Jamelo Produksi KLU, Kualitas Ekspor, Diminati Sidomuncul

Ilustrasi Jahe Merah

Tanjung (Suara NTB) – Jamelo atau Jahe Merah Lombok sudah mulai diminati pasar, baik pasar lokal maupun perusahaan. Salah satu perusahaan yang memberi atensi Jamelo adalah PT. Sidomuncul.

M. Zainur, pionir usaha budidaya Jahe Merah, asal Dusun Rebakong, Desa Kayangan, Kecamatan Kayangan, Kabupaten Lombok Utara (KLU) sudah mulai mengembangkan budidaya jahe merah. Ia bermitra dengan petani Dusun Lendang Jurang yang tergabung dalam P3A Lokoq Segoar. Setidaknya, areal budidaya sudah mencapai 4 hektar. Dari budidaya itu, panen jahe diolah secara mandiri melalui industri rumahan.

Iklan

‘’Alhamdulillah, respon pasar cuku bagus. Saya juga sudah dikontak Sidomuncul, tapi belum berani menerima pesanan dalam jumlah banyak,’’ ujar Zainur kepada Suara NTB saat ditemui di Kantor Desa Kayangan, Jumat, 1 September 2021.

Zainur mengaku, belum mau bergantung pada aturan dengan pihak ketiga. Sebab fokusnya di awal budidaya, adalah membina kerjasama dan bersama-sama bekerja dengan petani.

Untuk usaha budidaya, Zainur mengajak petani bermitra. Petani menyediakan lahan, sedangkan bibit diusahakan oleh Zainur sendiri. Dalam 1 hektar lahan, membutuhkan setidaknya 500 kilo bibit. Dengan harga bibit per kilo mencapai kisaran Rp100 ribu.

Dalam 1 Kg bisa menghasilkan 40 rumpun. Kalau perawatannya bagus, maka dalam 1 rumpun menghasilkan sampai 3 Kg jahe. ‘’Usia tanam rata-rata 11-12 bulan. Saya sengaja memanen di usia agak tua, karena untuk konsumsi memerlukan kandungan minyak astiri yang baik,’’ sebutnya.

Zainur menambahkan, kemitraan dengan petani memberi dampak penghasilan bagi kedua pihak. Ia dan petani, sepakat memberlakukan harga jual-beli sebesar Rp59 ribu per kg. Dalam satu kawasan tanam, petani dan dirinya akan membagi hasil usaha secara merata setelah dikurangi ongkos produksi berupa harga bibit, tenaga kerja, dan biaya sumur bor.

‘’Areal tanam di 4 hektar itu ada di 5 tempat, dan yang sudah dipanen baru 2 tempat,’’ ucapnya.

Zainur masih mengupayakan keberlangsungan produksi bubuk Jamelo secara berkelanjutan. Oleh karenanya, ia mengajak petani lain untuk bermitra menanam Jahe Merah pada lahan-lahan tidur.

Sebagai gambaran, Jamelo hasil produksi Zainur sudah bisa dinikmati dalam bentuk minuman atau wedang jahe. Khasiatnya beragam. Sebagai bahan obat anti penuaan dan kanker, meredakan nyeri saat datang bulan, menurunkan glukosa dalam darah dan kolestrol, memperkuat sistem imun, menangkal infeksi bakteri dan virus, meredakan sakit otot, mengatasi masalah pencernaan, menghaluskan kulit dan meredakan morning sickness.

‘’Karena banyaknya khasiat itu, maka saya menekankan pola budidaya dengan organik, tanpa bahan kimia,’’ sambungnya.

Untuk menguji kualitas jahe merah buatannya, Zainur sudah melayangkan permohonan uji kualitas dan kandungan ke Balai POM Mataram.

“Hasilnya sudah keluar. Jamelo berkualitas ekspor. Indikatornya, dari salah satu kandungannya, memiliki kadar 30, sedangkan kualitas ekspor diharuskan kadar 20,” pungkasnya.

Untuk diketahui, campuran ekstrak Jamelo sudah dikemas dalam bentuk bubuk. Zainur menjualnya takaran 1 Kg cukup murah, yakni Rp150 ribu. Selisih harga lebih tinggi Rp50 ribu, jika pembeli memesan campuran gula menggunakan gula merah. (ari)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional