Janda di Bima Capai 1.341 Orang, Dominan Disebabkan Kehadiran Orang Ketiga

Panitera Muda Hukum Pengadilan Agama Bima, Arifudin Yanto (Suara NTB/Uki)

Kota Bima (Suara NTB) – Jumlah perkara perceraian yang diproses oleh Pengadilan Agama Bima terus meningkat secara signifikan dari tahun 2017 ke 2018. Selama tahun 2018 menerima sebanyak 2.185 perkara.

“Dari jumlah itu sebanyak 1.341 kasus sudah disidangkan dan sudah dikeluarkan akta cerainya,” kata Panitera Muda Hukum Pengadilan Agama Bima, Arifudin Yanto SH, kepada wartawan, Kamis, 20 Desember 2018.

Iklan

Menurutnya jumlah perkara perceraian tersebut diajukan oleh suami (talak.red) juga cerai gugat atau perkara cerai yang diajukan istri. Jumlah yang mengajukan talak sepanjang tahun 2018 sebanyak 406 orang. “Sedangkan cerai gugat sebanyak 1.421 dan ditambah serta ditambah perkara permohonan sebanyak 290 perkara,” katanya.

Sementara lanjut dia, perkara perceraian yang diproses oleh pihaknya selama tahun 2017 lalu, jumlahnya hanya mencapai 1.031 perkara yang disidangkan dan resmi dikeluarkan akta cerai. “Jumlah ini baik cerai talak yang diajukan suami maupun akibat cerai gugat yang diajukan istri,” katanya.

Arifudin mengaku berdasarkan catatan pengajuan perceraian yang masuk.  Meningkatnya jumlah perkara perceraian pada tahun 2018 tersebut, akibat keterlibatan pihak ke tiga dalam rumah tangga. “Perceraian tahun 2018 lebih banyak karena perselisihan yang terus menerus terjadi karena ada pihak ke tiga dalam rumah tangga,” katanya.

Selain disebabkan perselisihan karena hadirnya orang ketiga. Meningkatnya perceraian tersebut juga disebabkan terlalu lama ditinggal oleh pasangan. Sesuai aturan hukum, pasangan yang ditinggalkan selama dua tahun berturut-turut, bisa mengajukan perceraian. “Perceraian ini juga lebih dominan diajukan oleh istri atau perkara cerai gugat,” ujarnya.

Ia menambahkan, sebelum proses persidangan perceraian, pihaknya memiliki kewajiban untuk melakukan mediasi. Proses mediasi selama 30 hari untuk memberikan pencerahan, diarahkan agar baikan atau rujuk kembali.

“Proses mediasi yang berhasil dilakukan ada sekitar 200 pasangan yang mencabut kembali perkara yang diajukan selama 2018 ini,” pungkasnya. (uki)