Japnas Ingatkan Risiko Komersilkan Siaran Piala Dunia

????????????????????????????????????

Mataram (Suara NTB) – Jaringan Pengusaha Nasional (Japnas) Provinsi NTB mengingatkan pengusaha lokal untuk memperhatikan risiko mengkomersilkan penayangan perhelatan piala dunia, terutama bagi pengusaha-pengusaha yang tidak memiliki izin dari pemilik hak siar.

Penyelenggaran piala dunia 2018 di Rusia telah berlangsung sejak beberapa hari terakhir. Perhelatan kompetisi sepak bola antar negara ini euforianya hingga ke desa-desa. “Nonton bareng” menjadi pemandangan biasa di malam hari.

Iklan

Di Kota Mataram, musim piala dunia adalah momentum. Tempat-tempat nonton bareng tersedia di mana-mana. Malam seolah berubah menjadi siang. Mereka yang doyan dengan permainan si kulit bundar ini bahkan rela merogoh koceknya untuk membeli jamuan selama penayangan pertandingan.

Bagi yang jeli melihat peluang, tentu ini kesempatan. Yang berjiwa wirausaha, lalu dengan kreatifitasnya menyediakan tempat-tempat nonton bareng. Plus menyediakan sajian bagi pengunjung. Ketua Japnas Provinsi NTB, I Made Agus Ariana, mengingatkan, jangan kemudian momen ini menjadi bumerang bagi para pelaku usaha lokal.

Ada aturan main untuk mengkomersilkan siaran piala dunia bagi publik. Pemilik hak siar sudah memberikan penawaran kepada  resto, hotel, bandara, mal, rumah sakit biaya paket mengkomersialkan siaran puala dunia ini.

Ariana mengutip sebuah laman berita nasional, bahwa pihak pelaksana nonton bareng tak serta merta dapat melaksanakannya.  Sebagai pemegang lisensi resmi hak siar Piala Dunia 2018, Futbal Momentum Asia (FMA), telah membuat sebuah wadah dan program public exhibition di seluruh wilayah Indonesia yang disebut Pesta Bola Indonesia.

Program ini dibuat bertujuan menjadikan Piala Dunia 2018 yang berlangsung di Rusia bisa dinikmati bersama seluruh masyarakat Tanah Air. Hal ini sesuai dengan regulasi FIFA yang bertanggung jawab dan mengawasi manajemen seluruh public viewing dan public exhibition Piala Dunia 2018.

”Semua tempat-tempat publik di Indonesia yang ingin menyiarkan Piala Dunia 2018 secara resmi wajib mendapatkan izin sublisensi dari FMA selaku pemegang hak eksklusif atas semua media, siaran, dan komersial, termasuk transmisi dan penyiaran di seluruh kepulauan Indonesia. Sudah ada paket-paketnya. Ini yang harus diperhatikan oleh pengusaha,” kata Ariana pada Suara NTB, Rabu, 20 Juni 2018.

FMA bahkan akan melakukan tindakan jika ada tempat-tempat yang menyelenggarakan nobar tanpa memakai lisensi dari Pesta Bola Indonesia. Dari somasi 1 sampai 3, dan melaporkan ke aparat. Apalagi sudah ada kerjasama dengan polisi dan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI).

Di sisi lain, Piala Dunia 2018 Rusia melibatkan 32 tim dari seluruh dunia yang akan memperebutkan status sebagai tim sepakbola terbaik sedunia. Total pertandingan yang digelar Piala Dunia 2018 sejumlah 64 pertandingan di 12 stadion yang tersebar di 11 kota di Rusia. Pertandingan final yang akan dilaksanakan di Stadion Luzhniki, Moskow, Rusia, 15 Juli 2018.

Ariana mengatakan khawatir bila pengusaha menyediakan tempat nonton bareng dengan mengkomersilaknnya, tanpa membeli terlebih dahulu lisensi untuk acara tersebut. Sebab jika tidak, pemilik hak siar akan memberikan sanksi.

“Pasti nanti akan dirazia  disomasi sampai dengan penuntutan. Karena  lisensi untuk penyiaran itu faktanya sangat mahal. Kalau untuk hotel bintang lima dengan harga kamar di atas 1,5 juta mungkin akan tercover cost nya. Nah, kalau ukuran warung atau resto kecil menengah pasti tidak akan nutupin biaya penjualan sama biaya oprasionalnya . Pengusaha harus hati hati jangan sampai terjebak dalam situasi ini. Di rumah nobarnya sama keluarga sih tidak termasuk,” demikian Ariana. (bul)