Jagung Dompu Jadi ‘’Hot Topic’’, Petani Jagung Dompu Dicari Presiden di Penas XV Aceh

Banda Aceh (Suara NTB) – Presiden RI, Ir H Joko Widodo yang membuka acara Pekan Nasional (Penas) Petani Nelayan ke XV di Aceh, Sabtu, 6 Mei 2017 mencari petani jagung Dompu untuk menanyakan cerita jagungnya. Kenangan Presiden 2 tahun lalu menghadiri panen raya jagung di Dompu dan menjadi titik awal kemajuan jagung nasional tidak bisa dilupakan Joko Widodo.

“Yang hadir di sini ada petani jagung? Yang dari Dompu ada? Dari daerah lain, Jawa Timur ada? Silakan maju. Yang petani jagung silakan maju. Yang ndak petani jagung, jangan maju. Dua orang saja, silakan maju,” kata Presiden Joko Widodo pada acara pembukaan Penas Petani Nelayan ke XV di Aceh, Sabtu.

Iklan

Bupati Dompu, Drs H Bambang M Yasin saat berbicara pada dialog dengan Mentri Pertanian RI yang diwakili oleh Sekjen Kementrian Pertanian RI bersama Gubernur, Bupati dan walikota se – Indonesia tentang mewujudkan kedaulatan pangan dan kesejahteraan petani di hotel Hermes Kota Banda Aceh, Sabtu, 6 Mei 2017.

Yang maju justru tiga orang yaitu Abdul Muhyi petani jagung dari Kabupaten Sampang Madura Jawa Timur. Feli Paputungan, petani dari Sulawesi Utara Kota Papulungan, dan Safii dari Lombok Timur, NTB.

Kehadiran Safii yang memperkenalkan diri dari NTB sempat menjadi perhatian karena terkesan mengajari Presiden. Presiden mengiranya petani jagung asal Dompu. Oleh Safii justru menjelaskan bahwa Dompu juga bagian dari NTB. Namun Presiden kembali mempertegas pertanyaannya untuk meyakinkan Safii berasal dari daerah mana di NTB, baru dijawab asal Lombok Timur.

Saat diminta menceritakan soal jagungnya, Safii mengaku, sebagai ketua kelompok tani dan bercocok tanam jagung di lahan basah dengan produksi saat ini mencapai 17 ton per ha dari sebelumnya hanya 8 ton. Harga jagung per ha Rp 3.700.

Presiden yang ragu dengan penjelasan Safii soal produktivitas 17 ton per ha, beberapa kali menanyakan kebenaran penjelasannya. ‘’Benar 17 ton? Nanti saya pergi lihat lo,’’ tanya Presiden memyakinkan. Safii tetap dengan jawaban awalnya produktivitas jagungnya 17 ton per ha. “Hal-hal seperti ini yang harus ditularkan ke saudara – saudara di kabupaten  yang lain,” tambahnya.

Tidak hanya meragukan soal produktivitas jagung, Presiden Joko Widodo juga terkesan meragukan harga jagung Rp.3.700 per kg. Harga jagung yang disampaikan Safii berbeda jauh dari yang disampaikan Abdul Muhyi dan Feli Paputungan bahwa harga jagung Rp 3 ribuan per kg di tingkat petani.

‘’Harganya semakin mahal ini. Saya senang. Ndak apa. Dulu saya ke Dompu, banyak yang marah karena harganya rendah Rp.1.500 sampai Rp.1.700 (per kg),” kata Joko Widodo.

Kesan Presiden soal jagung Dompu ini tidak dilupakannya. Apalagi saat kunjungannya ke Dompu untuk panen raya jagung tahun 2015 dan diawali kunjungan ke Magetan Jawa Timur. Para petani mengeluhkan rugi dengan harga yang rendah akibat tingginya impor jagung. “Pak kami rugi gede. Pak kita rugi besar karena harganya jatuh. Kenapa jatuh? Karena impornya besar pak. Saya cek impornya, betul,  3,6 juta ton (impor). Dan saat itu juga saya perintahkan ke Menteri Pertanian untuk 5 tahun ini supaya tidak ada impor lagi jagung,’’ tuturnya.

Setahun kemudian, Joko Widodo mengaku mengeluarkan Instruksi Presiden (Inpres) tentang harga patokan pembelian jagung di petani Rp2.700 per kg dalam keadaan basah dari sebelumnya Rp.1.500 sampai Rp.1.700 per kg. Dengan dipaksa harga seperti itu, petani bergairah untuk menanam jagung karena menguntungkan.

Data Menteri Pertanian, pada akhir 2016, impor jagung tinggal 900 ribu ton dari 3,6 juta ton dan ini kerja keras petani, karena harganya naik. “Tahun ini kita harapkan, tidak ada impor jagung karena tinggal 900 ribu ton, karena dalam 2 tahun yang 3,6 juta hanya jadi 900 ribu ton. Itu saya kira tahun ini kita tidak impor lagi karena sudah bisa dipenuhi oleh petani-petani kita dalam negeri,” tegasnya.

Bupati Dompu, Drs H Bambang M Yasin pada acara dialog dengan Menteri Pertanian RI yang diwakili oleh Sekjen Kementrian Pertanian RI bersama gubernur, bupati dan walikota se – Indonesia tentang mewujudkan kedaulatan pangan dan kesejahteraan petani di Hotel Hermes Kota Banda Aceh, Sabtu (6/5) malam langung mengambil kesempatan untuk berbicara. “Hari ini Pak Presiden menyebut kabupaten saya berkali – kali, itu karena jagung. Jagung Dompu begitu ‘’seksi’’ karena dari 0 ha, sekarang menjadi 50 – 60 ribu ha setiap tahun. Kenapa itu bisa terjadi. Karena bupatinya berani memilih. Jadi kita memilih komuditas apa yang sesuai kondisi daerah masing – masing, itu yang paling penting,’’ tegasnya.

Bila ingin mewujudkan kedaulatan pangan dan kesejahteraan petani nelayan, tegas H Bambang, negara harus berani memilih. Kalau mengurus semua komuditas yang ada, sehingga tidak ada satupun yang tuntas diurus. Sekarang seperti jagung,  kedelai,  padi misalnya. ‘’Kedelai impor dari segala hal, tidak bisa kita kalahkan. Dari rasa, tampilan dan sebagainya kita pasti kalah. Kalau menurut saya, ndak usah fokus mengurus kedelai, kita fokus mengurus komuditas yang memiliki uang yang banyak ke petani,” katanya.

Ia juga menyampaikan, harga jagung saat ini relatif stabil di atas Rp 3 ribu per kg dengan produktivitas 8 ton sampai 12,5 ton per ha. “Kalau ini bisa kita tularkan ke daerah lain sesuai kondisi geografis masing-masing, saya yakin apa yang menjadi mimpi kita di tahun 2045 menjadi lumbung pangan dunia, saya pikir harus ada langkah – langkah konkrit,” tegasnya. (ula/*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here