Jadi Percontohan Seribu Desa Sapi, Areal Tanam Pakan di Desa Mertak Diperluas, Sumur Bor Diperbanyak

Lading hijau pakan ternak berupa rumput gajah. (Suara NTB/ist)

Mataram (Suara NTB) – Desa Mertak, Kecamatan Pujut Kabupaten Lombok Tengah adalah satu dari lima desa yang ditetapkan sebagai percontohan program Seribu Desa Sapi Kementerian Pertanian. Sebagai desa percontohan di NTB dan di Indonesia, kelompok ternak “Mekar Jati” berkomitmen, program ini bisa berhasil.

Apalagi dalam rencana strategis, Desa Mertak didesain termasuk sebagai penyangga pariwisata di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika dari sektor peternakan. Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan) Provinsi NTB, Ir. Hj. Budi Septiani bersama sekretaris dinas, Iskandar Zulkarnain serta rombongan teknis lainnya meninjau persiapan kelompok, Selasa, 22 September 2020. pasca penetapannya oleh Kementerian Pertanian.

Iklan

Desa Mertak memang layak dijadikan percontohan seribu desa sapi. Masyarakat setempat bisa dikatakan sangat siap. Terutama dari penyediaan pakan. Sepanjang lahan, rumput gajah dan turi menghijau. Padahal musim kemarau. Ketua Kelompok Mekar Jati, Kalap, bersama Sekretarus Kelompok, Janum serta anggota kelompok lainnya menyampaikan, persiapan tengah dikebut. Sekitar Bulan Oktober 2020 ini, Kementerian Pertanian akan mendistribusikan seribu sapi impor unggulan di lima desa yang telah ditetapkan.

Yakni, Desa Mertak, Desa Sukadana, Desa Pengengat, Desa Bangket Parak dan Desa Teruai. Semua dalam satu kecamatan, seperti yang disyaratkan pusat. Satu desa satu kelompok yang terdiri dari 100 orang anggota. Total 500 anggota kelompok di lima desa ini. Janum mengatakan, para anggota kelompok yang terdiri dari para peternak dan pemilik lahan sedang mempersiapkan pengembangan luas Hijauan Pakan Ternak (HPT).

Selain itu, para anggota juga menambah investasi dengan memperbanyak sumur bor, atau memperdalam sumur bor yang sudah ada. Sumur bor ini biasanya dimanfaatkan untuk mengairi rumput gajah yang ditanam. Untuk satu meter, biaya yang dibutuhkan hingga Rp500 ribu. Tergantung keadaan tanahnya.  Selama ini masyarakat setempat secara turun temurun hidup dari beternak. Satu kepala keluarga minimal memiliki dua ekor sapi. Dari sapi-sapi inilah, mereka membiayai sekolah dan kebutuhan lainnya.

Kelompok ini juga tengah mempersiapkan puluhan are lahan untuk pembuatan kandang. Sesuai desainnya, kadangnya akan dibuat permanen. Disebutnya hotel ternak. Pembangunan kandang dibiayai oleh Kementerian Pertanian. Janum menambahkan, setiap anggota kelompok diharuskan memiliki lahan. Minimal 40 are. Untuk memenuhi 40 hektar minimal kesiapan HPT. Selama ini, selain untuk kebutuhan pakan ternaknya, masyarakat setempat juga menjual rumput gajah. Ukuran 5×10 meter areal, dijual sekali panen lebih dari Rp1 juta. Panen dilakukan sebulan sekali.

“Sekarang anggota fokus untuk penyiapan pakan untuk sapi-sapi yang akan datang ini. Apalagi sapi yang diberikan ini kebutuhannya tiga kali dari kebutuhan sapi normal,” demikian Janum. Kepala Dinas Nakeswan Provinsi NTB, Ir. Hj. Budi Septiani mengatakan, setelah persiapan rampung, Kementan melalui Balai Besar Inseminasi Buatan (BBIB) Singosari akan mendistristirbusikan sapi-sapinya. Jenis Limosin dan Simental.

NTB tahun ini adalah satu dari lima provinsi di Indonesia yang dijadikan percontohan. Lainnya Lampung, Jawa Timur, Sulawesi Selatan dan NTT. Untuk program jangka panjang, dari seribu desa di Indonesia, ada 50 desa kuota NTB. tahun 2020 ini dimulai dari 5 desa di Lombok Tengah. Tidak semua desa dapat dipilih. Syaratnya adalah tersedia HPT seluas 40 hektar minimal. Ketersediaan air cukup. Tersedia lokasi pembangunan kandang minimal 60 are. Pengelolaan kelompok ternak penerima modal usaha ternak ini dikelola profesional oleh korporasi. Tersedia struktur organisasi. Masing-masing memiliki divisi. Misalnya divisi kesehatan, divisi penyediaan pakan, divisi pemasaran, dan lainnya.  Penentuan korporasi ini akan dimatangkan.

Dari lima desa yang sudah ditetapkan ini, Kementan mengalokasikan anggaran sekitar Rp31 miliar. Rp25 miliar diantaranya untuk pembelian seribu ekor sapi unggulan. Betina dan untuk penggemukan. Satu desa dapat 200 ekor. 100 ekor betina siap bunting, 100 ekor akan digemukkan untuk pemotongan memenuhi kebutuhan daging nasional.

Hj. Budi menambahkan, lima desa ini nantinya akan menjadi keberadaan KEK Mandalika untuk wisata peternakan.  Kotoran ternak akan dijadikan bio gas, dan pupuk organik. Kooditas pertanian lainnya akan hidup. Usaha-usaha lain masyarakat sekitar juga akan hidup. Selain pengembangan peternakannya. Jalan-jalannya juga berpotensi di aspal untuk mendukung desa wisata ternak. (bul)