Jembatan Belum Diperbaiki, Aktivitas Keagamaan dan di Kebaloan Terganggu

Tanjung (Suara NTB) – Kerusakan jembatan Kebaloan, Desa Senaru, Kecamatan Bayan akibat banjir beberapa waktu lalu menghambat aktivitas warga setempat. Setidaknya, sekitar 500 KK yang tinggal di Kebaloan Bawah dan Kebaloan Atas terisolir. Aktivitas pertanian dan keagamaan terhambat akibat akses jembatan yang nyaris roboh tersebut.

Tokoh masyarakat Kebaloan, Jero Mangku Made Artha, kepada Suara NTB, Jumat, 21 April 2017 mengungkapkan, sampai saat ini jembatan yang rusak belum diperbaiki. Masyarakat pun tidak bisa berbuat banyak, karena tidak ada celah untuk membuat jembatan alternatif. Satu-satunya cara, masyarakat setempat harus memutar melalui Dusun Mageling dengan jarak tempuh antara 15 – 16 Km atau Dusun Pawang Karya dengan jarak tempuh 5 km lebih.

Iklan

“Sampai saat ini jembatan dalam keadaan rusak. Kita tidak tahu kapan diperbaiki. Masyarakat minta diperbaiki karena jalur ini sangat penting. Saat musim panen jagung, petani terbebani karena ada pembengkakan biaya,” ungkap Artha.

Bagi petani jagung di Kebaloan maupun warga dusun lain yang memiliki lahan jagung di Kebaloan, rusaknya jembatan ini akan menimbulkan beban ekonomi. Biaya transportasi jagung bertambah karena jalur transportasi berubah.

Artha menerangkan, transportasi pengangkutan jagung akan lebih mahal karena jarak tempuh yang jauh dan medan jalan yang cukup berat. Sebelum jembatan rusak, petani masih bisa mengangkut langsung menggunakan truk atau pick up. Tetapi sekarang dengan jalur alternatif memutar melalui Mageling dan Pawang Karya, secara otomatis menambah biaya. “Yang jelas dari segi transportasi tambah mahal, dan kendaraan juga tidak berani mengangkut banyak karena medan tanjakan dan rusak,” sambungnya.

Ia memperkirakan, produksi jagung petani di Kebaloan berkisar 100 hingga 150 ton. Di Kebaloan Atas dan Kebaloan Bawah saat ini, terdapat sekitar 500 KK dimana 60 KK di antaranya bermukim warga Lombok Utara yang beragama Hindu. Areal Jagung di Kebaloan sendiri tidak hanya dimiliki oleh warga setempat, melainkan warga Desa lain seperti Anyar dan sekitarnya. Mereka juga merasakan dampak dari ambruknya jembatan Kebaloan.

Selain aktivitas petani, putusnya jembatan juga menyulitkan umat Hindu yang hendak melakukan kegiatan ibadah persembahyangan di Pura Penataran Agung Kebaloan. Mereka yang datang dari luar Kebaloan seperti dari KLU, Mataram, Lobar hingga dari Bali, tidak serta merta mencapai pura seperti sebelumnya.

“Kawan-kawan dari Mataram yang ke Kebaloan untuk sembahyang harus memutar, kalau mobil tidak kuat mereka tidak berani. Saat masih ada jembatan, mereka biasa pakai Bus Damri, datangnya bisa 5 kali dalam sebulan, sekarang sudah tidak berani karena takut medan. Ada juga yang dari Bali sudah dalam perjalanan, tetapi tidak bisa sampai Kebaloan karena sampai di tanjakan mobilnya surut,” tandasnya.

Menyikapi usulan permintaan perbaikan jembatan Kebaloan itu, Plt. Kepala Dinas PUPR Lombok Utara, Zaldi Rahadian, ST., mengakui rekonstruksi jembatan sudah dalam rencana dinas. Tim teknis Dinas PU sudah merekapitulasi desain dan biaya jembatan yang rusaknakibat bencana alam, salah satunya jembatan Kebaloan.

“Saat kita lakukan identifikasi teknis, kita buat desain jembatan yang ideal dan layak. Dari hitungan tim teknis, dibutuhkan sekitar Rp 4 miliar untuk membuat jembatan baru dengan desain panjang jembatan antara 20 sampai 30 meter, lebar 5 meter dan tinggi 7 meter,” papar Zaldi di ruang kerjanya.

Secara teknik, jembatan Kebaloan tidak bisa diperbaiki melainkan harua dibangun baru dengan perhitungan yang lebih matang. Sebagai infrastruktur mendasar, pihaknya kata Zaldi, menghindari pelaksanaan pembangunan jembatan dilakukan di akhir tahun karena gangguan cuaca. Sehingga tidak ideal jika jembatan itu diusulkan pembiayaannya pada APBD Perubahan.

“Kita ingin jembatan dibangun dalam masa ideal 3 bulan. Jika mengandalkan APBD Perubahan, waktunya mepet. APBD P biasa diketok sekitar September, lelang 1 bulan, sehingga asumsi pengerjaan bulan November agak telat. Belum lagi kendala cuaca hujan, karena yang namanya jembatan sangat riskan dikerjakan dalam cuaca yang tidak ideal,” pungkas Zaldi. (ari)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here