Jadi Sekolah Inklusi, Smansa Mataram Beri Perlakuan Khusus ABK

Suasana pendampingan siswa inkkusi di SMAN  Mataram belum lama ini. (Suara NTB/ist)

Mataram (Suara NTB) – Keberadaan Sekolah Luar Biasa (SLB) untuk memenuhi kebutuhan pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) memang sudah tak asing lagi. Namun, konsep baru berupa sekolah inklusi yang menggabungkan proses pembelajaran anak-anak normal dan ABK kini semakin populer.

Implementasi pendidikan inklusif diyakini bermanfaat bagi siswa reguler maupun siswa difabel. Di Mataram, SMAN 1 Mataram menjadi sekolah inklusi yang menggabungkan antara siswa berkebutuhan khusus dengan siswa reguler lainnya.

Iklan

Pembimbing Pelaksana Sekolah Inklusi Rudi Hidayat, M.Pd., mengutarakan pendidikan inklusi dapat didefinisikan sebagai sistem penyelenggaraan pendidikan yang memberikan kesempatan bagi siswa normal, maupun siswa difabel untuk mengikuti proses pembelajaran dalam satu lingkungan yang sama. Sistem tersebut memungkinkan siswa difabel yang tidak mengalami disabilitas intelektual untuk tumbuh dan berkembang di lingkungan sekolah reguler, bukan SLB.

Berbeda dengan sekolah kebanyakan, sekolah inklusi adalah sekolah dengan model yang memberi ruang bagi siswa dengan kebutuhan khusus. Dalam sekolah inklusi, guru memberikan perhatian yang sama bagi siswaberkebutuhan khusus dengan siswa reguler.

Kecenderungan inklusivitas ini diharapkan mampu mengatasi kesenjangan pendidikan bagi siswa difabel, karena anak-anak berkebutuhan khusus juga memiliki potensi serta kecerdasan yang patut dikembangkan.

Prinsip utama yang dipegang sekolah inklusi adalah bahwa setiap anak bernilai sama, diperlakukan dengan respek, dan memberi ruang untuk belajar yang setara. Artinya, anak dengan kebutuhan khusus tidak lagi harus bersekolah di Sekolah Luar Biasa (SLB) dan bisa berinteraksi dengan anak lainnya di sekolah inklusi.

Dikatakan Rudi Hidayat, khusus untuk siswa ABK di SMAN 1 Mataram, siswa ABK yang masuk ialah dengan istilah tunalaras. Tunalaras adalah individu yang mengalami hambatan dalam mengendalikan emosi dan kontrol sosial. Individu tunalaras biasanya menunjukan perilaku menyimpang yang tidak sesuai dengan norma dan aturan yang berlaku di sekitarnya. Tunalaras dapat disebabkan faktor internal maupun faktor eksternal pengaruh dari lingkungan sekitar.

Klasifikasi Anak tunalaras secara garis besar anak tunalaras dapat diklasifikasikan menjadi anak yang mengalami kesukaran dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial dan anak yang mengalami gangguan emosi. Siswa ABK di Smansa Mataram ini masuk dalam klasifikasi the semi-socialize child, anak yang termasuk dalam kelompok ini dapat mengadakan hubungan sosial tetapi terbatas pada lingkungan tertentu.

Misalnya keluarga dan kelompoknya. Keadaan seperti ini datang dari lingkungan yang menganut norma-norma tersendiri, yang mana norma tersebut bertentangan dengan norma yang berlaku di masyarakat. Anak menjadi selalu merasakan ada suatu masalah dengan lingkungan di luar kelompoknya.

Menurutnya, siswa tunalaras termasuk anak yang mengalami gangguan emosi neurotic behavior anak pada kelompok ini masih bisa bergaul dengan orang lain, akan tetapi mereka mempunyai masalah pribadi yang tidak mampu diselesaikannya. Mereka sering dan mudah dihinggapi perasaan sakit hati, perasaan cemas, marah, agresif, dan perasaan bersalah.

Di samping itu, terkadang mereka melakukan tindakan lain seperti mencuri dan bermusuhan. Anak seperti ini biasanya dapat dibantu dengan terapi seorang konselor. Keadaan neurotik ini biasanya disebabkan oleh sikap keluarga yang menolak atau sebaliknya, terlalu memanjakan anak serta pengaruh pendidikan yaitu karena kesalahan pengajaran atau juga adanya kesulitan belajar yang berat.

Dia berharap dengan adanya siswa inklusi di SMAN 1 Mataram ini, perkembangan intelektual siswa difabel dapat berlangsung secara maksimal bila menerima materi pelajaran sesuai dengan usia dan kapasitas pola pikirnya. Selain itu diharapkan pula kemampuan sosialisasi siswa difabel dapat meningkat secara signifikan. Para ABK memang harus bergaul di lingkungan yang sama dengan anak-anak normal, sehingga tidak merasa dikucilkan.  “Setiap anak itu hebat,” ujarnya usai melakukan pendampingan. (dys)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional