Jaksa Bidik Tersangka Kasus LCC

Dedi Irawan (Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – Setelah menaikkan status kasus menjadi penyidikan, Kejaksaan Tinggi NTB menemukan indikasi tindak pidana pada proses agunan lahan Lombok City Center (LCC). Status penyidikan dilanjutkan untuk penetapan tersangka, dengan terlebih dahulu memanggil saksi-saksi.

Penyelidikan dan penyidikan kasus ini dimaksimalkan pada Mei lalu.  Setelah masuk awal Juni, pemeriksaan tambahan dilakukan terhadap perbankan yang melakukan pencairan dana agunan. Setelah saksi tambahan itu, penyidik semakin menguatkan bukti dan mengarah ke calon tersangka.

Iklan

‘’Dalam waktu dekat kita akan segera tetapkan tersangka. Penyelidikan dan penyidikannya sudah dimaksimalkan, termasuk selama puasa kemarin.  Setelah pemeriksaan saksi tambahan, sudah ada gambaran penetapan tersangka,’’ jelas juru bicara Kejati NTB, Dedi Irawan, SH.,MH, Selasa (25/6) kemarin.

Selanjutnya, masih ada pemeriksaan beberapa saksi di tingkat penyidikan. Para saksi dimaksud, sudah pernah diperiksa di tingkat penyelidikan dan penyidikan sebelumnya. ‘’Bisa jadi nanti yang diperiksa itu dalam kapasitas sebagai tersangka.’’ ‘’Kemarin kan penyidikan umum, nanti saat pemeriksaan  beberapa saksi, akan muncul di antaranya siapa tersangkanya,’’ jelas Dedi.

Saat ini fokus penyidikan masih seputar agunan atas-aset daerah berupa lahan 8,4 hektar di pusat perbelanjaan LCC. Dari agunan itu, ada indikasi tindak pidana yang membelit nama pihak PT Tripat, perusahaan daerah  yang menyerahkan aset itu untuk diagunkan.

Dengan nilai agunan Rp95 miliar, Kejati NTB menemukan indikasi tindak pidana yang mengarah pada kerugian negara. Kerugian dimaksud, belum spesifik disebutkan sumbernya. ‘’Sedang dilakukan audit untuk kerugiannya, bagian yang mana saja nanti, akan disampaikan setelah penetapan tersangka,’’ jelasnya.

Kejaksaan Tinggi NTB menemukan indikasi tindak pidana pada lahan LCC, Desa Gerimaks, Kabupaten Lombok Barat. Pelanggarannya diduga pada proses agunan lahan seluas 8,4 hektar senilai Rp95 miliar lebih. Kesimpulan indikasi tindak pidana itu terungkap dari ekspose yang dilakukan Mei lalu oleh tim Pidsus Kejati NTB. (ars)