Investor Segera Bangun Pabrik Pengolahan Sampah Plastik Kapasitas 20 Ton

Manajemen PT. Geo Trash Management (GTM) selaku investor yang akan mengembangkan pabrik skala besar di wilayah TPA Regional Kebon Kongok, Rabu, 1 September 2021 audiensi dengan Wakil Gubernur NTB, Hj.Sitti Rohmi Djalilah di ruang kerjanya. (Suara NTB/ist)

Mataram (Suara NTB) – Setelah membangun pabrik pengolahan sampah plastik menjadi bahan bakar minyak (BBM) jenis solar di Science Technology and Industrial Park (STIPark) Banyumulek kapasitas 1 ton per hari. PT. Geo Trash Management (GTM) selaku investor akan mengembangkan pabrik skala besar di wilayah TPA Regional Kebon Kongok kapasitas 20 ton per hari.

Dengan mengolah sampah plastik sebanyak 20 ton per hari. Maka BBM yang dihasilkan sekitar 12.000 liter. Pasalnya, dalam pengolahan sampah plastik sebanyak 1 ton, menghasilkan BBM solar sekitar 600 liter.

Iklan

“Mereka berencana mau bangun pabrik kapasitas 20 ton per hari. Tahun ini sampai Desember masih feasibility study  secara ekonominya,” kata Kepala Bidang Pengolahan Sampah dan Pengendalian Pencemaran Lingkungan Dinas LHK NTB, Firmansyah, S.Hut., M.Si., dikonfirmasi Suara NTB di Mataram, Rabu, 1 September 2021.

Firman mengatakan, pabrik pengolahan sampah plastik tersebut akan dibangun di sekitar wilayah TPA Regional Kebon Kongok pada lahan seluas satu hektare. Pertimbangannya, keberadaan pabrik semakin dekat dengan bahan baku. Kemudian memastikan keberlanjutan bahan bakun.

“Selanjutnya, ketersediaan lahan juga dari perusahaan sudah memastikan. Di sana mereka sudah punya lahan di luar TPA. Sambil mereka juga terus melakukan penelitian dan pengembangan dengan mitra mereka terkait kualitas BBM yang dihasilkan,” jelasnya.

Untuk pemenuhan bahan baku sampah plastik untuk pabrik yang ada di STIPark Banyumulek, kata Firman, investor tersebut bekerja sama dengan bank sampah. Mereka membeli sampah plastik sebagai bahan baku.

‘’Dalam satu ton sampah plastik menghasilkan BBM sampai 600 liter. Kalau 20 ton, maka 12.000 liter,’’ tambahnya.

Pemasok utama bahan baku sampah plastik yang akan diolah menjadi BBM ini sebenarnya adalah masyarakat melalui bank sampah. TPA Regional Kebon Kongok menjadi salah satu opsi untuk pemenuhan bahan bakunya.

Jumlah sampah yang dibuang ke TPA Regional Kebon Kongok sekitar 300 ton per hari. Dari sampah tersebut, pasti ada sampah plastiknya. Keberadaan pabrik pengolahan sampah plastik ini, lanjut Firman saling mendukung dengan rencana pembangunan pabrik pengolahan sampah organik RDF yang dibantu Bank Dunia.

“Ini skala besar pabrik yang dibangun kapasitasnya 20 ton per hari,” terangnya.

Selain membangun pabrik di sekitar wilayah TPA Regional Kebon Kongok, kata Firman, PT. GTM juga berencana membangun di Gili Trawangan, Lombok Utara. Kemudian Lombok Timur, karena bahan bakunya banyak di sana.

“Di Pulau Sumbawa, mereka sudah ketemu dengan Bupati Bima, Walikota Bima. Arahan Bu Wagub, kalaupun tak besar di masing-masing lokasi. Tapi terpartisi di masing-masing kabupaten. Sehingga semakin dekat dengan sumber bahan bakunya. Tahun 2022, mereka sudah mulai membangun,” jelasnya.

Ditanya sampah plastik yang tertangani di NTB dengan adanya pabrik ini, Firman menyebutkan minimal 8 persen sampah palstik sudah bisa diolah menjadi BBM. Ia mengatakan jumlah sampah di NTB sebanyak 2.600 ton per hari.

Dari jumlah sampah tersebut, sekitar 10 persen atau 260 ton merupakan sampah plastik.  Jika pabrik yang dibangun PT. GTM telah terbangun dan beroperasi, maka 20 ton sampah plastik sudah bisa ditangani. “Berarti sekitar 8 persen sampah plastik bisa ditangani setiap hari di NTB,” tandasnya. (nas)

AdvertisementJasa Pembuatan Website Profesional