Investor Keluhkan Ketersediaan Air Bersih dan Jaringan Telekomunikasi

Ilustrasi Air Bersih (suarantb.com/pexels)

Mataram (Suara NTB) – Investor yang membangun sebuah resor mewah di daerah Selong Belanak, Lombok Tengah mengeluhkan minimnya ketersediaan air bersih dan leletnya jaringan telekomunikasi. Mereka berharap Pemda turun tangan menyiapkan infrastruktur dasar yang dibutuhkan oleh para wisatawan tersebut.

Pengelola Selong Selo Resort, Ihsan mengatakan pihaknya menanamkan investasi sebesar 25 juta dolar Amerika untuk membangun resort mewah di sana. Investasi tersebut akan berkesinambungan sampai 100 juta dolar Amerika.

Iklan

‘’Permasalahan di sana, sarana air yang sampai saat ini kami tidak dapatkan. Sehingga dengan resort sebesar itu sampai saat ini masih ditopang pembelian air dari masyarakat yang dibawa menggunakan mobil,’’ keluhnya.

Selain infrastruktur sarana air bersih yang belum tersedia, Ihsan mengatakan jaringan internet juga bermasalah. ‘’Jadi tamu-tamu (wisatawan) agak susah mengakses internet,’’ ujarnya.

Ia menyebut pembangunan resort tersebut mengakomodasi sekitar 600 tenaga kerja. Bahkan, pihaknya juga akan mengembangkan usaha pembangunan hotel ke daerah lainnya di Selong Belanak yang berada di pinggir pantai seluas 3 hektare.

Dengan pembangunan hotel ini diharapkan membuat investor lainnya segera melaksanakan pembangunan. Pasalnya, kata Ihsan, banyak lahan investasi yang belum dibangun di sana.

‘’Karena di Selong Belanak banyak sekali punya tanah. Tetapi tidak melakukan pembangunan. Dengan pembangunan hotel kami di pinggir pantai, akan men-trigger investor lain untuk mengikutinya,’’ harapnya,’’ harapnya.

Terpisah, Sekretaris Dinas PUPR NTB, Ir. H. Ahmadi, SP-1 yang dikonfirmasi Suara NTB mengakui bahwa memang Pemda agak terlambat menyiapkan sumber air baku untuk kebutuhan investasi. Kondisi air bersih di NTB, kata Ahmadi, dalam keadaan kritis.

Artinya potensi air yang ada dibandingkan pemanfaatan hampir seimbang.  Dengan adanya investasi, kebutuhan air bersih terus bertambah. Terlebih, jumlah penduduk NTB juga terus bertambah.

‘’Sekarang ini terasa, kebutuhan air bersih  lebih tinggi daripada persediaan. Makanya terjadilah krisis air. Terutama di kawasan-kawasan selatan Pulau Lombok,  terasa sekali,’’ katanya.

Kekurangan air bersih di kawasan selatan Pulau Lombok bertolak belakang dengan kawasan tersebut yang menjadi pusat investasi dunia. Artinya, kebutuhan air bersih sekarang cukup besar. Sementara, potensi sumber air baku berada di Pulau Lombok bagian utara.

‘’Persoalan kita, jaringan air ke utara belum semuanya terbangun. Kemudian bagian utara ini potensi air hanya cukup diberikan pada masyarakat dan untuk irigasi.  Ketika ada investasi, kebutuhan masih kurang,’’ katanya.

Salah satu solusi jangka panjang yang sedang dilakukan Pemprov NTB adalah membangun SPAM Regional. Namun SPAM Regional butuh biaya dan proses yang panjang. Sehingga solusi jangka pendeknya, kata Ahmadi, apabila ada potensi air tanah, maka investor disarankan membangun sumur bor.

Ia menyebut, potensi air di Pulau Lombok sekitar 5 miliar meter kubik. Namun yang sudah dimanfaatkan baru sekitar 3 miliar meter kubik. Artinya, sekitar 2 miliar meter kubik potensi air di Pulau Lombok terbuang percuma ke laut.

‘’Pulau Lombok ini mendesak penyiapan infrastruktur air bersih, di samping manusianya saja hampir 4 juta jiwa. Ditambah investasi yang luar biasa besarnya,’’ katanya.

Terkait dengan jaringan telekomunikasi yang masih lelet, Kepala Diskominfotik NTB, I Gede Putu Aryadi, S. Sos, MH membenarkan bahwa memang ada 15 desa penyangga KEK Mandalika yang masih lemah sinyal telekomunikasi. Ia mengatakan bulan lalu, DPR RI bersama Bakti Kominfo dan seluruh penyedia telekomunikasi sudah membahas masalah ini.

‘’Itu di sana (daerah penyangga KEK Mandalika)  sinyal lemah. Kita minta dituntaskan menyongsong 2021. Kalau kapasitas di sana tak kuat, sama dengan blank spot nanti. Karena banyak sekali pengguna internet di situ. Kalau kita perkirakan 350 ribu saja orang datang nanti pada saat MotoGP,  menggunakan internet maka akan mati, blank spot,’’ kata Aryadi.

Ia mengatakan, masalah jaringan telekomunikasi yang masih lemah di daerah penyangga KEK Mandalika menjadi atensi Kementerian Kominfo. Secara keseluruhan, kata Aryadi, daerah yang masih blank spot di NTB sebanyak 20 area, paling banyak di Pulau Sumbawa. (nas)