Jangan Masukkan Beras ke NTB

Sejumlah pekerja sedang mengemas beras di gudang milik Bulog. (Suara NTB/ist)

Mataram (Suara NTB) – Pemprov NTB meminta agar sementara ini tidak ada beras masuk dari luar NTB. mengingat ketersediaan beras di dalam daerah surplus. Stok beras di dalam daerah bahkan sedang dicarikan cara agar bisa diserap pasar. Di gudang  Bulog, beras-beras serapan dari petani juga menumpuk.

Sekretaris Daerah (Sekda) NTB, Drs. H. Lalu Gita Ariadi, M.Si mengatakan, pemerintah daerah saat ini mengharapkan beras beras dari luar tidak lagi masuk dulu ke NTB. Pengusaha bisa saja mendatangkan beras dari luar. “Kan kita masih banyak punya beras,” ujarnya.

Iklan

Sekda menambahkan, bila memungkinkan, NTBlah yang seharusnya mengirim ke daerah-daerah yang membutuhkan. Ke NTT, atau ke daerah-daerah lainnya bisa dipenuhi. Untuk mengurangi surplus beras NTB yang saat ini masih menumpuk di gudang-gudang Bulog.

Sebelumnya, NTB melalui Perum Bulog sudah mengirim beras petani ke NTT sebanyak 7.500 ton. Harapannya, dengan adanya kebijakan pemerintah memberikan bantuan ganti rugi kepada masyarakat miskin selama PPKM Darurat diberlakukan, daerah-daerah lain juga bisa mengajukan permintaan beras dari NTB untuk memenuhinya.

Pimpinan Wilayah Perum Bulog NTB, Abdul Muis turut menegaskan, saat ini membutuhkan sinergi dengan seluruh stakeholders untuk mengurangi cadangan beras yang tersimpan di gudang-gudang Bulog saat ini. Gudang-gudang penyimpanan Bulog sudah penuh oleh beras dan gabah petani. Bahkan Bulog harus menyewa gudang-gudang milik swasta. Total kapasitas tampung gudang Bulog dan swasta ini mencapai 150.000 ton.

Tahun 2020 lalu, serapan beras oleh Bulog hanya 68.000 ton. Tahun ini serapannya jauh lebih tinggi dengan pola pembelian beras dan gabah.  Muis menambahkan, untuk menampung serapan beras dan gabah ini, kapasitas tampung gudang Bulog hanya 70.000 ton. Sehingga terpaksa menggunakan gudang filial milik swasta. Jumlahnya sekitar 48 gudang. Itupun sampai saat ini kondisi gudangnya masih penuh.

Karena itu, Bulog sangat mengharapkan kepala daerah, gubernur, bupati dan walikota membantu Bulog dalam hal penyaluran beras yang sudah dibeli dari petani. Misalnya, kebutuhan beras bagi ASN di NTB dapat disuplai dari beras Bulog. Selain itu, bantuan-bantuan sosial pangan diharapkan menggunakan beras Bulog. Disediakan kualitas terjamin premium.

Sekda NTB menanggapi hal tersebut dengan istilah swadesi. Gerakan menggunakan produk-produk sendiri. Saat ini pemerintah NTB turut mendukung serapan gabah dan beras petani dengan mendorong peran ASN. “Skemanya bisa saja dengan kelompok tani, bisa saja langsung dengan Bulog. Bisa menyesuaikan,” demikian Sekda. (bul)

AdvertisementJasa Pembuatan Website Profesional