Jelang Lebaran, Harga Daging Naik

Ilustrasi Daging Sapi (Pixabay)

Mataram (Suara NTB) – Harga daging sapi yang tercatat pada kisaran Rp125-140 ribu sejak bulan lalu dinilai masih wajar. Dimana kenaikan tersebut bukan dipengaruhi oleh keterbatasan stok daging maupun pengiriman ke luar daerah yang dilakukan.

Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan) NTB, Ir.Hj. Budi Septiani, menerangkan kenaikan harga yang terjadi lebih disebabkan mekanisme pasar. “Itu standar memang (dengan kisaran harga saat ini). Harga itu memang seperti itu setiap tahun, kalau ada hari-hari besar pasti naik,” ujarnya saat dikonfirmasi, Minggu, 17 Mei 2020.

Iklan

Di sisi lain, Budi menegaskan bahwa NTB saat ini dalam kondisi surplus untuk ketersediaan daging sapi. Dimana total produksi per tahun dapat mencapai 78 ribu ton, sedangkan kebutuhan untuk konsumsi hanya 62 ribu ton.

Karena itu, NTB juga memasok 15 ribu ton daging sapi ke daerah lain. Hal tersebut ditekankannya bukan menjadi penyebab kenaikan harga daging sapi yang terjadi saat ini. “Dekat hari-hari besar itu (harga) pasti naik. Itu sudah psikologi pasar,” jelasnya.

“Untuk yang keluar sudah ada kuotanya tersendiri. Kalau tidak dikirim, kasihan peternak juga. Kemana dia akan jual?” ujar Budi. Menurutnya, NTB telah rutin menjadi pemasok untuk kebutuhan daging sapi di daerah lain sekaligus surplus daging sapi sejak 2011 lalu.

Berdasarkan catatan Disnakeswan NTB, 10 Kabupaten/Kota di NTB memiliki populasi ternak sapi sebanyak 1.242.749 ekor. Rinciannya di Kota Mataram 2.289 ekor, Lombok Barat 118.375 ekor, Lombok Tengah 182.120 ekor, Lombok Utara 93.675 ekor, Lombok Timur 140.782 ekor, Sumbawa Barat 71.869 ekor, Sumbawa 260.041 ekor, Dompu 142.947 ekor, Kabupaten Bima 206.134 ekor, dan Kota Bima 24.513 ekor.

  Dinas Ketahanan Pangan Stabilkan Harga Pangan dengan “Tancabgas”

Dari 10 Kabupaten/Kota tersebut, lima kabupaten tercatat surplus daging sapi. Diantaranya Lombok Utara, Sumbawa Barat, Sumbawa, Dompu, dan Kabupaten Bima.

Di sisi lain, diakuinya aktifitas pemotongan hewan di Rumah Potong Hewan (RPH) memang tengah mengalami penuruna signifikan saat ini. Sebagai dampak pandemi virus corona (Covid-19) yang sedang berlangsung.

Diterangkan Budi dalam situasi normal pihaknya bisa mengeluarkan 50 rekomendasi pemotongan hewan atau setara pemotongan 750 ekor sapi. “Sekarang (rekomendasi yang dikeluarkan) hanya 10. Itu sekitar 150 ekor sapi,” ujarnya.

Menurutnya, pandemi yang berlangsung saat ini ikut mempengaruhi jumlah permintaan daging konsumsi masyarakat. Untuk itu, pihaknya telah mengambil beberapa tindakan. Salah satunya dengan menutup sementara beberapa pasar ternak yang ada.

Dengan berkurangnya jumlah pemotongan sapi, maka stok sapi potong di NTB disebutnya masih melimpah. Dengan demikian kebutuhan daging untuk puasa saat ini dipastikan masih tercukupi. Satu-satunya kendala yang masih ada diterangkan Budi adalah daya beli dan jumlah konsumsi daging di masyarakat sendiri. (bay)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here