Jalur Pusuk Licin dan Rawan, Kontraktor Diminta Tanggap Kondisi

Kendaraan sudah bisa melewati jalur Pusuk yang licin, sehingga menimbulkan kemacetan akibat truk besar tidak bisa lewat. (Suara NTB/ist)

Tanjung (Suara NTB) – Pihak pelaksana pelebaran ruas jalan jalur Pusuk Lombok Barat (Lobar) – Kabupaten Lombok Utara (KLU) diminta tanggap terhadap kondisi (cuaca). Pasalnya, hujan yang belakangan mulai turun di titik pekerjaan sampai KLU memicu jalan licin dan rawan kemacetan.

Sekretaris Dinas sekaligus Plt. Kepala Dinas Satpol PP Lombok Utara, Totok Surya Saputra, SH. MH., Selasa, 7 September 2021 mengatakan, material tanah bagian atas lereng yang dikeruk alat berat tidak semuanya terangkut seketika. Material itu meluber ke badan jalan dan menyebabkan ruas jalur menjadi licin saat hujan.

Iklan

Ia membenarkan, sebuah truk besar terjebak licin saat akan melewati medan sedikit menanjak di titik pengerukan. Tanah penutup jalan yang labil membuat laju kendaraan tidak mulus, dan membuat ban belakang kanan menyisir bibir jurang. Seketika truk besar itu pun menghalangi laju kendaraan lain, karena posisinya melintang.

“Kejadian itu tadi malam, dan tadi siang (sekitar pukul 11.11 WITA) sudah dievakuasi dan jalan bisa dilalui kendaraan lain,” ujar Totok.

Curah hujan tinggi, menurut dia, sewaktu-waktu dapat membahayakan pengendara melintasi jalur yang dikeruk untuk selanjutnya ditalud tersebut. Oleh karena itu Pemda Lombok Utara berharap, Pemprov NTB selaku pemilik proyek memberi arahan kepada pihak ketiga pelaksana pekerjaan.

Totok belum mengetahui, anomali cuaca yang berlangsung dapat mempengaruhi keadaan di titik pekerjaan. Pasalnya, pada bulan September yang seharusnya masih berlangsung musim kemarau, sudah mulai turun hujan meski parsial di beberapa wilayah.

“Sampai sekarang alat masih bekerja bersihkan tumpukan. Kalau keadaan hujan, pasti licin karena kontur tanah biasa rawan bergeser,” jelasnya.

Ia melanjutkan, Pemkab Lombok Utara tetap mengambil tupoksi sesuai kewenangan kabupaten. Pada posisi ini, tupoksi dimaksud adalah membantu mengarahkan pengendara di titik pintu masuk dan keluar dari dan ke Lombok Utara.

Sementara, keputusan menahan laju kendaraan atau mengalihkan ruas jalur, disesuaikan dengan situasi yang ada. Untuk keputusan tersebut pun, Pemda KLU masih harus berkoordinasi dengan instansi terkait, termasuk Kepolisian dan Pemprov NTB.

“Untuk langsung menutup, perlu dirapatkan dulu seperti sebelumnya saat dimulai penebangan kayu. Sekarang bisa diambil langkah itu, kalau terjadi hujan,” imbuhnya.

Kendati korban jiwa nihil pada peristiwa insidentil itu, Totok berharap peran kontraktor memberi informasi dan berkoordinasi dengan instansi terkait baik di kabupaten dan provinsi. Mengingat di sisi lain, laju kendaraan lalu lintas juga terdampak dan memberi dampak atas kelancaran proses pemindahan material. “Kami tetap mengimbau, sebaiknya pengendara mengambil jalur Senggigi, lebih aman. Dan, kontraktor juga perlu mengantisipasi setiap kemungkinan,” pungkasnya. (ari)

AdvertisementJasa Pembuatan Website Profesional