IPM Kota Mataram Menurun

Isa. (Suara NTB/bay)

Mataram (Suara NTB) – Kendati terjadi peningkatan pendapatan pada kelompok masyarakat miskin, namun kelompok masyarakat menengah justru tercatat megalami penurunan pendapatan yang berpengaruh langsung pada indeks pembangunan manusia (IPM) di Kota Mataram. Di mana IPM Kota Mataram tecatat sebesar 78,91 persen pada 2020 sedangkan pada 2019 sebesar 79,10 persen.

Kepala  Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Mataram, Isa, Kamis, 17 Desember 2020 mengatakan, naiknya pendapatan masyarakat miskin lantaran banyaknya jenis bantuan dari pemerintah. “Menurunnya angka kemiskinan ini memang karena banyak masyarakat kita yang menerima bantuan dari pemerintah, tapi di sisi lain masyarakat kita yang tidak miskin ini tidak menerima bantuan. Mereka justru berkurang pendapatannya karena banyak perusahaan yang tutup, dirumahkan, sehingga banyak tenaga kerja kita yang mengaggur,” jelas Isa.

Dengan begitu, daya beli dari kelas pekerja di Mataram diakui menurun secara drastis. “Masyarkat kita yang bekerja di sektor formal ini tidak tergolong miskin, tapi hantaman covid ini berdampak pada sebagian besar masyarakat kita. Karena mereka tidak dapat bantuan, daya beli mereka berkurang drastis dari Rp15 ribu menjadi RP14 ribu rata-rata” ujarnya.

Jika kondisi tersebut terus berlanjut, pihaknya memproyeksikan akan banyak masyarakat kelas menengah yang terjun ke bawah garis kemiskinan. “Karena itu, kita berharap bantuan dari pemerintah bisa dipertahankan sampai tahun depan. Terlebih bisa menyentuh seluruh aspek masyarakat,” ujar Isa.

BPS Kota Mataram mencatat penurunan angka kemiskinan di Mataram hingga Maret 2020. Di mana selama periode Maret 2019 hingga Maret 2020 terlihat adanya penurunan persentase penduduk miskin sebesar 0,45 persen.

“Jadi kurang lebih ada 1.000 orang yang naik kelas. Kita lihat walaupun ada (pandemi) Covid-19 ini yang menghantam seluruh lapisan masyarakat, tapi penduduk miskin bisa sangat terbantu dengan berbagai bantuan yang diberikan baik pemerintah daerah maupun pemerintah pusat,” ujar Isa.

Diterangkan, jumlah penduduk miskin di Kota Mataram pada Maret 2020 tercatat sebanyak 41,8 ribu orang atau sekitar 8,47 persen. Sedangkan pada Maret 2019 jumlah penduduk miskin mencapai 43,19 ribu orang atau sekitar 8,92 persen.

Selama periode tersebut garis kemiskinan di Kota Mataram mengalami kenaikan, yaitu dari Rp480.304 per kapita per bulan pada Maret 2019 menjadi Rp499.959 per kapita per bulan pada Maret 2020. Selain itu untuk indeks kedalaman kemiskinan juga mengalami kenaikan dari 1,55 pada Maret 2019 menjadi 1,86 pada Maret 2020.

“Ini mengindikasikan rata-rata pengeluaran penduduk miskin di Kota Mataram cenderung menjauh dari garis kimiskinan,” ujar Isa. Kemudian untuk indeks keparahan kemiskinan juga mengalami kenaikan dari 0,45 pada Maret 2019 menjadi 0,56 pada Maret 2020 yang menandakan kesenjangan pada penduduk miskin di Kota Mataram semakin meningkat.

Menanggapi hal tersebut, Walikota Mataram, H. Ahyar Abduh, menerangkan pihaknya akan mempertimbangkan untuk memperpanjang penyaluran bantuan jaring pengaman sosial (JPS) di Kota Mataram. “Kita pertimbangkan untuk bisa berhitung sekali lagi di bulan Januari (2012), kita masih lihat kamampuan APBD kita,” ujarnya, Kamis, 17 Desember 2020.

Diakui Ahyar, IPM NTB 2020 memang mengalami penurunan pertama kali sejak 10 tahun terakhir. Di mana dari tiga komponen pengurukan IPM yang ada, komponen ekonomi menjadi penyebab utama penurunan tersebut.

“Kalau bicara IPM kan ada komponen pendidikan, kesehatan, dan ekonomi. Penyeban menurunnya IPM ini karena komponen ekonomi, di mana daya beli masyarakat sangat turun. Selain itu baru kali ini terjadi penurunan APBD, termasuk PAD yang sangat turun,” ujar Ahyar.

Untuk itu, perpanjangan waktu penyaluran bantuan diharapkan pihaknya dapat membantu mendongkrak peningkatan IPM tersebut. Terutama untuk mencegah bertambahnya penduduk miskin di Kota Mataram sebagai dampak pandemi Covid-19. (bay)