Investasi Kereta Gantung, Warga Berharap Tidak Jadi Penonton

Pertemuan kepala desa dengan Dinas LHK Provinsi NTB soal potensi HHBK dan  wacana kereta gantung. (Suara NTB/ars)

Praya (Suara NTB) – Proyek kereta gantung sedang dalam wacana akan berdiri mulai dari Desa Karang Sidemen, Kecamatan Batukliang Utara, Kabupaten Lombok Tengah. Warga yang tinggal di sekitar gapura kereta gantung harap-harap cemas. Pada prinsipnya menerima kehadiran investor, namun tidak ingin hanya jadi penonton.

Kerisauan itu terungkap dari pertemuan antara pihak Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Provinsi NTB, Balai Tahura Nuraksa, KPH Rinjani Barat dengan delapan perwakilan desa di Kecamatan Batukliang Utara, Rabu, 5 Februari 2020.

Iklan

Sebagaimana diungkapkan Sekdes Tanak Beak, M. Turmuzi,  Pemerintah Provinsi NTB dan Pemkab Lombok Tengah  diminta tidak setengah setengah dengan rencana tersebut. Mereka ingin kepastian, karena wacana yang sama selalu menjadi cerita yang berulang.

‘’Jangan sampai pemerintah pesimis. Sehingga perlu diperjelas  soal posisi kereta gantung ini,’’ kata Sekdes. Ketika investasi ini hadir, ia tidak ingin warganya hanya jadi penonton.

Sementara Kades Karang Mas- Mas, Habiburrahman Yusuf Akbar menanyakan soal ancaman kerusakan ekologi di dalam kawasan hutan lindung, sebagaimana kekhawatiran banyak pihak, termasuk aktivis lingkungan. Ia juga mempertanyakan hal sama, terhadap desa yang tidak masuk dalam tiang pancang titik awal kereta gantung.

‘’Paling tidak harus ada kepastian dari perusahaan, bagaimana komitmennya melibatkan masyarakat sekitar,’’ pintanya.

Mewakili BPD, Rifta mengaku belum mendapat bayangan pasti soal dampak ekonomi terhadap kaum perempuan.  Saat ini di desanya sudah banyak kegiatan ekonomi kreatif di dalam Kelompok Wanita Kreatif (KWT). Kehadiran kereta gantung harus menjamin  keberlangsungan bahkan pengembangan usaha mereka.

Agar tidak jadi penonton, Camat Batukliang Utara, H.L Wiraningsun mengajak masyarakat mempersiapkan diri. ‘’Agar jangan sampai jadi penonton di rumah sendiri,’’ ajak Camat. Harus ada upaya antisipasi limpahan pengunjung. Batukliang  sebagai kawasan dengan komoditi perkebunan dan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) harus memaksimalkan lagi potensi, dimulai dari masing masing desa.

Dia memastikan, ini tidak akan mengganggu ekosistem di dalam kawasan hutan, malah menjadi nilai tambah bagi masyarakat. Komoditi buah buah, desa wisata, geosite, hutan yang masih asri, menjadi daya tarik Batukliang yang harus disinkronkan dengan kehadiran investasi besar tersebut. ‘’Termasuk travel. Ini juga harus kita siapkan. Jangan sampai orang orang luar yang ambil peran ini,’’ jelasnya.

Ada delapan desa di wilayahnya, dengan berbagai potensi yang bisa jadi penyangga kehadiran kereta gantung. Sepeti di Desa Teratak, Desa Mas Mas, Desa Aik Bukak, Desa Seteling, Desa Lantan, Desa Tanak Beak dan terakhir Desa Karang Sidemen  yang jadi titik tiang pancang pertama kereta gantung.

Kepala Bidang Pengelolaan Hutan, Julmansyah, S.Hut, MAP pada kegiatan itu menjelaskan, kehadiran investasi kereta gantung prosesnya masih panjang. Ada beberapa tahapan yang harus dilalui investor sebelum  benar benar memulai membangun, seperti studi kelayakan dan detail engineering design (DED).

‘’Jika dua tahap ini lolos, maka lanjut. Kalau tidak, ya tidak bisa dilanjutkan,’’ tegasnya.

 Pada kesempatan itu, mewakili Pemprov NTB pihaknya ingin mendapat respons langsung dari masyarakat. Beberapa pendapat kepala desa dan utusan desa dicermatinya, sebagian mengkhawatirkan soal kerusakan ekosistem. Sebagian meminta agar pemerintah memperkuat pemberdayaan, perwakilan desa lainnya bahkan menawarkan konsep sinkronisasi wisata desa dengan kereta gantung.

‘’Kalau ini terealisasi, maka ini akan menjadi magnet pariwisata baru. Desa desa harus mempersiapkan ini,’’ jelasnya.

Dalam diskusi dengan tema mengangkat potensi HHBK itu, Julmansyah mengaku kagum dengan Batukliang Utara. Karena di wilayah itu, ada 551 jenis tumbuhan yang terkategori HHBK dengan nilai ekonomis yang tinggi. Dengan alam yang masih natural, konsep wisata desa tetap cocok dengan investasi tersebut.

’Nah, pariwisata ini kan segmen minat khusus. Sekarang bagaimana kita eksisting  antara kereta gantung ini dengan wisata kulinernya, agro wisatanya, geosite di dalamnya,’’ ujar Julmansyah.

Jika potensi ini disiapkan segera oleh pemerintah desa, maka Batukliang akan menjadi penyeimbang pertumbuhan ekonomi di wilayah Utara. Sebab bagian Selatan Lombok tengah sudah lengkap dengan Kawasan ekonomi Khusus (KEK). (ars)