Jebakan Kartu, Modus Baru Bobol ATM di Lombok Utara

Mataram (Suara NTB) – Pembobol ATM kembali beraksi di Lombok Utara. Pelakunya jaringan nasional dengan modus menjebak kartu. Nasabah dibuat tertelan mesin kartu ATM-nya kemudian diminta menghubungi nomor telepon pusat layanan palsu.

Dua pelaku itu, yakni Hardian Noveri (26) dan Fernando (24) Masing-masing berasal dari Kabupaten Oku Selatan, dan Kabupaten Muara Enim, Sumatra Selatan. Mereka berhasil menggondol uang dari lima nasabah Bank BNI sebanyak Rp 145,6 juta.

Iklan

“Mereka memasang penjebak kartu. Lalu mereka menempel nomor call center bodong. Jadi, kartu ATM nasabah tertelan dan otomatis menghubungi call center itu,” ungkap Kasatreskrim Polres Lombok Utara, AKP Kadek Metria, Senin, 30 Oktober 2017.

Para pelaku datang ke Lombok memang dengan niatan membobol uang nasabah ATM. Aksi itu mereka lakukan selama rentang waktu 8-28 Oktober 2017. Total lima nasabah yang menjadi korban.

Modusnya, mereka memasang plastik mika di mulut kartu ATM. Plastik mika itu membuat kartu yang dimasukkan menjadi terganjal saat keluar sehingga tertelan.

Para pelaku sebelumnya sudah menempel stiker call center palsu di dekat mulut ATM. Korban yang tak teliti akan langsung menghubungi nomor tersebut.

“Korban yang menelepon nomor palsu itu diarahkan untuk memberikan nomor rekening dan nomor PIN. Dengan cara itu mereka mengambil uang nasabah,” terangnya.

Fisik kartu ATM yang tertelah diambil para pelaku dengan mencongkel mesin ATM. Pada saat itulah mereka tertangkap basah di ATM BNI Desa Gondang, Gangga, Lombok Utara.

Para pelaku kemudian diamankan Satreskrim Polres Lombok Utara beserta bukti uang tunai Rp 4,675 juta, stiker call center Bank BNI, Bank BRI, dan Bank Mandiri; pahat, gergaji besi, jaket, telepon genggam, plastik mika dari bekas botol,dan motor sewaan.

Mereka dijerat dengan pasal 28 ayat 1 juncto pasal 45 ayat 1 UU RI No 19/2016 tentang perubahan atas UU RI No 11/2008 tentang ITE juncto pasal 363 KUHP. “Untuk yang ITE ancamannya enam tahun, yang pencurian sembilan tahun,” pungkas Metria. (why)