Jejak Terakhir Sang Petualang Aryo Sandria Saputra

Dompu (Suara NTB) – Sabtu, 29 April 2017 pukul 9.30 Wita menjadi jejak terakhir sang petualang Aryo Sandria Saputra. Harapan pria kelahiran 11 April, 27 tahun lalu itu untuk menjajaki tantangan alam berikutnya, harus kandas di tebing Sarang Burung Walet So Wawo Pote, Dusun Nanga Doro Desa Huu Kecamatan Huu.

Tak ada yang menyangka, firasat buruk keluarga dua bulan terakhir adalah tanda malapetaka bagi keluarga, kerabat dan orang-orang di sekeliling alumni Akademi Keperawatan Bima Tahun 1990 itu. Keganasanan ombak komplek sarang burung walet meski diakui, sebab di sinilah awal mula tragedi mematikan itu.

Iklan

Ryo, sapaan akrab putra pertama dari empat bersaudara pasangan Ari Sunardo dan Sulastri ini, meninggal setelah dihempas gulungan ombak. Saat itu, ia bersama dua orang rekannya hendak mendokumentasikan kunjungan kelimanya di tempat itu dengan cara berpose mengambil latar laut lepas Nanga Doro yang memukau.

Bagi mereka yang menyukai tantangan, tebing curam setinggi 3 meter dari bibir pantai adalah lokasi paling strategis, sekaligus menantang dan penuh misteri menurut warga sekitar. Mereka yang berhasil menaklukanya pasti akan dimanjakan suasana alam bersahabat berikut percikan ombak yang setiap saat akan memberi kisah lain bagi setiap momen yang diabadikan. Setidaknya, harapan ini yang ingin diwujudkan Ryo, Ferdi dan Feri dan dua rekan lainnya ketika itu.

Setelah mengambil beberapa gambar di area sekitar, Ryo kemudian bergeser ke tebing curam untuk berpose. Keinginannya ini sempat dihalangi Ferdi lantaran khawatir melihat ombak tengah pasang. Namun Ryo tak menggubris lantas melanjutkan tekadnya. Ferdi yang sebelumnya malarang pun akhirnya ikut menemani Ryo, sementara Feri berdiam diri ditempat semula yang posisinya lebih tinggi sehingga tidak terjangkau hempasan ombak. “Posisi Ryo saat itu berdiri membelakangi ombak sambil mengambil gambar Ferdi. Seketika ombak besar meghantam keduanya. Tapi Ferdi cepat memegang batu karang. Sementara Ryo terlempar ke laut, kemudian diputar arus air sampai ke dasar laut,” kisah ayah kandung Ryo, Ari Sunardo kepada Suara NTB di kediamanya, Senin (1/5).

Tragedi naas itu terjadi sehari setelah Ryo bersama lima orang rekannya malakukan camping tak jauh dari tempat kejadian. Mereka jelas Ari Sunardo berangkat dari rumah pada hari Jumat (28/4) sekitar pukul 15.00 wita. Perlakuannya pada sang anak kali ini pun agak berbeda. Dia bahkan sampai menunda waktu berjualan demi menunggu waktu keberangkatan sang anak dari rumahnya, di Lingkungan Swete Kelurahan Bali I. “Bahkan saya sendiri yang membukakan pintu gerbang rumah ini lebar-lebar saat almarhum berangkat. Kalau saya ndak ada firasat mimpi apa-apa, cuma dalam dua bulan ini sifatnya agak berbeda dari biasanya. Dia tampak cerah, selalu tertawa, senyum dan banyak temannya yang datang ke rumah,” ujarnya.

Hanya saja tambah dia, mimpi buruk itu datang dari orang-orang di sekelilingnya malam setelah mendengar kabar Ryo tenggelam, seperti dari adik kandungnya Adil Teja yang menggambarkan lokasi tenggelamnya sang kakak dalam mimpinya tepat di tempat jenazah terhimpit batu karang ini. Di tempat tersebut terdapat sebuah terowongan yang cukup dalam.

Sementara dari ibu kandungnya, Sulastri bermimpi sang anak datang meminta jilbab putih lalu pergi tanpa mengucapkan sepatah kata apapun. “Itu informasi yang saya dengar dari ibunya, kakeknya yang di Bima juga bermimpi kalau di rumah ini banyak tamu yang datang,” ungkapnya.

Kecintaan pria yang tecatat sebagai honorer di ruang VIP B RSUD Dompu pada travelling ini juga luput dari pengetahuan ayahnya. Hobinya mengunjungi tempat-tempat baru yang tak banyak diketahui banyak orang terungkap saat peringatan Tambora menyapa dunia 2015 lalu. Bahkan informasinya Ryo merupakan orang yang pertama kali meperkenalkan lokasi sarang burung walet kepada publik, tepatnya tahun 2015 lalu saat ia mengunggah gambar dirinya tengah memancing melalui akun facebook-nya. Terlebih masih banyak tempat lain yang berhasil ia abadikan semasa hidupnya.

“Tapi yang tahu tempat itu dimana hanya Ryo dan teman-teman campingnya. Atas kejadian ini kami sekeluarga sudah mengikhlaskanya dan mengharapkan doa teman-teman,” harapnya. (jun)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here