Investasi Global Hub, DMK Proses Calon Tiga Investor

H. Son Diamar

Tanjung (Suara NTB) – Rencana investasi Kota Baru Bandar Kayangan di Kabupaten Lombok Utara terus berproses. Pemegang izin lokasi (inlok), PT. Diamar Mitra Kayangan (DMK), mengklaim telah melakukan komunikasi kerjasama dengan calon pemodal. Di saat bersamaan, DMK dan DPRD sudah bertemu dan membahas luasan areal yang dianggap realistis.

Direktur PT. DMK, Dr. Ir. H. Son Diamar, M.Sc., Rabu, 16 Juni 2021 menerangkan, jika pihaknya sudah menjajaki peluang kerjasam dengan 3 calon investor. Masing-masing perusahaan asal Dubai, Sun Dong asal Korea Selatan dan perusahaan asal Abu Dhabi.

Iklan

“Untuk investasi butuh Rp 45 triliun, tahap awal saja kita perlukan Rp 3,5 triliun,” ujar Son Diamar.

Dijelaskan, pelabuhan Bandar Kayangan Lombok Utara akan didesain dalam sistem port, artinya terdapat pelabuhan dalam pelabuhan.

Untuk membangun Bandar Kayangan, kata Don Diamar, sebenarnya DMK cukup berhubungan dengan perusahaan asal Dubai. Apalagi perusahaan yang digandeng telah berkecimpung dan melayani bisnis di Asia Pasifik. Hanya saja, komunikasi investasi dengan Dubai sedikit kaku.

“Dengan Sun Dong, saya tidak bisa berangkat ke Korea karena swasta tidak diperbolehkan. Tetapi kita dibantu oleh DPR RI untuk ikut berangkat,” sebutnya.

Son Diamar menegaskan, akan mengupayakan dana awal sekitar Rp 3,5 triliun untuk memulai investasi. Untuk itu, ia meminta agar DPRD KLU tetap memasukkan luasan areal potensial Global Hub seluas 7.000 hektar (ha) pada Perda Tata Ruang.

“Usulan dan pembahasan dengan Dubai 500 hektare. Terdiri dari 1.300 hektare kawasan industri, pelabuhan 200 hektare, kilang minyak 500 hektare, pabrik kapal 500 hektare, sentra bisnis distrik, komersil dan apartemen 500 hektare,” sebutnya.

Adanya zona investasi sebagaimana disebutkan, menempatkan Global Hub memenuhi syarat dikatakan sebagai Kota Internasional.

Sebagaimana desain perencanaan yang ditunjukkan di DPRD, Son Diamar menerangkan akan tetap menggunakan areal pantai di 5 desa, yakni Gumantar, Selengen, Salut, Mumbulsari dan Akar-Akar. Tahap awal, kawasan investasi menyempit di wilayah pantai. Selanjutnya, aktivitas akan berkembang ke wilayah daratan secara bertahap.

“10 tahun pertama sepanjang pantai dulu, di 5 desa itu. Wilayah Selatannya, perkiraan 10 tahun setelah operasi baru bisa berkembang,” tambahnya.

Sementara, Wakil Ketua DPRD Lombok Utara, Mariadi, S.Ag., menilai cakupan 7.000 hektare di wilayah 5 desa yang masuk dalam areal Global Hub, cukup luas. Oleh karenanya, ia menawarkan luasan areal yang direvisi menjadi 3.500 hektare.

“Kami bayangkan bagaimana wilayah Batam. Dengan 3.500 hektare wilayah inti, maka wilayah timur lainnya bisa berkembang sebagai penyangga,” kata Mariadi.

Kendati demikian, DPRD pada prinsipnya sependapat untuk mendukung adanya ketentuan pada Raperda Tata Ruang yang menyebutkan kawasan timur sebagai kawasan andalan nasional untuk Global Hub. “Harapan kami, DMK ada titik terang (investasi),” imbuhnya. (ari)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional