IPM Rendah, Bupati Sebut Masyarakat Lotim Rendah Hati

Bupati Lotim,  H. M. Sukiman Azmy (Suara NTB/Humas Protokol Lotim)

Selong (Suara NTB) – Masih rendahnya Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Lombok Timur (Lotim) diakui Bupati H. M. Sukiman Azmy. Posisi Lotim terendah kedua se NTB, atau berada apada peringkat ke 9 dari 10 kabupaten/kota se NTB katanya karena ada banyak indikasinya. Salah satunya, masyarakat Lotim ini rendah hati.

“Jadi bukan rendah diri, tapi rendah hati,” tegas bupati saat diwawancara di Pendopo Bupati Lotim, Kamis, 27 Februari 2020.

Iklan

Saat petugas pendata datang menemui warga Lotim, ujarnya, jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang diajukan selalui kerendahan hati. ‘’Ditanya soal penghasilannya misalnya, selalu disebut terkecil. Fakta penghasilannya Rp 2,5 juta tapi disebut Rp 250 ribu. Penghasilan Rp 5 juta tapi disebut sekadar Rp 500 ribu,’’ ujarnya.

Jawaban dari warga Lotim inilah yang selalu dicatat petugas. Hal ini coba dibandingkan dengan kabupaten lain di luar Lotim. Soal harga diri kadang cukup diperhitungkan. Disoal soal penghasilan selalu menyebut angka tinggi. Berbanding terbalik dengan Lotim. Semisal penghasilan hanya Rp 500 ribu, namun disebut Rp 5 juta per bulan.

Pertanyaan soal anak pun ke warga Lotim ini kerap dengan penuh kerendahan hati. Jawaban di mana anak sekolah selalu disebut tidak ada yang sekolah. Padahal faktanya, semua anaknya sedang menempuh jenjang pendidikan tinggi. “Itu masyarakat kita itu, sedangkan di kabupaten lain dengan pertanyaan yang sama jawabannya tinggi,” imbuhnya.

Begitupun pertanyaan seputar rumah tempat tinggal. Rumah di tempat lain, banyak yang berutang agar bisa dapat membangun rumah bagus. Sedangkan di Lotim, seperti di wilayah Lotim bagian selatan dan utara. Sekaroh dan Sambelia. Rumah beratapkan jerami atau daun kelapa dan berdinding pagar bedek serta berlantaikan tanah, akan tetapi kerbaunya cukup banyak. Uangnya pun cukup banyak.

Namun, jika rumah sebagai indikator IPM memperlihatkan kondisi rumah, maka tidaklah heran kata Bupati posisi Lotim tidak bisa beranjak dari angka 9. “Ini karena rendah hatinya masyarakat yang tidak mau style tinggi,” urainya.

Untuk itu, bupati mengingatkan pada pendata di lapangan bisa melihat fakta di lapangan. Kalau sudah melihat ada sepeda motor dan apalagi mobil, pastinya penghasilannya sudah lebih dibandingkan yang lain. Jika rumahnya sudah keramik dan ada kamar mandi, memang berbeda dengan tampak luar. ‘’Kondisi penampilan sebenarnya bisa dilihat. Lebih-lebih kalau melihat fakta anak-anaknya sekolah di mana,’’ tambahnya.

Dalam upaya menggenjot peningkatan IPM, tambahnya, disadari paling rendah capaiannya ada pada sektor kesehatan. Sejauh ini, bupati mengaku sudah melakukan berbagai hal. Pertama Bupati Lotim sudah menghapus biaya-biaya pelayanan kesehatan yang berkaitan dengan retribusi. Begitu juga dengan biaya melahirkan dan biaya retribusi layanan kesehatan di rumah sakit dengan harapan, semua masyarakat tidak ada rasa ketakutan saat sakit hingga tidak mau berobat.

Meski demikian, kendala saat ini antara rumah sakit dan rumah jauh, kendaraan tidak terjangkau untuk naik ke fasilitas kesehatan. Dalam mengatasi masalah ini Pemkab Lotim mengeluarkan kebijakan untuk puskesmas keliling dengan maksud bisa menjangkau seluruh lapisan masyarakat, sehingga status kesehatan masyarakat meningkat.

Namun, bagi bupati yang paling menentukan di IPM, adalah Usia Harapan Hidup (UHH) yang bersinggungan positif dengan angka kematian bayi. “Mudah-mudahan bisa kita atasi masalah ini dengan berbagai macam cara yang sudah kita lakukan,” harapnya.

Paling tidak, puskesmas sebagai fasilitas kesehatan tingkat pertama saat ini Lotim sebanyak 37 unit. Rumah sakit sudah hampir empat. Dua yang definitif, RSUD Dr. Soedjono Selong dan Rumah Sakit Lotim di Labuhan Haji. Dua lagi, yakni di Keruak dan Aikmel sedang dipersiapkan. Ditambah lagi dua rumah sakit swasta RS Namira dan RS Risa. Satu lagi dalam waktu dekat juga segera beroperasi, yakni rumah sakit yang ada di Apitaik. (rus)