IPM NTB Bertahan di Posisi 30 Nasional

Mataram (Suara NTB) – Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Provinsi NTB masih bertahan di posisi 30  dari 34 provinsi di Indonesia. Badan Pusat Statistik (BPS) memasukkannya dalam provinsi ber IPM “sedang”. Kendati demikian, pertumbuhan IPM NTB cukup baik dan berada di atas pertumbuhan IPM nasional.

IPM Provinsi NTB pada tahun 2016 mengalami kemajuan yang ditandai dengan meningkatnya IPM dari dari 65,19 tahun 2015 menjadi 65,81 pada tahun 2016.  Atau meningkat dengan pertumbuhan  0,95 persen setahun,  sementara IPM  Nasional tumbuh sebesar 0,91 persen kata Kepala Bidang Neraca Wilayah dan Analisis Statistik BPS Provinsi NTB, Isa Ansori.

Iklan

Dalam keterangan resmi di kantor BPS Provinsi NTB, Senin, 17 April 2017, Isa membeberkan untuk tahun 2016, IPM Provinsi NTB masih berada pada kategori sedang sebagaimana tahun lalu. Penentuan IPM ini menggunakan metode baru di Indonesia. Di antaranya diukur dari dimensi umur panjang dan hidup sehat, dimensi standar hidup sehat, dimensi pengetahuan, dan agregasi indeks.

IPM NTB tahun 2016 sebesar 65,81, seluruh komponen mengalami kenaikan.

Bayi yang baru lahir memiliki peluang untuk hidup hingga 65,48 tahun, meningkat 0,1 tahun (1,2 bulan) dibandingkan tahun sebelumnya. Anak-anak usia 7 tahun memiliki peluang untuk bersekolah selama 13,16 tahun, meningkat 0,12 tahun (1,44 bulan) dibandingkan pada 2016.

Demikian juga penduduk usia 25 tahun ke atas secara rata-rata telah menempuh pendidikan selama 6,79 tahun (setara kelas VII SLTP), meningkat 0,08 tahun dibandingkan tahun sebelumnya. Dan pengeluaran per kapita masyarakat yang disesuaikan (harga konstan 2012) telah mencapai Rp 9,58 juta  pada tahun 2016, meningkat Rp 334 ribu rupiah dibandingkan tahun sebelumnya.

Meningkatnya daya beli ini, lanjut Isa, dihitung dari 96 komoditas. 60 diantaranya dari komoditas makanan dan 33 dari komoditas non makanan. Peningkatan daya beli ini sekaligus didukung oleh pertumbuhan ekonomi dan pergerakan investasi.

Pada tahun 2016, IPM NTB tumbuh 0,95 persen, tumbuh melambat disbanding tahun 2015. Tetapi menjadi pertumbuhan tercepat ke 14 se Indonesia. Tahun 2011 IPM NTB tumbuh 62,14, 2012 tumbuh 62,98, 2013 tumbuh 63,76, 2014 tumbuh 64,31, 2015 tumbuh 65,19 dan 2016 tumbuh 65,81. Atau jika dirata-ratakan setahun tumbuh 1,23 persen sejak enam tahun terakhir.

“NTB berada pada peringkat 30 nasional, namun hanya terpaut 0,07 poin dari Kalimantan Barat. IPM terendah adalah Papua, dan tertinggi DKI Jakarta,” jelas Isa.

Tahun 2016, laju pertumbuhan IPM nasional sebesar 0,91. NTB laju pertumbuhan IPM-nya sebesar 0,95. Berada pada urutan ke 14 provinsi dengan laju pertumbuhan IPM tertinggi setelah Papua, Sumatera Selatan, Jawa Timur, Maluku Utara, Bengkulu, Sumatera Barat, Sulawesi Tengah, Jambi, Lampung, DIY, Sulawesi barat, Banten, Kalimantan Selatan dan NTB.

“Peluang NTB besar untuk melampaui Kalimantan Barat dan Gorontalo beberapa tahun yang akan datang, jika laju pertumbuhan IPM NTB bisa tinggi,” ujarnya.

Status pembangunan manusia di NTB pada tahun 2016 masih berada pada kategori “sedang” (60-70). Untuk mengejar ketertinggalan dengan provinsi yang masuk pada level IPM “tinggi” (70-80) diperlukan usaha sampai 2021. Dengan catatan, kata Isa, perubahan harus konsisten dilakukan.

Di NTB, pertumbuhan IPM tertinnggi 2015-2015 yakni Kabupaten Lombok Utara (1,78 persen), menyusul Kabupaten Sumbawa (1,53 persen) dan Lombok Barat (1,44 persen).

Sementara pertumbuhan IPM terendah 2015-2016 adalah Kabupaten Bima (1,06 persen), Kota Bima (0,33 persen) dan Lombok Tengah (0,77 persen). Lainnya tumbuh sedang. (bul)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here