IPM NTB Bergeser ke Posisi 29

Mataram (Suara NTB) – Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Provinsi NTB berhasil naik peringkat ke posisi 29 nasional. Bahkan NTB tercatat sebagai provinsi dengan pertumbuhan IPM tercepat ketiga nasional, setelah Papua dan Papua Barat.

Sejak tahun 2013 hingga tahun 2016, IPM NTB bertahan pada posisi 30 nasional dari 34 provinsi. Tahun 2017, NTB berhasil keluar dari posisi tersebut, meskipun naik satu tingkat. Mengalahkan Sulawesi Barat dan Gorontalo untuk laju pertumbuhan IPMnya.

Iklan

Dalam keterangan resmi yang disampaikan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi NTB, Endang Tri Wahyuningsih di kantornya, Senin, 16 April 2018, dijelaskan, meningkatnya IPM Provinsi NTB dari 65,81 pada tahun 2016 menjadi 66,58 di tahun 2017 telah membawa Provinsi NTB menaiki tangga peringkat ke 29 dari 34 provinsi yang ada di Indonesia.

Meski begitu, IPM NTB masih berada pada kategori IPM sedang, laju pertumbuhan IPM NTB mencapai 1,17 persen. Semua komponen pembentuk IPM mengalami peningkatan di tahun 2017, Umur Harapan Hidup (UHH) meningkat menjadi 65,55 tahun dengan peningkatan 0,07 tahun.

Harapan Lama Sekolah (HLS) meningkat menjadi 13,46 tahun dengan penambahan sebanyak 0,3 tahun.  Rata-rata Lama Sekolah (RLS) meningkat menjadi 6,90 tahun dengan penambahan 0,11 tahun. Pengeluaran Per Kapita Per Tahun bertambah menjadi Rp 9.877 ribu dengan peningkatan sebesar Rp 302 ribu.

“Pengeluaran kita masih kurang dari Rp 1 juta setahun. Kalau saja mampu digenjot menjadi setidaknya sebesar UMP (Upah Minimum Provinsi Rp 1,7 juta), bisa dibayangkan laju pertumbuhan IPM NTB,” demikian Endang.

Melihat laju pertumbuhan kabupaten/kota di NTB, pertumbuhan IPM tertinggi ada di Kabupaten Lombok Tengah sebesar 1,80 persen, Kabupaten Sumbawa 1,46 persen, dan Kabupaten Bima 1,34 persen. Sementara pertumbuhan IPM terendah tahun 2016-2017 adalah Kota Mataram 0,83 persen, Kota Bima 0,94 persen dan Kabupaten Lombok Timur 1,05 persen.

IPM merupakan indikator yang digunakan untuk melihat perkembangan  pembangunan dalam jangka panjang. Untuk melihat kemajuan pembangunan manusia,  terdapat dua aspek yang perlu diperhatikan yaitu kecepatan dan status pencapaian.

Capaian IPM Provinsi NTB dalam 7 tahun terakhir cukup menggembirakan  dan terus  mengalami kemajuan. IPM Provinsi NTB meningkat dari 61,16 pada tahun 2010 menjadi 66,58 pada tahun 2017. Selama periode 2010-2017, IPM Provinsi NTB tumbuh 8,85 persen dengan status capaian IPM sedang. Laju pertumbuhan IPM 2017 dibandingkan 2016 juga  cukup tinggi yaitu 1,17 persen. Jika kecepatan pertumbuhan IPM dapat dipertahankan maka bukan tidak mustahil suatu hari nanti akan dapat mencapai level tinggi.

Untuk mempercepat peningkatan IPM ini, kata Endang, tiga hal penting yang harus diperhatikan adalah meningkatkan dimensi umur panjang dan hidup sehat (kesehatan), dimensi standar hidup layak (pendapatan), dan dimensi pengetahuan (pendidikan).

Mengingat NTB sebagai sektor penopang utama perekonomiannya adalah pertanian. Hilirisasi produk bukan lagi tawaran. Melainkan keharusan. Artinya, industri rumahan harus dikembangkan. Dalam hal ini, Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTB, Achris Sarwani menyebut, sebagai daerah pertanian, yang harus dilakukan adalah meningkatkan nilai tambah dari hasil komodititasnya.

“Bila industri dikembangkan, pertumbuhan ekonomi tidak numpuk di satu tempat, tetapi merata. Industri ini bisa mempercepat peningkatan IPM NTB,” ujarnya.

Selain itu, harapan lama sekolah juga harus dipercepat peningkatannya. Sebab pendidikan ini berkaitan erat dengan peluang kesempatan kerja. Apalagi NTB dengan progres pembangunan di sektor pariwisata, membutuhkan tenaga-tenaga siap pakai.

“Jangan sampai tenaga kerja kita nantinya yang digunakan tenaga kerja luar,” demikian Achris. (bul)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional