Ironi Peti di Lahan Konsesi; Perdagangan Merkuri Serupa Transaksi Narkoba

Juaini, warga Desa Aik Kangkung Kecamatan Sekongkang, menunjukkan bulir emas yang masih bercampur zat kimia merkuri. Warga penambang terbiasa menggunakan merkuri tanpa memperhatikan kesehatan. (Suara NTB/ars)

Laju aktivitas Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di Kabupaten Sumbawa Barat belum menunjukkan akan surut. Tapi upaya memutus mata rantai peredaran merkuri dan zat berbahaya lainnya dianggap efektif menghentikan perlahan aktivitas penambangan emas liar itu. Lalu, bagaimana perkembangannya, setelah gencar razia merkuri digelar di Sumbawa Barat?

Sebelum gencar-gencarnya razia suplai zat kimia dan bahan bakar minyak (BBM) ke kegiatan PETI, HM dengan mudah mendapatkan logam berat merkuri di toko-toko emas di Kota Taliwang. “Dulu jualnya bebas. Saya beli di toko emas Taliwang harganya 300.000. Sekarang sudah susah,”  kata HM, warga Taliwang kepada Suara NTB.

Iklan

Lambat laun setelah operasi penertiban gencar dilakukan,  stok semakin menipis. Merkuri sudah jadi barang langka, tak lagi semudah membeli kacang. Berbagai cara ditempuh demi mendapatkan merkuri meski dengan harga yang relatif mulai mahal.

‘’Sekarang beli merkuri ibarat beli sabu- sabu. Sulit didapat, harganya semakin mahal,’’ kata sumber lainnya. Untuk membeli satu botol merkuri yang sebelumnya hanya seharga Rp 300.000, melonjak hingga Rp 1 juta. Hukum pasar berlaku, karena semakin langka maka harga barang semakin meroket.  Harga yang beredar di Taliwang hingga Sekongkang dan lokasi lokasi PETI lainnya, sudah berkali lipat,  antara Rp1,8 juta hingga Rp2 juta per botol.

Untuk mendapatkan satu botol merkuri, mereka harus selektif mencari penjual agar tidak ditangkap aparat. ‘’Kalau mau beli ya kayak transaksi narkoba. Lihat kiri kanan, kalau  sudah aman, barangnya dikeluarkan dari jok motor. Kalau sudah dapat, langsung dipakai, jangan sampai ketahuan,’’ kata sumber tadi menyebut caranya mendapatkan barang itu.

Informasi mengenai rantai peredaran merkuri menjadi sulit diperoleh karena mereka semakin tertutup dan waspada kepada pertanyaan pertanyaan mengarah ke penjual. Mereka semakin waspada setelah Polres Sumbawa Barat membekuk  RD (43), warga  Kelurahan Arab Kenangan, Kecamatan Taliwang. RD sebelumnya ditangkap Sabtu (21/9) lalu oleh anggota Sat Reskrim Polres Sumbawa Barat sekitar pukul 12.30 Wita dengan TKP di Kelurahan Menala, Kecamatan Taliwang. Disita dari RD berupa barang bukti 1 botol merkuri dengan berat 1 Kg  tanpa dilengkapi surat izin.

Sebelumnya ada dua orang sudah ditangkap dari lokasi berbeda, dengan barang bukti dua botol merkuri. Dua orang ditangkap dalam kasus ini.

Meski termasuk dalam kategori barang legal dan penindakannya tidak diatur dalam KUHP, tapi pelaku tak bisa lolos dari pidana. Pertama, sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Bahan Berbahaya dan Beracun, mengkalisifikasi B3 di antaranya sebagai bahan yang berbahaya terhadap lingkungan hidup.  Dalam hal ini merkuri atau air raksa dikatagorikan sebagai Bahan Berbahaya dan Beracun (B3).

Selain mengenai peredaran atau perdagangan,  merkuri juga telah diatur dalam Pasal 43 ayat (1) Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. Pelaku diancam pidana penjara paling lama enam tahun dan denda paling banyak Rp 300.000.000.

Kegiatan PETI di Kabupaten Sumbawa Barat bergantung pada penggunaan zat zat kimia sejak tahun 2010, dipicu oleh kegiatan serupa di Pulau Lombok dan di Kabupaten Sumbawa seperti Lape dan Lantung.

Jika dikalkulasi, untuk satu karung material hasil galian sebesar 30 Kg, umumnya  diproses dalam 5 gelondong dengan penggunaan  merkuri (Hg) bervariasi, antara 2 Kg sampai  5 Kg per gelondong.  Pada gelondong yang bekerja secara manual, digunakan rata rata 7 x 24 jam, sehingga kebutuhan merkuri bisa mencapai 5 kg per gelondong per hari.

Dari satu karung material tersebut biasanya didapat 0,4 sampai 7 gram emas dengan perolehan konsentrasi emas yang cukup bervarariasi.

Dalam setiap proses pengolahan emas pada gelondongan, praktis tidak semua cairan merkuri mengikat emas. Sebagian terbuang dan bercampur dengan limbah atau scrub yang mengalir ke penampungan.

Survei yang pernah dilakukan Brama KSB pada bulan Juli 2014,  total jumlah gelondong untuk sistem amalgamasi mencapai 4.110 unit, dengan rata-rata per unit memiliki 10 gelondong.  Sedangkan proses pengolahan lain menggunakan tong atau sistem sianidasi. Proses ini menggunakan bahan baku sianida untuk pemisahan emas dari lumpur hasil gelondongan.  Di wilayah KSB, jumlahnya mencapai  95 unit yang sebarannya di sebagian wilayah PETI.

Tingginya kebutuhan penggunaan merkuri membuat warga penambang terus bersiasat. Mereka mencari cara untuk mendapatkan cairan logam berat tersebut, meski dengan harga mahal. ‘’Kalau ada, walaupun mahal, tetap kami beli,’’ kata Has.

Sementara ini mereka masih menggunakan stok merkuri yang masih ada, sembari terus mencari merkuri  yang semakin sulit. Karena beberapa penjual sudah diamankan polisi karena memperdagangkan zat kimia tanpa izin.

Situasi penambang  memang semakin terjepit seiring dengan upaya penertiban yang terus digencarkan. Aparat bersama Pemda terus berusaha memutus mata rantai peredaran merkuri, meski tak dipungkiri masih ada saja barang yang lolos ke tangan pengguna.

Dampak lain dengan kelangkaan ini, diduga beredarnya merkuri palsu. Berakibat  proses  pemisahan emas dengan kandungan material lain menjadi sangat lama dan hasil yang didapat tidak memuaskan.

‘’Warga mulai curiga, merkuri yang dijual sudah dicampur dengan bahan lain. Makanya sekarang agak hati hati juga  kalau beli barang. Sudah banyak yang palsu beredar,” ungkapnya. Meski terus dipersempit ruang geraknya, penambang terus bersiasat mencari alternatif. Merkuri bukan satu satunya zat pemberat untuk mengikat emas dengan lumpur. Menurut mereka ada sianida.

Upaya pemberantasan peredaran merkuri di lokasi tambang gencar dilakukan Polda NTB dan jajaran.  Polisi menutup enam titik aktivitas tambang liar di NTB dalam beberapa bulan terakhir. Sedikinya 10 orang ditetapkan sebagai tersangka. Langkah tegas itu diambil guna membatasi kerusakan dan pencemaran lingkungan akibat penggunaan zat kimia berlebihan.

Catatan Humas Polda NTB, penutupan sudah dilakukan bertahap di Lombok Barat, Lombok Tengah, KSB, Sumbawa Besar dan Dompu.  Selain  penutupan aktivitas PETI,  alur distribusi zat kimia dan  bahan bakar minyak yang dipakai para pelaku juga diputus.

‘’Sudah 11 kasus yang kami tangani. Dari kasus itu, 10 orang ditetapkan sebagai tersangka. Mereka  ini rata-rata ditangkap karena membawa barang bukti merkuri  dan BBM untuk tambang liar,’’ kata Kabid Humas Polda NTB, Kombes Pol. Purnama, SIK.

Barang bukti yang berhasil disita berupa 14 botol merkuri dengan total berat 5,5 Kg, air raksa 14 botol dengan berat 2 Kg, sianida sebanyak 25 kantong plastik dengan berat 1,5 Kg. Disita juga barang bukti 84 biji emas mentah berbagai ukuran.

Tingginya permintaan dan penggunaan merkuri ini, akan membawa pada pembahasan kembali tingkat pencemaran merkuri pada air di Sumbawa Barat.

Data dari  Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Sumbawa Barat yang didasarkan pada hasil Uji Laboratorium sampel air limbah dari kegiatan PETI yang dibuang ke berbagai saluran, menunjukkan hal mengkhawatirkan. Karena limbah dibuang begitu saja ke saluran irigasi.

Uji lab  menunjukkan bahwa hampir di seluruh daerah atau tempat dilakukannya uji sampel air tersebut dinyatakan tercemar merkuri. Dengan asumsi bahwa kadar dari masing-masing bahan kimia yang digunakan telah melampaui standar baku mutu  (BM) dari masing-masing bahan yang dimaksudkan (Lihat tabel).

Hasil uji sampel air limbah PETI tahun 2013 BLH Kabupaten Sumbawa Barat.
Hasil uji sampel air limbah PETI tahun 2013 BLH Kabupaten Sumbawa Barat.

Perintah operasi penutupan ini di bawah kendali langsung Kapolda NTB Irjen Pol. Nana Sudjana, dengan mengedepankan fungsi Ditreskrimsus Polda NTB. Selain Polda NTB turun langsung, Kepala Satgas masing- masing Polres juga turut bertindak. Seperti Polres Mataram, Polres Lombok Barat, Polres Lombok Tengah, Polres Dompu.

Barang bukti yang disita oleh Polda NTB dan masing masing Polres itu diantaranya, empat unit exavator, dua unit truk,  satu unit mobil pickup. Barang bukti lain, 17 ton batu gelana, 5.538 liter  BBM serta bahan bahan berbahaya lainnya seperti merkuri dan sianida.

Kabid Humas yang dikonfirmasi kembali soal operasi PETI, menegaskan pihaknya tidak akan surut sampai benar-benar ditutup. Meski demikian proses awal masih persuasif, namun tidak menutup kemungkinan akan menjadi represif jika tak membuahkan hasil. (ars)

AdvertisementJasa Pembuatan Website Profesional