Jembatan Lombok-Sumbawa Perlu Dikaji Kembali

Daeng Paelori (Suara NTB/dok)

Selong (Suara NTB) – Wakil Ketua DPRD Lombok Timur (Lotim), H. Daeng Paelori menyambut baik rencana investor Korea Selatan yang berminat membangun jembatan Lombok-Sumbawa. Namun, diperlukan kajian yang mendalam. Salah satunya, mengenai keberadaan pelabuhan yang ada saat ini.

“Apakah nantinya pelabuhan yang ada ini tidak mati karena adanya jembatan?” tanya Daeng – sapaan akrabnya, Kamis,  25 Oktober 2018.

Iklan

Ketua DPD II Partai Golkar Lotim ini menyebut saat ini sudah ada komunitas masyarakat yang menggantungkan hidupnya pada aktivitas pelabuhan. Ketika dibangun jembatan, kajiannya bagaimana kemudian nasib darp para pekerja di pelabuhan.

Dewanto Hadi (Suara NTB/dok)

Ribuan orang menggantungkan hidupnya sehari-hari di pelabuhan. Mulai dari aktivitas buruh, aktivitas transportasi kapal-kapal ferry yang menyeberang dari Pelabuhan Kayangan ke Poto Tano. Fakta itu katanya haruslah menjadi pertimbangan dari pemerintah daerah. Rencana berikut setelah pelabuhan tak berfungsi bagaimana selanjutnya. “Kalau memang ini jadi, apa langkah selanjutnya?” tanyanya.

Hal lainnya, harus ada kejelasan, kepastian dan keamanan investasi. Jangan menjadi investor akan. Apakah investor sendiri yang bangun atau seperti apa. Apakah menggunakan sistem guna serah, setelah dibangun kemudian dalam jangka beberapa tahun diserahkan ke pemerintah daerah atau seperti apa?

Kenyamanan investasi juga penting. Sudah banyak pengalaman pemerintah daerah di saat hendak berinvestasi menemukan banyak kendala. Hal ini pun harus dipersiapkan lebih matang.

Mengenai pertimbangan arus dan kekencangan angin yang akan menghalau jembatan diyakini sudah diperhitungkan oleh pihak yang akan membangun. Apalagi Korea dengan teknologinya yang diakui cukup canggih. “Saya kira segala kemungkinan sudah diperhitungkan,” ungkapnya.

Begitupun mengenai masalah panjang bentangan masuk menjadi urusan dari investor. Namun yang paling penting urusan lokal kita tidak boleh terabaikan. Memang nantinya pasti ada dokumen Analisis Mengenai Dampai Lingkungan (AMDAL) yang dibuat sebelum memulai pembangunan. Berisi bagaimana dampak lingkungan yang akan terjadi, bagaimana kondisi ekosistem laut, dampak terhadap nelayan sepeti apa dan lainnya harus dikaji.

Diakuinya, jarak terdekat sejauh ini adalah pelabuhan Kayangan Pringgabaya dengan Poto Tano Sumbawa. Kalau dari Labuhan Haji ke Pelabuhan Lalar juga dekat, karena laut dari Pelabuhan Labuhan Haji ini sebutnya juga dangkal. Di mana, kedalaman di Kaloran, sekitar 80 meter. Kaloran itu paling  tengah di Selat Alas. Sedangkan dari radius 1 sampai dengan 2 mil dari bibir pantai Labuhan Haji, kedalamannya hanya berkisar 7 meter. ”Itu kalau di Selat Alas ini yang paling dalam itu namanya di Kaloran itu,” terang Daeng.

Sementara itu, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Lotim, Achmad Dewanto Hadi mengatakan rencana pembangunan jembatan Lombok Sumbawa merupakan hal yang bisa diwujudkan. “Mengapa tidak,”  jawabnya saat ditanya Suara NTB mengenai kemungkinan akan terealisasi rencana pembangunan jembatan yang akan menghubungkan langsung Kabupaten Lombok Timur dengan Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) oleh investor Korea.

Menurut Dedi, panggilan akrab kepala Bappeda Lotim ini, konektivitas itu penting guna memacu perekonomian wilayah dan memicu intensitas pergerakan orang dan barang antar wilayah. Di samping itu jika benar terwujud akan bisa membangkitkan pertumbuhan ekonomi.

Meski demikian, Dedi meminta agar kajian aspek-aspek kelayakan teknis dan lain-lain yang perlu lebih detail dan lebih komprehensif terhadap rencana besar tersebut harus dilakukan. (rus)