Jejak Peradaban Islam di Bima

Jejak peradaban Islam di wilayah Bima ditandai dengan keberadaan sejumlah manuskrip yang tertulis menggunakan huruf hijaiyah. Sejumlah tujuh eksemplar manuskrip temuan dari wilayah Bima itu kini jadi koleksi Museum Negeri NTB.

Petugas Fungsional Pamong Budaya di Museum Negeri NTB, L. Napsiah, S.S mengemukakan, keberadaan manuskrip – manuskrip menjadi bukti otentik mengenai jejak peradaban Islam di wilayah timur daerah NTB. Ke tujuh manuskrip yang kini menjadi koleksi permuseuman daerah ini menggunakan empat bahasa pada masing – masing buku. Bahasa – bahasa yang digunakan yakni Bahasa Bima, Bahasa Bugis, Bahasa Melayu dan Bahasa Arab.

Iklan

“Kalau bahasa Arabnya itu terpakai pada muatan ayat – ayat suci Al Qur’an dalam manuskrip tersebut. Satu eksemplar manuskrip sesuatu yang beragam, ada yang berisi surat wasiat, silsilah dan bahkan ada yang berisi resep obat-obatan tradisional,” katanya.

Menurutnya, masyarakat Bima tidak tersentuh pengaruh ekspansi umat Hindu yang datang dari Pulau Bali dan Jawa. Itu sebabnya, masyarakat di wilayah timur daerah NTB ini tidak mengenal huruf jejawan. “Masyarakat di Bima tidak mengenal huruf jejawan, yang dikenal hanya aksara Hijaiyah dan aksara Bugis,” tuturnya.

Usia sejumlah manuskrip yang kini disimpan Museum Negeri NTB itu berkisar di antara 300 – 350 tahun. Hal itu dihitung dengan melacak pemimpin atau raja yang sedang menduduki tahta di kesultanan Bima pada masa pembuatan manuskripnya.

“Ini usianya kira – kira di atas 300 tahun. Naskah ini sepertinya ditulis pada Zaman Sultan Ibrahim. Sebetulnya masih banyak lagi naskah – naskah kuno seperti ini, dan sekarang dirawat oleh Ibu Maryam di Museum Asi Mbojo,” tandasnya.

Keberadaan naskah ini lantas menjadi penanda kentalnya peradaban umat Islam di wilayah setempat pada abad ke-18 silam. Seluruh bukti-bukti otentik pendukung kejayaan Islam di wilayah dapat diselamatkan dan dipertahankan sampai saat ini. Sejumlah bukti – bukti fisik tersebut dapat menjadi bahan kajian yang menarik dalam bidang keilmuan dan akademik.

Adanya naskah ini mendapat perhatian dari sejumlah mahasiswa yang belajar di luar daerah. Sekelompok mahasiswi dari Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta datang ke NTB untuk mengkaji sebaran Bahasa Arab khususnya di wilayah Bima. Variabel Bahasa Arab di Bima diyakini tersebar melalui kosa kota dalam naskah atau manuskrip – manuskrip kuno.

“Di Jakarta, terutama di kampus saya kebanyakan menerjemahkan kitab Al Qur’an. Kalau menerjemahkan manuskrip itu belum pernah dilakukan,”  cetus Fita Safitri, Senin (27/6).

Menurutnya, mengangkat naskah – naskah kuno sebagai bahan kajian penelitian memiliki nilai dan daya tarik tersendiri. Disamping tujuannya untuk membuka atau menelusuri ilmu pengetahuan yang diwariskan para leluhur, penelitian tersebut juga ditujukan untuk membangun kesadaran kolektif tentang keberadaan kearifan lokal.

Dengan demikian, secara tidak langsung dirinya dapat menggali ilmu pengetahuan demi mengumpulkan berbagai pemahaman mengenai nilai dan kearifan lokal. Pemahaman tentang ilmu pengetahuan yang diwariskan oleh para leluhur itu dapat dilakukan dengan menerjemahkan naskah – naskah tersebut.

Hal senada disampaikan Dewi Novita Sari, Mahasiswi Pascasarjana Matematika di Universitas Negeri Makassar. Mahasiswi yang berasal dari Lingsar Lombok Barat ini melihat masih banyak naskah kuno di daerah ini yang perlu dideskripsikan. Hal tersebut patut dilakukan guna melestarikan ilmu pengetahuan yang telah terbangun sebagai pemahaman di masa lampau.

Pentingnya mendeskripsikan kembali isi naskah – naskah juga didasari, karena bahasa yang digunakan dalam naskah sudah tidak relevan di era kekinian. Akibatnya, tidak banyak orang yang memahami isi naskah tersebut secara utuh. (met)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here