Investor Abal-abal Marak di Lobar

Giri Menang (Suara NTB) – Badan Penanaman Modal Pelayanan Perizinan Terpadu (BPMP2T) Lombok Barat (Lobar) mengakui persoalan penelantaran lahan daerah wisata begitu pelik di Lobar. Hal ini diduga karena lahan tersebut dikuasai investor abal-abal yang sudan terlanjur memperoleh izin. Investor yang bergerak pada penanaman modal asing (PMA) ini, masuk sebatas memperoleh izin dari pusat, setelah itu mereka hilang tak menggarap lahannya.

Temuan lainnya, lahan ini juga diduga dikuasai oleh oknum aparat berbintang sehingga sulit ditindak tegas. Kepala BPMP2T, H. Ahmad Efendi, SH mengatakan, pihaknya tak banyak berwenang dalam hal penindakan terhadap investor asing ini, sebab perizinannya melalui pusat.

Iklan

“Mereka dapat izin dari pusat, mau bangun ini-itu, sudah keluar izinnya. Setelah dicek tidak ada. Mereka ini investor abal-abal, karena mau membangun tapi mereka hilang,” tegas H. Efendi.

Dijelaskan, yang bisa menindak mereka yakni  pemerintah pusat melalui Badan Penanaman Modal pusat. Dikatakan, hasil pantauannya selama ini di lapangan puluhan investor asing ini telah dilaporkan dan sudah ditindak tegas. Hasil pantauannya dilaporkan rutin ke pusat, lalu atas dasar itulah pusat melakukan tindakan mencabut izin investor terkait. Ia mencatat sejauh ini sebanyak 89 izin prinsip PMA yang telah dicabut karena izinnya tak sesuai perjanjian.

Menurutnya, adanya investor abal- abal sangat berdampak buruk terhadap daerah terutama terhadap dunia investasi di Lobar. Sebab secara tidak langsung, adanya investor abal-abal ini merusak image investasi di daerah. Bahkan lebih buruk lagi merugikan daerah karena lahan yang dikuasai izinnya namun tak digarap, sementara di pihak lain investor lain tak bisa masuk lantaran izin atas lahan tersebut dikuasai investor abal-abal.

Pihaknya sendiri mendorong sebanyak-banyaknya investasi masuk ke Lobar namun demikian perlu selektif karena jangan sampai yang masuk investor “akan”. Seperti pengembangan Teluk Mekaki, Sejauh ini dua kali groundbreaking namun tak ada realisasi. Selain itu, ada investor mau membangun listrik tenaga matahari. Investor terkait bahkan meminta pemda mempersiapkan lahan seluas 50. Pemda pun bersedia menyiapkan lahan di daerah Gunung Sari di dan  Lingsar namun setelah ada kesanggupan investor Cina ini menghilang.

“Sampai-sampai waktu pemaparan, mereka mau tinjau tempat mendirikan, tapi hilang,” jelasnya.

Sama halnya dengan lahan terlantar di daerah Kerandangan Senggigi, selama puluhan tahun lalu tidak dibangun-bangun. Setelah ditelusuri, lahan ini diduga dikuasai oleh oknum aparat berbintang. BPN sendiri tak berani melakukan tindakan tegas. (her)