Investor Bangun Hotel, Dishub Minta Warga Tak Reaktif Soal Pelabuhan ‘’Tikus’’

Tanjung (Suara NTB) – Status pelabuhan tikus Kecinan, Desa Malaka, yang dipertahankan warga setempat menimbulkan kesulitan bagi pengembang perhotelan untuk memulai investasi. Menyikapi persoalan itu, Pemda KLU c.q Dinas Perhubungan, Kominfo Kabupaten Lombok Utara (KLU) akan turun tangan.

“Soal Pelabuhan Kecinan, sebenarnya masyarakat tak punya hak menolak akses investor, lahan itu kan sudah dibeli orang. Kita memang akan tutup semua pelabuhan tak resmi, tapi harus pelan-pelan,” kata Kepala Dishubkominfo KLU, Sinar Wugiyarno, SH, Sabtu, 15 Oktober 2016.

Iklan

Ia mengakui, keberadaan pelabuhan ini sudah dimanfaatkan sejak lama oleh masyarakat. Meski tak resmi, namun sarana itu cukup membantu aktivitas masyarakat memenuhi kebutuhan ekonomi hariannya.

Hanya saja, tegasnya, Pemda KLU harus mengambil langkah tegas untuk menutup seluruh pelabuhan tak resmi itu. Sebab jika dibiarkan, dikhawatirkan ke depan akan muncul lebih banyak jalur pelabuhan ilegal di sepanjang pantai Lombok Utara.

“Kita memang mau jadikan satu pelabuhan ini, yaitu di Teluk Nara dan Bangsal saja. Kalau tidak ditutup, bisa repot kita karena sepanjang pinggir pantai jadi pelabuhan. Cuma kita juga harus pahami, masyarakat terganggu penghasilannya akan repot juga,” ujarnya.

Sinar mengakui, manjemen Hotel Santika pernah mengeluhkan penolakan masyarakat untuk menutup pelabuhan itu dengan alasan dibangun hotel. Merespon itu, ia mengisyaratkan perlunya pendekatan ke warga melibatkan tokoh masyarakat, kepala dusun dan kepala desa setempat, sehingga tidak memunculkan reaksi berlebihan dari warga. “Ke pihak hotel juga kita sudah pendekatan, agar warga diberikan tempat aktivitas, tapi bukan untuk pelabuhan. Mungkin tempatnya tidak di sana, tapi di area lain. Mudahan ini disetujui,” harapnya.

Sebagaimana diketahui, warga Dusun Kecinan dan sekitarnya di Desa Malaka, menolak ditutupnya Pelabuhan Kecinan. Diakui salah satu warga Kecinan, Hariadi, warga enggan jika harus memindahkan aktivitas dari Pelabuhan  Kecinan ke pelabuhan resmi. Pasalnya, akses masyarakat ke Pelabuhan resmi Teluk Nara cukup jauh. Jika pelabuhan ini ditutup karena aktivitas investor, maka warga setempat terancam kehilangan mata pencahariannya. (ari)