Investor Tambang Dompu Lanjutkan Eksplorasi, Konstruksi Pembangunan Smelter AMNT Belum Jelas

Ilustrasi lahan pertambangan. (Gambar oleh István Mihály dari Pixabay)

Mataram (Suara NTB) – Investor yang mendapatkan izin di Dompu, PT. Sumbawa Timur Mining (STM) masih menyusun studi kelayakan atau feasibility study (FS) konstruksi tambang bawah tanah. Sementara itu, konstruksi pembangunan smelter PT. Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT) di Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) masih belum jelas akibat pandemi Covid-19.

‘’Memang eksplorasi (berjalan). Dia (STM) melanjutkan eksplorasinya. Dia sedang susun FS juga. Tapi belum selesai karena dampak Covid-19,’’ terang Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) NTB, Ir. Muhammad Husni, M. Si dikonfirmasi Suara NTB di Kantor Gubernur, Jumat, 11 September 2020.

STM telah melakukan kegiatan eksplorasi di dalam wilayah kontrak karya (KK) Proyek Hu’u sejak tahun 2010. Deposit sumber daya mineral Onto pertama kali ditemukan pada Agustus 2013 dan sejak saat itu sebanyak 64 lubang pemboran, setara dengan 61.000 meter  telah dilakukan untuk menentukan ukuran, luas dan karakteristik sumber daya mineral.

Sementara, terkait dengan perkembangan pembangunan smelter AMNT di KSB, Husni mengatakan pihaknya belum mendapatkan surat mengenai usulan AMNT yang meminta penundaan pembangunan smelter. Termasuk mengenai respons Pemerintah Pusat terkait dengan usulan penundaan pembangunan smelter masih belum ada.

‘’Belum ada itu. Belum tahu kita. Belum ada surat ke kita,’’ ujarnya singkat.

Sebelumnya, Kepala Bappeda NTB, Dr. Ir. H. Amry Rakhman, M. Si mengatakan pihaknya sudah berkoordinasi dengan PT. AMNT terkait dengan pembangunan smelter di KSB. Ia mengatakan, Pemprov masih menunggu perkembangan situasi dan kondisi Covid-19.

Dalam surat yang diajukan PT. AMNT ke Kementerian ESDM, kata Amry, mereka meminta perpanjangan waktu untuk konstruksi smelter. Hal inilah yang dimaknai oleh orang permintaan penundaan pembangunan smelter.

Meskipun AMNT mengajukan perpanjangan masa konstruksi smelter, bisa saja  mereka memulai konstruksi akhir 2020 atau awal 2021. Mengenai kapan AMNT akan memulai proses pembangunan smelter, hal inilah yang sedang dikoordinasikan.

Mantan Asisten II Setda KSB ini menambahkan, kegiatan di lokasi pembangunan smelter  tetap berjalan. Seperti clearing lahan yang menjadi lokasi pembangunan smelter. Termasuk proses pengurusan Hak Guna Bangunan (HGB).

Lahan yang menjadi kawasan inti pembangunan smelter sudah tuntas dibebaskan seluas 154 hektare. Setelah itu, dilanjutkan dengan pengurusan HGB. Total lahan yang dibutuhkan sebagai lokasi pembangunan smelter dan industri turunannya seluas 850 hektare.

Sekitar 430 hektare termasuk di dalamnya lahan yang tuntas dibebaskan seluas 154 hektare dan lahan milik PT. AMNT yang ada sekarang. Sehingga sisa lahan yang masih akan dibebaskan seluas 420 hektare.

Dari lahan seluas 154 hektare yang menjadi kawasan inti smelter, nantinya akan dibagi menjadi 12 blok. HGB diurus oleh PT. AMNT. Pemda melalui tim percepatan dan tim fasilitasi memberikan fasilitasi untuk percepatan.

Sebelumnya, PT. AMNT mengajukan permohonan penundaan pembangunan fasilitas pemurnian mineral (smelter) konsentrat tembaga 12 hingga 18 bulan. Permohonan tersebut dilayangkan secara resmi kepada Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Smelter yang berada di Sumbawa Barat itu terkena dampak pandemi Covid-19. Penundaan itu membuat pembangunan smelter mundur dari target pada akhir 2022.

‘’Betul. Kami memang sudah berkomunikasi dengan kementerian ESDM. Kondisi Covid-19 ini membuat banyak sekali halangan dalam progress smelter,’’ ujar Manager Head of Corporate Comunication PT.AMNT,  Kartika Octaviana kepada Suara NTB, 3 Mei 2020 lalu.

Menurut Vina—sapaan Kartika Octaviana—bahwa ada halangan yang tidak bisa dikontrol sehingga berujung penundaan. “Halangan ini tidak bisa kami kontrol. Karena ini terkait mitra bisnis untuk pembangunan smelter yang berasal dari negara-negara lain,” tulis Vina melalui WhatsApp.(nas)