Jadi Pengepul Sampah, Wanita Ini Mampu Kuliahkan Anak Jadi Calon Perawat

Mataram (suarantb.com) – Rumah itu nampak sederhana, halamannya luas. Namun, hampir seluruh halamannya dipenuhi oleh tumpukan karung-karung besar berisi sampah. Ukurannya beragam, dari yang kecil hingga yang besar, semua tertumpuk rapi di sudut-sudut pekarangan rumah.

Rumah itu milik Zuriati (45), sudah 19 tahun ia menjalani profesinya sebagai pengepul sampah. Tak ada yang menyangka, profesi oleh banyak orang dipandang sebelah mata ini, justru menghasilkan pundi-pundi keuangan yang menggiurkan.

Iklan

Bagi banyak orang, sampah merupakan barang kotor yang sering dihindari. Tapi tidak bagi Zuriati. Justru dari profesi ini, Zuriati mengaku mampu menguliahkan sang anak di jurusan keperawatan. “Dari kerjaan ini saya bisa kuliahin anak saya yang bungsu di Jogja, jurusan perawat,” katanya kepada suarantb.com, Minggu, 12 Maret 2017.

Perkenalannya dengan sampah dimulai sejak tahun 1999 lalu. Waktu itu, ia masih berkeliling memungut sampah sambil membawa anaknya yang berusia 7 tahun. “Saya awalnya keliling nyari sampah, sambil nuntun anak saya yang bungsu itu keliling, selama 2 tahun saya mulung sampah,” ujarnya.

Keinginan untuk merubah nasib, menjadi alasan kuat Zuriati berpikur keras untuk memperoleh keuntungan yang lebih besar. Terlebih ia mengaku tidak mampu menafkahi keempat anaknya jika hanya mengandalkan gaji sang suami yang sebagai penjaga malam di sekolahan.

Dari sanalah ia memutuskan menjadi pengepul sampah. Dengan modal seadanya, ia kumpulkan beberapa pemulung yang bersedia menjual sampahnya. Saat ini ia telah memiliki 10 orang pemulung.

“Saya tinggal beli aja, anak buah sekarang ada 10 orang, rata-rata mereka jual ke saya seminggu sekali, bulanan juga pernah,” ujar warga yang tinggal di lingkungan Pejeruk Desa Kecamatan Ampenan ini.

Perbulannya, para pemulung mendapat penghasilan yang beragam. Mulai dari Rp 400 – 500 ribu. Pada hari biasa dan acara besar, keuntungan pemulung diakuinya lebih banyak. Namun ia juga bisa membayar pemulung secara harian dan juga mingguan.

Sekilonya, sampah plastik ia beli dengan harga Rp 1.700 , kardus Rp 1.200 , kertas Rp 1.000 , besi Rp 1.500 dan barang antik dibeli dengan harga Rp 10.000 per kg. “Ada yang lebih mahal kalau rongsokan tembaga itu belinya Rp 40.000 per kg, saya jual bisa Rp 50.000 ,” ungkapnya.

Sampah-sampah itu kemudian dijualnya ke bos (sebutan kepada pemilik gudang sampah) yang berada di Cakranegara. Ia bisa menjual dengan selisih Rp 500-1.000 dari harga belinya per kg. “Seperti kardus saya bisa jual Rp 1.700 dan plastik Rp 2.200 per kg,” imbuhnya.

Dalam sebulan, Zuriati mengaku bisa meraup Rp 8 juta dari total sampah plastik, kardus, besi, tembaga, dan kertas. Uang itu, selain untuk membiayai anaknya yang sekolah, digunalan juga sebagai modal untuk membeli sampah dari para pemulung.

Tidak ada rasa gengsi dan malu dimiliki Zuriati karena berkutat dengan sampah. Ia justru bangga, karena dari profesi yang ditekuninya itu, ia mampu menyekolahkan anak hingga ke perguruan tinggi. (hvy)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here