Investasi Turun, Pertumbuhan Ekonomi NTB di Bawah 5 Persen

Ridwan Syah (Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – Pertumbuhan ekonomi NTB sepanjang 2019 masih berada di bawah 5 persen. Badan Pusat Statistik (BPS) merilis angka pertumbuhan ekonomi NTB sepanjang 2019 dengan tambang sebesar 4,01 persen. Sedangkan angka pertumbuhan ekonomi NTB tanpa tambang mencapai 4,76 persen.

Asisten II Perekonomian dan Pembangunan Setda NTB, Ir. H. Ridwan Syah, MM, M.TP yang dikonfirmasi Suara NTB, Kamis, 6 Februari 2020 kemarin mengatakan, pada 2019, NTB masih dalam tahap recovery pascabencana gempa besar yang melanda tujuh kabupaten/kota sekitar akhir 2018 lalu.

Iklan

‘’Jadi memang pertumbuhan ekonomi itu ada beberapa faktor yang mempengaruhi secara makro. Yaitu  investasi, konsumsi dan ekspor/impor,’’ kata Ridwan.

Ia melihat, pertumbuhan ekonomi NTB yang berada di bawah 5 persen pada 2019 akibat investasi yang tumbuh kecil. Artinya, NTB sebenarnya belum sepenuhnya pulih pascagempa 2018 lalu. Sehingga berpengaruh juga terhadap realisasi investasi. Dari target investasi sebesar Rp16 triliun, kata Ridwan, capaiannya masih di bawah itu.

‘’Investasi kita masih rendah. Kemudian ekspor kita juga belum meningkat. Kalau dari sisi belanja pemerintah, itu stabil. Tetapi memang pertumbuhan ekonomi yang turun tidak hanya di NTB,’’ tuturnya.

Dalam RPJMD NTB 2019-2023, Pemprov menargetkan pertumbuhan ekonomi pada 2019 sebesar 4,5 – 5 persen. Sedangkan target realisasi investasi sebesar Rp16 triliun. Menurut Ridwan, capaian pertumbuhan ekonomi sebesar 4,76 persen tanpa sektor tambang untuk ukuran provinsi yang baru saja selesai dilanda bencana besar gempa bumi, sudah memiliki ketahanan ekonomi yang cukup bagus.

‘’Karena serapan APBD bagus tahun 2019. Begitu juga belanja APBN juga kurang lebih sama. Saya lihat lebih kepada investasi,’’ katanya.

Mantan Kepala Bappeda NTB ini mengatakan, Pemprov terus menggenjot investasi masuk ke NTB agar pertumbuhan ekonomi meningkat. Terutama di sektor pariwisata seperti KEK Mandalika. Begitu juga industrialisasi, sudah mulai masuk ke NTB.

Ia memberikan contoh seperti Bima yang dulunya daerah yang tidak dilirik investor untuk berinvestasi. Karena realisasi investasi di sana hampir nol. Sekarang, sudah mulai ada investor yang mulai membangun pertumbuhan ekonomi baru di wilayah paling timur NTB tersebut.

Ia optimis, realisasi investasi di NTB akan lebih bagus dibandingkan 2019. Pasalnya, mulai tahun ini dijadwalkan dibangun smelter di KSB. Kemudian pembangunan Sirkuit Mandalika dan sejumlah infrastruktur pendukung MotoGP. ‘’Saya pikir akan lebih besar dari 4,01 persen. Akan sesuai target, bisa mencapai 5 persen,’’ katanya.

Sumber pertumbuhan ekonomi tertinggi tahun 2019 adalah sektor konstruksi sebesar 1,25 poin, disusul perdagangan 0,90 poin. Kemudian pertanian 0,36 poin, jasa pendidikan 0,33 poin, jasa pemerintahan 0,19 poin. Industri pengolahan 0,18 poin, pertambangan 0,12 poin dan lainnya 0,68 poin.

Berdasarkan target RPJMD, tahun 2020, Pemprov menargetkan pertumbuhan ekonomi tanpa tambang sebesar 5 – 5,5 persen dengan realisasi investasi sebesar Rp16,8 triliun. Kemudian tahun 2021, pertumbuhan ekonomi NTB ditargetkan sebesar 5,5 – 6 persen dengan realisasi investasi Rp17,64 triliun.

Selanjutnya pada 2022 dan 2023, Pemprov menargetkan pertumbuhan ekonomi NTB masing-masing 6 – 6,5 persen dan 6,5 – 7 persen. Dengan target realisasi investasi Rp18,522 triliun pada 2022 dan Rp19,448 triliun pada 2023. (nas)