IPM Lotim Terendah Kedua di NTB

Saphoan (Suara NTB/rus)

Selong (Suara NTB) – Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Lombok Timur (Lotim) nomor urut terendah kedua atau nomor urut ke 9 dari 10 kabupaten/kota se NTB. Seperti dari rilis Badan Pusat Statistik (BPS) Lotim menyebut IPM Lotim 66,23. Meski terbilang terendah kedua, progres pertumbuhannya cukup bagus. Di mana, keadaan sebelumnya IPM Lotim berada pada angka 65,35.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Lotim, Saphoan, Rabu, 26 Februari 2020 menjelaskan, untuk melihat kinerja pembangunan yang dilakukan pemerintah daerah saat ini tidak dilihat dari posisi IPM semata. Akan tetapi indikator dilihat dari seberapa besar pertumbuhan IPM dari tahun sebelumnya.

Iklan

Data pertumbuhan IPM dari tahun 2018 ke 2019 ini sebesar 1,35 persen. Angka ini terbesar kedua setelah Lombok Tengah (Loteng) yang bisa tembus 1,53 persen. IPM ini dihitung dari tiga hal dasar, pendidikan, kesehatan dan ekonomi.

Pendidikan dilihat dari Harapan Lama Sekolah (HLS) dan rata-rata lama sekolah (RLS). Kesehatan dilihat dari Usia Harapan Hidup (UHH) dan ekonomi dilihat dari pengeluaran per kapita masyarakat.

Selama dua tahun terakhir, 2018 ke 2019 diperlihatkan UHH Lotim terjadi peningkatan dari 65,33 tahun menjadi 65,74 tahun. HLS siswa di Lotim 13,50 tahun 2018 meningkat menjadi 13,51 tahun. Sedangkan RLS siswa di Lotim ini 6,45 tahun pada tahun 2018 meningkat menjadi 6,69 tahun pada tahun 2019. Sementara pengeluaran per kapitanya rata-raat Rp 9.268 juta pada tahun 2018 meningkat menjadi Rp 9.639 juta tahun 2019.

Posisi progres Lotim ini masih kalah dibandingkan Kabupaten Loteng. Hal ini karena semua daerah sama-sama berlari. Diyakini Saphoan, suatu saat Lotim pasti bisa mengejar kabupaten lain. Hanya saja butuh waktu yang cukup lama. “Posisi pertumbuhan Lotim dua besar, kabupaten lain bisa kita salip,” ucapnya.

Diibaratkan orang berlari, Lotim diyakini larinya selama ini lebih kencang meski kalah kencang dibandingkan Loteng. Loteng masih menang karena infrastruktur dan adanya fasilitas penunjang dalam bidang pendidikan lainnya yang membuat Loteng tercepat di NTB.

Dari tiga indikator yang menjadi penentu IPM, perekonomian dan pendidikan dinilai relatif sama dengan kabupaten lain se NTB. Lotim masih kalah pada indikator kesehatan yang ditunjukkan dari UHH. Penghitungan UHH ini berbanding lurus dengan kematian bayi yang masih cukup tinggi di NTB. Angka kematian bayi ini berkorelasi positif pada UHH.

Fokus Pemerintah Daerah Kabupaten Lotim 2020 pada pengembangan sumber daya manusia disambut positif BPS. Dari sisi kesehatan ini perlu dicambuk lebih kencang agar larinya juga bisa lebih kencang.

Sekda Lotim, H. M. Juaini Taufik mengakui posisi Lotim yang memang masih berada pada urutan nomor buntut kedua. Kalah progresif dari Kabupaten Loteng yang diakui cukup banyak perubahan yang terlihat juga dari adanya intervensi pemerintah pusat dalam pembangunan Kawasan Ekonomi Khsusu (KEK) Mandalika.

Untuk mempercepat lari meningkatkan IPM, tahun2020 Lotim fokus pengembangan SDM, yakni fokus pada pendidikan dan kesehatan. Tahun 2019 lalu fokus pada infrastruktur. Setelah ini, tidak menafikan infrastruktur akan tetapi tetap juga masuk skala prioritas dalam pembangunan Lotim.

Menurut sekda, dimungkinkan star larinya Lotim masih lambat, sehingga hal ini akan coba dikencangkan lagi. Sesuai data BPS, angka kematian bayi yang memang masih tinggi dibanding Loteng. Salah satu upaya nyata yang akan dilakukan, meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan sampai ke seluruh pelosok di Kabupaten Lotim. (rus)