jika ada jukir meminta parkir tanpa memberikan karcis dan kenakan seragam resmi. Karena itu ilegal dan hasilnya tidak disetor ke kas daerah,” pungkasnya. (uki)