Izin Retail Modern Harus Selektif

Praya (Suara NTB) – Jika tidak diimbangi dengan kajian dan proses pertimbangan yang matang, keberadaan retail modern di sebuah daerah bisa menjadi bumerang bagi daerah itu sendiri. Karenanya, pemberian izin untuk berdirinya retail modern memang sudah seharusnya dibuat lebih selektif.

Pandangan ini disampaikan Kabag Administrasi Ekonomi Setda Kabupaten Loteng, Ikhsan, S.Hut, SH, kepada Suara NTB, usai pertemuan dengan Wakil Ketua DPRD NTB, di Mataram, Senin, 20 Maret 2017.

Iklan

Menurut Ikhsan, jumlah retail modern yang terlalu padat di sebuah daerah bisa menjadi ancaman bagi tumbuh kembangnya usaha kecil di daerah tersebut. Menurut Ikhsan, pelaku usaha kecil yang bergerak di bidang usaha yang sama, lambat laun akan gulung tikar jika dikepung oleh retail modern dalam jumlah yang banyak.

Saat jumlahnya sudah begitu banyak, retail modern akan lebih dipilih oleh konsumen di daerah tersebut. Menurut Ikhsan, saat ini sudah terjadi pergeseran perilaku berbelanja masyarakat. Masyarakat lebih senang berbelanja di retail modern karena kenyamanan dan prestise yang ditawarkan oleh retail modern. Dengan demikian, terkadang konsumen tidak lagi memperhatikan faktor harga yang ditawarkan retail modern.

“Pada umumnya masyarakat kita cukup merasa bangga ketika membawa kresek dari retail modern itu,” ujar Ikhsan.

Ikhsan menilai, saat pelaku usaha kecil tersingkir, maka retail modern akan semakin leluasa mengendalikan pasar. Hal ini akan semakin tidak menguntungkan bagi masyarakat. Sebab, sebagian besar keuntungan retail modern seringkali tidak mengalir ke NTB, melainkan ke luar daerah.

“Karena barang-barang itu produksinya di luar. Itu juga yang membuat lambatnya perputaran uang rupiah,” ujarnya.

Meski demikian, Ikhsan menegaskan bahwa pemerintah daerah di Loteng bukannya alergi terhadap keberadaan retail modern. Yang perlu dilakukan, ujarnya, adalah menerapkan seleksi yang ketat terhadap perizinan retail modern di NTB.

“Perizinan satu atap agar berhati-hati memberikan izin untuk retail modern ini. Kalau ada pasar tradisional, jangan di dekat situ. Retail modern, kalau mau membangun, suruh bangun di salah satu kecamatan atau desa, dalam rangka mempercepat terbangunnya struktur ekonomi di daerah tersebut,” ujarnya.

Ikhsan menilai, retail modern yang dibangun di daerah yang struktur ekonominya belum berkembang, bisa melahirkan perkembangan yang positif. Keberadaan sebuah retail modern di daerah semacam ini, bisa memantik lahirnya pusat keramaian baru yang pada akhirnya ikut memicu tumbuhnya pelaku usaha kecil di sekitarnya.

Dalam situasi yang demikian, ujar Ikhsan, keberadaan retail modern adalah sebuah hal yang positif. “Perlu ada zona khusus yang harus kita tetapkan. Retail modern akan baik jika didirikan untuk membantu pembentukan struktur ekonomi baru di sebuah daerah. Radius berdirinya retail itu hendaknya menjadi perhatian,” pungkas Ikhsan. (aan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here