Investasi Rumah Mulai Jadi Gaya Hidup Generasi Milenial

Izzat Husein. (Suara NTB/bul)

Mataram (Suara NTB) – Kebutuhan akan rumah sebagai tempat tinggal tidak lagi hanya bagi mereka yang sudah berkeluarga, atau yang sudah menjadi pegawai formal (ASN maupun non ASN). Generasi yang masuk kategori milenial juga tak ingin ketinggalan berinvestasi di sektor properti.

Dalam sebuah literasi, generasi milenial atau kadang juga disebut dengan generasi Y dijabarkan sebagai sekelompok orang yang lahir setelah generasi X, yaitu orang yang lahir pada kisaran tahun 1980- 2000an. Maka ini berarti milenial adalah generasi muda yang berumur 17- 37 pada tahun ini. Generasi milenial memiliki ciri khas tersendiri yaitu, mereka lahir pada saat TV berwarna,handphone juga internet sudah diperkenalkan.

Iklan

“Generasi ini yang sekarang banyak mencari rumah,” kata Dewan Pertimbangan Organisasi (DPO) Real Estate Indonesia (REI) Provinsi NTB, Drs. H. Izzat Husein, MM.

Generasi milenial inilah yang mulai meramaikan permintaan perumahan di sektor properti. Sangat wajar, kata Owner PT. Lombok Royal Properti ini. Harga rumah subsidi saat ini Rp168 juta. Cicilannya di kisaran Rp900 ribu, mentok Rp1 juta perbulan.

Cicilan rumah sebulan senilai ini, kata Izzat, ringan generasi milenial. Karena tidak sedikit yang pendapatannya jauh lebih besar dari cicilan rumah subsidi. Generasi milenial ini bisa jadi pada usia yang sangat muda bukan seorang pegawai, formal dan non formal. Tetapi sudah mampu memproduksi pendapatan bulanan. “Sekarang menjamur bisnis online. Kuliner, fashion atau sejenisnya. Pengusaha-pengusaha muda kita jumlahnya cukup banyak. Semuanya generasi milenial. Kalau hanya sekedar nyicil rumah sebulan, dianggap kecil bagi mereka,” jelas Izzat  dalam rapat terbatas di Kedai KUPI Hotel Santika Mataram, Rabu (26/8) kemarin.

Izzat juga melihat para pelaku usaha eksportir, yang menakhodai usahanya adalah wajah-wajah generasi milenial yang tak kalah jauh lebih lincah dan berfikir maju. Selain itu, jika dihitung-hitung, biaya merokok dalam sebulan, pengeluaran untuk rekreasi, hura-hura, atau nongkrong, jika dikonversi ke setoran bulanan cicilan rumah, masih sangat terjangkau menurutnya.

Karena itu, Izzat mengaku senang dengan tren kekinian generasi milenial yang sudah berpikir lebih maju untuk memiliki tempat tinggal. “Sebagai orang tua, bagus mendorong anak-anaknya memiliki tempat tinggal secara mandiri. berinvestasi di properti, ketimbang membiayainya untuk kepentingan yang manfaatnya sangat kecil. Kalau sudah punya rumah, bisa dijadikan tempat usaha, dan lain sebagainya,” imbuhnya.

Memiliki tempat tinggal juga menjadi ukuran indikator kemiskinan. “Mau naik kendaraan super mewah, kalau belum punya tempat tinggal. Tetap saja dikategorikan miskin, sebaliknya. Karena itu, ini juga penting bagi pemerintah daerah dan seluruh stakeholders untuk mengedukasi lebih masif generasi-generasi milenial ini memiliki tempat tinggal,” imbuhnya.

Angka kekurangan rumah di NTB berdasarkan perhitungan kasarnya sebanyak 40 ribuan unit setiap tahun. Jumlah ini akan terus bertambah. Karena itu, apresiasi juga disampaikannya kepada Bank NTB Syariah kini, sebagai perpanjangan tangan Gubernur dan Wakil Gubernur, serta Bupati dan Walikota. BPD NTB ini kini menjadi leader pembiayaan perumahan subsidi.

“Ini prestasi yang besar, bank daerah kita menjadi bagian bank pembiayaan sektor properti. Ini fasilitas dan kemudahan yang disiapkan daerah, tanpa terkecuali bagi generasi-generasi milenial kita berinvestasi di sektor properti,” demikian Izzat Husein. (bul)