Jemput Takdir Jadi Tuan Rumah PON, DPRD NTB Galang Dukungan Politik

Jakarta (Suara NTB) – DPRD NTB menyadari bahwa tanpa dukungan politik yang kuat, upaya NTB dan Bali menjadi tuan rumah bersama PON 2024 bisa kandas. Karena itulah, upaya menggalang dukungan politik pun terus diperkuat.

Salah satu upaya yang ditempuh untuk memperkuat dukungan politik adalah dengan mengkomunikasikan pencalonan NTB dan Bali ini kepada sejumlah wakil rakyat dan senator asal NTB. Menyadari pentingnya upaya ini, Wakil Ketua DPRD NTB, H. Abdul Hadi, SE, MM dan Wakil Ketua Komisi V DPRD NTB, H. MNS. Kasdiono pun menemui Anggota DPR RI Dapil NTB, Ir. H. Nanang Samodra KA, M.Si dan Anggota DPD RI, Hj. Baiq Diyah Ratu Ganefi di Jakarta, Kamis, 12 April 2018.

Iklan

Bersama rombongan Abdul Hadi dan Kasdiono, hadir pula para wartawan yang tergabung dalam forum wartawan DPRD NTB bersama pihak Diskominfotik NTB.

Dalam dialog bersama Nanang Samodra, Abdul Hadi menegaskan bahwa upaya untuk mempersiapkan diri serta menggalang dukungan dalam pencalonan tuan rumah sudah mulai dikerjakan secara kolektif. Baik oleh KONI NTB, Pemprov bersama DPRD NTB hingga elemen pers di NTB. Menurutnya, pertemuan dengan Nanang juga merupakan bagian dari upaya ini.

“Kami ke sini untuk menjemput takdir kita untuk menjadi tuan rumah PON 2024,” tegasnya.

Hadi mengutarakan bahwa berdasarkan hasil pertemuan dengan KONI, pihaknya mendapati adanya apresiasi KONI pusat untuk persiapan penyelenggaraan PON di NTB dan Bali.

Sikap ini menurutnya juga bisa dirasakan dari hasil komunikasi rekan-rekannya sesama DPRD NTB yang juga tengah ‘merayu’ daerah lain untuk mendukung NTB dan Bali.

Hadi menegaskan, ada sejumlah hal yang menjadikan NTB dan Bali lebih istimewa dalam proses pencalonan tuan rumah pada 24 April 2018 mendatang. Salah satunya adalah akan adanya konsep sport tourism yang akan ditonjolkan.

“Kami lihat itu bisa menjadi poin yang bisa kami jual. Kami kemas dalam sport tourism. Jadi mereka bisa ikut menikmati alam di NTB dan Bali.”

Selain itu, ujar Hadi, posisi NTB dan Bali yang secara geografis berada di tengah-tengah akan memberikan kemudahan mobilitas bagi daerah lain yang menjadi peserta PON.

“Karena di tengah, kita mudah dijangkau,” imbuhnya.

Sementara itu, Kasdiono memaparkan tiga slogan penyelenggaraan PON 2024 yaitu olahraga, pariwisata dan budaya (sport, tourism and culture).

Sportivitas menjadi salah satu elemen kunci yang ingin dilekatkan pada penjenamaan PON 2024 jika dilaksanakan di NTB dan Bali.

Menurut Kasdiono, sebagai daerah papan tengah dalam bursa prestasi PON, pihaknya akan bersikap tahu diri. Meski telah melakukan berbagai upaya pembinaan prestasi, namun NTB tidak akan berambisi membidik juara umum. Hal inilah yang bisa menguntungkan NTB karena NTB akhirnya lebih dimungkinkan untuk menjadi tuan rumah yang netral.

Kasdiono tak menampik bahwa, adanya ambisi tuan rumah untuk menjadi juara umum sangat mungkin menjadikan penyelenggaraan PON terciderai sisi sportivitasnya.

“Selama ini orang jadi tuan rumah karena ada target mereka jadi juara umum,” ungkap Kasdiono. “Jadi insya Allah tidak akan ada kursi melayang, tidak ada lagi yang menolak hasil PON, dan sebagainya,” ujarnya sembari mengingatkan sejumlah insiden yang pernah melibatkan tuan rumah PON.

Kasdiono mengutarakan, NTB dan Bali telah menjalin nota kesepahaman dan NTB telah memilih untuk menggelar 17 dari 56 cabor yang dipertandingkan di PON.

“Kita pilih pertandingan cabor yang tidak terlalu sulit membangun arenanya,” ujar Kasdiono.

Ia mencontohkan, beberapa cabor tersebut seperti dansa, catur, voli pasir hingga menyelam. Kasdiono menambahkan bahwa pihaknya juga membutuhkan perbaikan di sejumlah fasilitas pertandingan. Seperti misalnya, lintasan lari di GOR 17 Desember yang harus ditambah dua lintasan lagi.

Terkait persoalan ini, Nanang Samodra mengutarakan di awal pertemuan soal pentingnya membangun kaukus bersama para anggota DPR dan DPD RI Dapil NTB. Dengan demikian, upaya menggalang dukungan politik bisa dibahas bersama di kaukus ini.

“Silakan teman-teman pers juga bisa mendorong terbentuknya kaukus parlemen NTB ini. Tujuannya untuk membahas apa-apa yang menjadi kebutuhan bersama, termasuk pencalonan tuam rumah PON ini,” ujar Nanang.

Nanang sendiri mengaku telah menginventarisir sejumlah rekan separtainya di Komisi X guna ikut mendukung pencalonan NTB dan Bali. “Ada Pak Ibas juga di situ,” ujar Nanang sembari menambahkan, seorang rekannya yang merupakan Anggota DPR RI Dapil Bali juga telah menyatakan semangat yang sama.

Terkait persiapan teknis, Nanang yang telah mendengarkan pemaparan tersebut pun memberikan apresiasinya. “Saya senang sekali Bali dan NTB sudah ada kesepakatan. Jadi kita juga semakin bersemangat,” tandasnya.

Sebelum Nanang, rombongan juga menggelar pertemuan serupa dengan Baiq Diyah Ratu Ganefi. Dalam pertemuan, Diyah pun mengutarakan dukungan dan kesiapannya untuk ikut menggalang dukungan politik bagi suksesnya pencalonan NTB dan Bali sebagai tuan rumah bersama PON 2024. (aan/*)