Investor Pengolahan Sampah Dinilai Hanya Beri Angin Surga

Mataram (Suara NTB) – Investor asal Korea, HANKI Industrial dan Alchemy Utilities dari Finlandi yang berencana mengelola sampah menjadi biomasa di Kota Mataram, tak ada kabar sejak ekspose awal 2017 lalu. Dua investor yang bakal menanamkan modal hingga ratusan miliar disinyalir hanya memberi angin surga.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Irwan Rahadi memilih berpikir positif terhadap rencana investasi pengolahan sampah tersebut. Sebab, komunikasi tetap jalan dengan investor asal Korea sembari menunggu pembebasan lahan.

Iklan

“Mereka ini istilahnya konsultannya,” kata Irwan pekan kemarin.

Diakui, HANVIT Power Corporation sedang menyelesaikan kajian atau feasibility study. Kepastian kapan studi kelayakan itu selesai dinilai bukan kewenangan Pemkot Mataram. Yang jelas, investor diberikan waktu dua tahun merampungkan kajian itu.

Irwan melihat, dari dua investor itu hanya investor Korea saja yang menyatakan keseriusannya. Mereka telah mengecek lahan yang bakal dijadikan lokasi pengolahan sampah. “Yang Korea ini saja yang serius. Terakhir saya antar mereka mengecek lahan di Kebon Talo,” tambahnya.

Volume sampah dihasilkan masyarakat di Kota Mataram dinilai relevan dengan rencana pengolahan sampah tersebut. Jika itu terealisasi maka Kota Mataram memperoleh keuntungan dengan tidak perlu menyiapkan tempat pembuangan akhir (TPA). Sampah yang diolah akan menjadi biomasa.

“Keuntungan kita tidak perlu ada TPA lagi,” ujarnya.

Terkait investasi yang ditanam, kata Irwan, investor tak menyebutkan secara pasti. Tetapi mereka memiliki konsep untuk mengolah persampahan secara menyeluruh. Rencana awal HANVIT Power Corporation akan mengolah sampah di Mataram menggunakan nama perusahaan HANKI Industrial Co.Ltd. Investor asal Korea tersebut mempresentasikan skenario pengolahan sampah dengan hemat energi.

Demikian pula, investor konsersium dari CPE CELL asal Korea dan Alchemy Utilities dari Finlandia. Skenario pengolahan sampah bisa mencapai 200 ton perhari. (cem)