Jemaah Calon haji Dompu Didominasi Petani

Dompu (Suara NTB) – Kepala Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Dompu, Drs. H. Syamsul H Ilyas mengatakan, Jemaah Calon Haji (JCH) tahun ini didominasi kalangan petani. Dari 162 JCH yang akan berangkat tahun ini sekitar 70 persen petani. Sisanya berasal dari kalangan pengusaha dan Pegawai Negeri Sipil (PNS).

Fenomena ini bahkan terlihat rutin selama beberapa tahun terakhir dan telah menunjukan bahwa tingkat kesejahteraan petani di wilayah ini sudah cukup baik. “Komponen jemaah itu pertama petani, kemudian pengusaha urutan ketiga baru PNS dan Polri. Tetap saya komentar kenapa banyak petani? Kan luar biasa kesejahteraannya,” kata dia kepada wartawan di ruang kerjanya, Rabu, 2 Mei 2018.

Iklan

Dominasi kalangan petani yang akan berangkat ke Tanah Suci Mekah itu tidak hanya terjadi di tahun ini. Pemberangkatan sebelumnya pun demikian. Bahkan mereka yang berdatangan untuk mendaftar saat ini sebagian besar masyarakat yang tidak memiliki gelar atau jabatan apa-apa (petani).

Dari sisi usia, lanjut dia, rata-rata berusia di bawah 70 tahun atau belum tergolong lansia. Hanya memang, usia tidak bisa menjamin kekuatan atau kesehatan seseorang dalam pelaksanaa ibadah haji tetapi semua kembali kepada ketentuan takdir masing-masing.

“Banyak yang sehat tapi (terkadang tidak mampu juga, red). Sementara dari segi pendidikan rata-rata tamatan SMA dan S1,” ujarnya.

Syamsul H. Ilyas mengungkapkan, dari total 162 orang yang akan diberakatkan tahun ini tersisa dua orang yang belum melunasi biaya pemberangkatannya. Mereka masih memiliki waktu hingga 4 Mei mendatang, kalaupun tetap tidak melunasi kedua orang ini masih diberi kesempatan pada tahap kedua. “Kalau batas akhirnya tidak juga dilunasi kita langsung ganti dengan satu orang cadangan, tapi kita usahakan 162 orang itu bisa menyelesaikan pelunasan,” harapnya.

Disinggung besaran biaya pemberangkatan, ia menyebutkan, dibanding sebelumnya tahun 2018 ini terjadi peningkatan sekitar Rp 1 juta, hal itu disebabkan mutu pelayanan JCH saat ini mengalami peningkatan, baik saat di Mekah maupun Madinah. “Untuk 2018 ini Rp38 lebih, kalau dari tahun lalu hanya selisih Rp1 juta,” pungkasnya. (jun)