Jaga Keaslian Bahan, Kue Lupis dan Serabi Ibu Mahuri Tetap Laris Manis di Zaman Modern

Mataram (suarantb.com) – Jalanan masih lengang. Hanya satu dua kendaraan yang melintas. Waktu menunjukkan pukul 05.30 Wita. Belum ada aktivitas yang tampak di lokasi sekitar SDN 37 Ampenan, Mataram.

Namun tidak dengan satu pemandangan yang terletak persis di sudut tanah lapang, tepat berada di sebelah selatan bangunan SD tersebut. Perempuan setengah baya itu tampak sibuk menyusun nampan-nampan, rantang, dan kompor yang ada di sekitarnya.

Iklan

Tak lama kemudian, kue lupis, ketan, cenil, serabi dan beberapa kue lainnya segera tersusun rapi di hadapannya. Aroma gurih dan manis menyeruak dari kue serabi yang dimasak di atas lubang-lubang kecil berdiameter 20 cm.

Namanya ibu Mahuri. Ia mengaku telah 20 tahun menjajakan kue lupis dan serabi buatannya. Awalnya, selama 5 tahun ia berjualan keliling sambil menjunjung nampan kue dagangannya. Sebelum akhirnya memutuskan untuk berjualan menetap di samping SD 37 Ampenan.

Dengan memanfaatkan lahan kosong di samping sebuah berugaq yang berada di tanah lapang samping SDN 37, ia mengaku berjualan pukul 06.00 Wita. Kue lupis dan serabi yang dijualnya beserta beberapa jajan tradisional lain, akan ludes terjual pada pukul 10.00-12.00 Wita.

Selain anak-anak sekolahan, pembeli yang datang beragam. Mulai ibu-ibu hingga bapak-bapak, hampir semuanya tampak akrab dengan Mahuri. Umumnya mereka mengaku telah lama berlangganan kue lupis Mahuri. Semakin siang, pembeli yang datang tampak semakin banyak. Hampir tak ada waktu rehat sejenak untuk wanita paruh baya itu.

Wanita yang berumur 53 tahun itu mengakui, saat ini sudah tidak banyak orang yang menjual kue lupis. Kalaupun ada, banyak dari kue lupis tersebut memakai bahan campuran. Sehingga rasanya tidak lagi asli.

Terlebih proses pembuatannya yang terbilang cukup lama dan rumit, membuat tak banyak orang berniat menjual kue tradisional tersebut. Namun tidak baginya. Ia mengaku banyak memiliki pelanggan, karena masih menjaga keaslian bahan dan cara pembuatan kue lupis dan serabi.

Untuk lupis misalnya, ia menggunakan beras ketan asli yang dicampur kelapa dan beberapa bahan lain, untuk kemudian dikukus dengan daun pisang selama 5 jam.

Untuk serabi, ia menggunakan tepung beras asli tanpa pengembang. Kelapa yang digunakan sebagai taburan juga kelapa segar yang tidak dikukus. Juga dengan gula merah asli tanpa menggunakan campuran lain.

Keaslian bahan itu diakuinya membuat pelanggan masih setia membeli kuenya. “Sebenarnya untung juga ndak banyak, karena semua bahannya kan asli jadi mahal juga. Tapi untuk mau enak dan bertahan, ya harus gunakan bahan asli semua,” ujarnya saat berbincang dengan suarantb.com.

Saat ini, ia hanya mengandalkan tempat yang saat ini ditempatinya. Ditanyai soal kemungkinan pindah dan menggunakan gerobak, Mahuri mengaku masih terkendala biaya. Keuntungan dari hasil jualan kue, selalu habis untuk membiayai suami dan juga orang tuanya yang sakit-sakitan.

Sang suami yang tidak memiliki pekerjaan tetap, membuat Mahuri harus menyekolahkan kelima anaknya hingga SMA.
“Kalau saya disuruh pindah, saya ndak tau mau jualan di mana lagi. Mau keliling udah ndak kuat, mau beli gerobak juga ndak ada modal. Untung dari jualan habis untuk biayain keluarga,” ungkapnya.

Keuntungan yang didapat perhari, menurutnya cukup untuk biaya makan sehari-hari. Tidak ada yang bisa ditabung, karena selalu habis untuk biaya pengobatan suami dan orangtua.

Tak ada pilihan lain. Mahuri, harus tetap berjualan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan keluarga.
Di tengah gempuran modernisasi, banyak kue tradisional yang mulai punah. Tergantikan dengan kue-kue modern. Namun Mahuri bisa membuktikan, bahwa kue tradisional masih bisa bertahan.

Syaratnya, tetap mempertahankan keaslian bahan dan cara pembuatan. Hanya dengan begitu, kue tradisional mampu bertahan melawan kepunahan. (hvy)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here