Jangan Ada Stigma Negatif Pasien Covid-19

Sejumlah warga mengantre untuk mendapatkan vaksinasi dosis kedua di RSUD Kota Mataram akhir pekan kemarin. Pemerintah berharap masyarakat tidak memberikan stigma negatif bagi warga yang terkonfirmasi positif Covid-19. (Suara NTB/cem)

Mataram (Suara NTB) – Walikota Mataram, H. Mohan Roliskana mengingatkan masyarakat agar tidak memberikan stigma negatif terhadap warga yang terkonfirmasi positif coronavirus disease atau Covid-19. Satu sama lainnya diharapkan saling menguatkan agar tercipta optimisme melawan pandemi. “Saya harapkan jangan ada stigma negatif masyarakat yang terkena Covid-19,” kata Mohan mengingatkan pekan kemarin.

Bahaya stigma itu berdampak terhadap psikologi seseorang. Hal ini menyebabkan masyarakat yang memiliki gejala mirip Covid-19 menutup diri dan berusaha menyelesaikan secara mandiri. Pilihannya adalah isolasi mandiri yang berisiko bilamana tidak dilakukan pengawasan.

Iklan

Pemkot Mataram sambung Mohan, mengambil langkah antisipatif dengan menyediakan isolasi terpusat. Tempat isolasi terpusat telah disiapkan tenaga kesehatan serta fasilitas pendukung lainnya. “Kita siapkan isolasi terpusat. Ada konsultasi medis secara berkala,” sebutnya.

Di satu sisi, Walikota bersyukur bahwa sinergitas penanganan pandemi Covid-19 di Kota Mataram bersama TNI dan Polri memberikan dampak positif. Tingkat hunian pasien di rumah sakit menurun, target vaksinasi awalnya 2.500 sasaran melonjak mencapai 3.700 sasaran. Akselarasi ini diharapkan memberikan tren positif bagi masyarakat, sehingga Kota Mataram bisa turun level dari status level 3 turun menjadi level 2. “Kalaupun tidak turun level, mudah – mudahan bisa bertahan di level 3,” harapnya.

Karena itu, diharapkan masyarakat lebih optimis dan saling menguatkan satu sama lain untuk menjaga Kota Mataram. Dengan harapan evaluasi pada 23 Agustus (hari ini, red) secara nasional terjadi perubahan signifikan.

Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Kota Mataram, Drs. I Nyoman Suwandiasa menambahkan, berbagai intervensi baik itu langkah koordinatif, pelaksanaan program isolasi terpusat, vaksinasi dan penegakan disiplin diharapkan berkontribusi terhadap penurunan level, sehingga Mataram ditargetkan berada pada zona kuning. Khusus warga yang terkonfirmasi positif berstatus orang tanpa gejala (OTG) diminta melakukan isolasi terpusat. Pemerintah telah menyediakan tempat representative, agar tidak muncul klaster keluarga.

Nyoman mengakui, kendala dihadapi adalah masyarakat cendrung mengabaikan dan melakukan isolasi mandiri tanpa assesment dari tenaga kesehatan. Saat kondisi pasien menimbulkan gejala berat dan kritis baru dibawa ke rumah sakit. Pada posisi ini, Satgas Covid-19 Kota Mataram memaksimalkan peran kelurahan dan kecamatan.

Artinya, early warning system harus dikedepankan. Struktur pemerintah paling bawah mendeteksi warga yang menjalani isoman,apakah memenuhi syarat atau tidak. “Warga yang isoman harus ditempelkan stiker supaya lebih mudah dideteksi,” terangnya.

Pelaksana Tugas (Plt) Direktur RSUD Kota Mataram, Lalu Martawang menyebutkan, BOR di rumah sakit mengalami penurunan menjadi 43,3 persen. Persentasenya ini jauh menurun sesuai standar WHO yang 60 persen. Selain itu, jumlah pasien yang menjalani isolasi di rumah sakit darurat dari 40 kamar hanya terisi 12 kamar. Sinkronisasi program juga dilakukan bersama TNI dan Polri melalui serbu vaksin. Program ini sangat membantu tenaga kesehatan. “Ini meringankan beban nakes karena selama ini pundak vaksinasi selalu dibebankan ke nakes,” demikian kata Martawang. (cem)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional