Jemput Bola, Upaya Pemprov NTB Gaet Investasi

Kepala Bappeda NTB, H. Ridwan Syah (Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – Pemulihan ekonomi NTB yang saat ini dalam kondisi terpuruk diakui memang cukup berat. Untuk itu, Pemprov akan melakukan jemput bola menggaet investasi ke NTB.

‘’Meningkatkan pertumbuhan ekonomi memang berat. Caranya adalah investasi. Pembiayaan belum pulih, uang APBD tersedot untuk rehab rekon. Makanya kita menjemput investor. Kalau menunggu tak bisa,’’ kata Kepala Bappeda NTB, Ir. H. Ridwan Syah, MM, M. Sc, M.TP dikonfirmasi di Kantor Gubernur, Jumat, 16 November 2018 siang.

Iklan

Ridwan menjelaskan, tiga komponen yang berkontribusi dalam pertumbuhan ekonomi. Yakni investasi, belanja pemerintah lewat APBN dan APBD serta ekspor. Peningkatan pertumbuhan ekonomi NTB pascabencana gempa dinilai memang cukup berat. Karena dari sisi ekspor juga menurun.

Apalagi jika  dikaitkan dengan sektor tambang. Ekspor konsentrat PT. AMNT memang menurun dan hampir tak ada ekspor lagi. Karena AMNT menunggu pembangunan smelter.

‘’Jadi memang pertumbuhan ekonomi kita akan terpuruk, apalagi kalau dihitung dengan tambang. Dengan adanya gempa bumi, di luar tambang kemampuan kita belum pulih melakukan aktivitas,’’ imbuhnya.

Perputaran uang lebih banyak dari belanja pemerintah, lewat APBN dan APBD. Sedangkan ekspor dari swasta masih agak lemah. ‘’Perlu kerja keras. Salah satu cara meningkatkan investasi. Makanya kita perbanyak investasi sekarang,’’ terangnya.

Untuk itulah, kata Ridwan, beberapa hari lalu Pemprov NTB menjajaki kerjasama bidang investasi dengan Pemerintah Selangor Malaysia. Sejumlah investor akan berkunjung ke NTB dalam waktu dekat. Mereka akan berinvestasi dalam industri jagung dan bawang.

‘’Itu cara-cara kita mengundang investasi. Mereka akan datang minggu depan MoU dengan kita. Makanya Pak Gubernur dengan semua jaringan yang dimiliki, akan mengajak investor dari Jakarta, BUMN dan luar negeri berinvestasi di NTB,’’ tandasnya.

Dalam bidang pertanian, investor asal Malaysia juga berencana mengembangkan buah melon. Nantinya buah melon yang diproduksi di NTB akan diekspor ke Malaysia dan memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Baru-baru ini, Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi NTB merilis  perekonomian NTB secara kumulatif (c to c) sampai dengan triwulan III-2018 mengalami kontraksi sebesar -5,40 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2017. Kondisi ini disebabkan oleh kontraksi pertumbuhan pada kategori pertambangan dan penggalian yang mencapai-40,17 persen.

Sementara tanpa pertambangan bijih logam perekonomian Provinsi NTB masih tumbuh 3,80 persen. Kategori pertanian, kehutanan, dan perikanan sebagai kategori dominan mampu tumbuh sebesar 2,92 persen.

Demikian pula halnya dengan kategori perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan sepeda motor yang tumbuh mencapai 5,80 persen (c to c). Pertumbuhan tertinggi diperlihatkan oleh kategori jasa keuangan dan asuransi yang mencapai 11,34 persen.

Hal ini sejalan dengan telah tersalurkannya berbagai kredit perbankan pada triwulan III ini. Dimana sebagian besar berupa kredit untuk pelaksanaan proyek fisik (konstruksi). Akan tetapi pelaksanaan konstruksi tersebut masih tertahan akibat terjadinya gempa bumi, sehingga pertumbuhan kategori konstruksi tidak signifikan yaitu hanya sebesar 0,42 persen.

Perekonomian Provinsi NTB pada triwulan III-2018 disebut juga mengalami kontraksi sebesar -13,99 persen dibandingkan dengan kondisi triwulan III-2017 (y on y). Sedangkan tanpa pertambangan bijih logam pada triwulan III-2018 juga mengalami kontraksi sebesar -0,36 persen.

Di antara 3 kategori yang dominan dalam perekonomian Provinsi NTB, kategori perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan sepeda motor pada triwulan III-2018 mengalami pertumbuhan sebesar 3,28 persen. Sedangkan kategori pertanian, kehutanan, dan perikanan dan kategori Pertambangan dan Penggalian masing-masing mengalami kontraksi sebesar -0,47 persen dan -57,83 persen. (nas)