Jelang Ramadhan, Distan Mulai Pantau Harga Komoditi di Pasar

Pedagang bawang di Pasar Mandalika melayani pembeli, Minggu, 8 Maret 2020. Distan telah memantau harga sejumlah komoditi menjelang Ramadhan. Diharapkan stok terpenuhi dan tidak terjadi lonjakan harga hingga Idul Fitri mendatang. (Suara NTB/cem)

Mataram (Suara NTB) – Tradisi setiap tahunnya harga kebutuhan pokok menjelang puasa bulan Ramadhan maupun lebaran akan meningkat. Pemantauan mulai dilakukan untuk memastikan ketersediaan komoditi terpenuhi. Namun sejauh ini, harga dinilai masih normal.

Kepala Dinas Pertanian Kota Mataram, Ir. H. Mutawalli menjelaskan, pengendalian harga bahan pokok menjelang Ramadhan biasanya dibahas bersama tim yang dipimpin langsung oleh kepala daerah. Kepala daerah nantinya akan meminta masing – masing organisasi perangkat daerah (OPD) mengawasi apa yang menjadi bagian mereka.

Iklan

Dinas Pertanian sudah mulai mengawasi peredaran daging sapi, daging ayam, cabai, bawang putih dan bawang merah. “Kita sudah mulai turun memantau stok dan harga,” kata Mutawalli dikonfirmasi pekan kemarin.

Dari pemantauan di lapangan ditemukan pengusaha nakal tidak mengajukan rekomendasi dan tiba-tiba mendatangkan daging dari luar. Kondisi ini sangat berbahaya karena akan merusak harga daging lokal. Di satu sisi, kualitas daging tidak bisa dijamin sehat.

Mutawalli memerintahkan mengejar dan menangkap yang bersangkutan. Bila perlu izin usaha cold storage dicabut. “Bagaimana kita tahu siapa yang jamin kesehatan dagingnya,” ujarnya.

Rupanya pengusaha menghindari pola kir ulang oleh petugas. Dinas Pertanian tidak serta-merta mempercayai rekomendasi atau keterangan sehat dikirim dari distributor. Oleh karena itu, daging yang masuk dikir kembali. Dari satu ton daging akan dikir ulang satu kwintal dengan cara diacak.

Selain itu sebutnya, beban biaya kir Rp1.000/kg juga dihindari. Hal semacam ini justru membahayakan konsumen. “Sudah saya minta waktu untuk turun. Kemungkinan pekan ini saya langsung turun dan ekspose di lapangan,” tegasnya.

Tidak saja daging sapi, Dinas Pertanian juga memantau stok kebutuhan lainnya terutama bumbu dapur, beras dan lainnya. Stok dapat diprediksi dengan cara koordinasi dengan kabupaten. Sulit diprediksi adalah cuaca dan distribusi. Distribusi menjadi persoalan tahunan. Jika harga cabai di Pulau Jawa naik, pengepul otomatis akan mengejar keuntungan dengan mengirim barang mereka ke luar.

Pemerintah pun tidak bisa mengintervensi. “Ini perdagangan bebas dan semua orang mau mencari keuntungan. Kalau cek produksi gampang. Tinggal telpon kepala dinas di Pertanian Lombok Timur,” tandasnya. Mutawalli berharap memasuki Ramadhan maupun lebaran harga komoditi stabil, sehingga tidak menjadi beban bagi masyarakat. (cem/*)