Jelang Lebaran, Banyak Warga Langgar Prokes di Pusat Perbelanjaan

Salah satu pusat perbelanjaan di Lotim yang mulai dipadati pengunjung jelang Lebaran.(Suara NTB/yon)

Selong (Suara NTB) – Memasuki sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, pusat-pusat perbelanjaan di Kabupaten Lombok Timur (Lotim) mulai dipadati. Tidak lain, diserbunya pusat-pusat perbelanjaan untuk pemenuhan kebutuhan Lebaran khususnya pembelian pakaian. Sayangnya, adanya pelanggaran protokol kesehatan (prokes) di pusat perbelanjaan itu sama sekali tidak ada pengawasan dari petugas.

Terkait kondisi ini, Kabid Trantibum pada Satpol PP Lotim, Lalu Abdullah Purwadi,SSTP.,MM., Selasa, 4 Mei 2021 meminta kepada pihak pemilik toko atau perusahaan diminta untuk intensif menerapkan prokes. Minimal penggunaan alat-alat prokes berupa masker, tidak berdesak-desakan dan rutin memakai handsanitizer.

Iklan

“Berdasarkan pemantauan kita, pusat-pusat perbelanjaan ini rutin memeriksa suhu pengunjung dan diarahkan memakai masker sebelum memasuki toko, ” terangnya.

Purwadi mengaku akan mengatensi laporan tersebut untuk dikomunikasikan ke pimpinannya. Termasuk akan menyurati pusat-pusat perbelanjaan agar prokes betul-betul dapat diterapkan. Namun sayangnya, masih banyak pengunjung yang tidak menerapkan social distancing di tengah wabah Covid-19 yang saat ini sedang menghantui masyarakat khususnya di Kabupaten Lotim. Artinya, terlihat masih ada pengunjung satu dan lain yang masih berhimpitan di sepanjang jalan pertokoan.

Bahkan dari sekian banyak toko, dari pantauan Suara NTB, hanya terlihat satu alat pencuci tangan yang disediakan di area parkir. Jumlah tersebut tentunya jauh dari kekurangan jika melihat jumlah pengunjung yang setiap hari terus mengalami peningkatan menjelang hari H lebaran pada Minggu depan.

Hal senada disampaikan Kepala Bidang Sarana dan Distribusi Pasar Dinas Perdagangan Lotim, Mirza Sophian. Menjawab Suara NTB, Selasa, 4 Mei 2021, Mirza mengaku sebanyak 37 pasar se Lotim di bawah binaan Dinas Perdagangan Lotim ini rata-rata cukup ramai. Baik pedagang maupun pembeli. Dulu saat musim hujan, pedagang jarang ke pasar, karena fakta pembeli juga jarang datangi pasar. Sementara saat ini, kunjungan ke pasar-pasar trandisional sangat ramai.

Diakuinya, yang paling banyak didatangi pembeli adalah pedagang konveksi, karena menjadi kebiasaan warga menjelang lebaran membeli pakaian baru. “Fenomena ini biasa muncul jelang lebaran,” imbuhnya. Pedagang yang ada selama ini katanya sudah lama beraktivtas di dalam pasar. Bukan pedagang pedagang dadakan yang muncul hanya musiman.

Selanjutnya, situasi pandemi Corona terkesan tidak begitu dipedulikan warga. Namun kepada seluruh pedagang dan pengunjung pasar sudah diigatkan agar tetap terapkan protokol kesehatan. Menggunakan masker dan mencuci tangan. Sedangkan menjaga jarak saat ini tidak ditampik terasa sulit dihindari warga.

Ditambahkan, seiring dengan penambahan jumlah pengunjung di pasar diyakini akan meningkatkan nilai transaksi jual beli di pasar. Kondisi itu juga katanya berdampak positif bagi proses penarikan retribusi pasar. “Biasanya kita enak nagih sekarang ini bagi yang nunggak sewa toko misalnya,” paparnya.  (yon/rus)

Advertisement ucapan idul fitri Jasa Pembuatan Website Profesional