Jualan Kacang Rebus untuk Tambahan Biaya Sekolah

Mataram (suarantb.com) – Di sekitar Jalan Sriwijaya dan Jalan Bung Karno, Mataram banyak anak penjual kacang rebus. Mereka memanfaatkan momen lampu merah untuk menawarkan dagangan kacang dan pisang rebus pada pengendara.

Muis adalah salah satu dari belasan anak yang terjun menjadi penjaja kacang rebus di lampu merah. Ditemui suarantb.com saat duduk istirahat minum, Muis menceritakan ia berasal dari Dusun Karang Rumak Desa Kuripan, Lombok Barat. Ia memang setiap hari berjualan kacang dan pisang rebus di lampu merah Sriwijaya.

Iklan

“Saya jualan setiap hari. Kalau hari sekolah, jualannya setelah pulang sekolah sampai sore. Kalau Minggu, jualan mulai pukul sembilan sampai Ashar,” jelasnya.

Riwayat Muis berjualan kacang rebus di lampu merah sudah terbilang lama. “Saya jualan dari puasa lalu. Teman yang lain banyak yang baru ikut jualan,” ujarnya sambil menyedot es kelapa muda yang dibelinya.

Ia awalnya diajak seorang paman untuk berjualan di Mataram. Dengan bermodalkan hasil panen kacang tanah dan pisang kepok yang direbus sendiri, mereka ikut sang paman berjualan di area-area lampu merah di Mataram. “Kacang dan pisangnya itu kita tanam sendiri, yang bagian merebus itu bibi saya,” ungkapnya.

Anak-anak penjual kacang rebus ini semakin menjamur. Karena di beberapa lampu merah bisa ditemui anak yang menjual kacang rebus ataupun koran.

Alasan Muis memilih untuk berjualan kacang rebus sangat sederhana. “Saya disuruh Ibu jualan, buat tambah-tambah biaya keperluan sehari-hari. Buat beli peralatan sekolah juga,” ujarnya.

Walaupun disuruh berjualan oleh orang tuanya, namun di tak nampak raut terpaksa di wajah Muis dan kawan-kawan dalam menjajakan dagangannya. Mereka justru sesekali bermain dan bercanda di sela-sela menanti sinyal lampu merah menyala.

Pendapatan per hari murid yang duduk di kelas enam MI Kuripan ini bisa mencapai Rp 200 ribu jika dagangannya ludes terjual. Dari hasil itu, untung yang diperoleh hanya Rp 50 ribu. Untungnya, sang paman tidak menarik potongan dari hasil dagangan Muis. “Hasil dagangan ya dihitung masing-masing. Tidak ada yang dipotong sama tuaq (paman). Hasil dagangan itu semuanya saya kasih Ibu,” kata dia.

Bersama dengan Muis, kerabat dekatnya, Maulana juga ikut berjualan. Murid kelas empat SDN 4 Karang Rumak ini berangkat berjualan setiap hari bersama Muis. Mereka juga tinggal di dusun yang sama.

Kerja keras anak-anak ini memang patut diacungi jempol. Melawan panasnya aspal dengan bertelanjang kaki menawarkan dagangan dari pengendara satu ke yang lain. Dan itu mereka lakukan setiap hari, tanpa beban bahkan dengan riang. Hanya demi lembaran rupiah untuk makan.

Di luar sana masih banyak Muis dan Maulana lainnya yang juga berjuang bertahan hidup. Dengan mengabaikan bahaya yang mengancam mereka yang di jalan raya. (ros)